obrolankopi

#3 – Arga Baskoro

In Social Culture on November 25, 2008 at 9:18 am

arga

Teman Ngobrol #3:
Arga Baskoro/ 20 th/ Duta Remaja
Jakarta


*****

“Kalau saya tidak yakin akan diri saya untuk bisa memenangkan kontes tersebut, saya tidak akan ikut kompetisi itu, akan membuang waktu, uang dan tenaga.”


Hey Arga, dengar-dengar kamu baru jadi juara Remaja Ceria 2008. Selamat ya!
Thanks ya!

Bisa cerita nggak, itu kontes apa sih sebenarnya?
Kontes itu sebenarnya pencarian duta remaja yang bisa mencerminkan sisi yang lain dari remaja itu sendiri. Disini kita diharapkan bisa menjadi contoh yang baik untuk remaja. Dimana kita harus bisa memenuhi 5 aspek yang ada, yaitu Cerdas, Energik, Responsif, Inovatif, dan Adaptif. Dan kelima aspek itu terangkum dlm kata CERIA itu sendiri.

Oh ok. Terus kontes ini ditujukan untuk remaja dimana saja? Lokal atau Nasional?
Menjangkau remaja se-Indonesia.

Wow.. berarti kamu mengalahkan finalis lain se-Indonesia dong?
Ya begitulah kira-kira.

Finalis dari mana aja yang jadi saingan kamu di final?
Wakil satu putra dari DKI Jakarta, yang putri dari Bangka Belitung. Wakil 2 putra dari Bangka Belitung, putrinya dari Jawa Barat. Harapan 1 putra dari Banten, putri DkI Jakarta. Harapan 2 putra dari sulawesi barat, putrinya dari Sulawesi Utara. Selain memperebutkan 5 besar, kita juga mempunyai 3 kategori lain, yaitu Bintang simpatik Indonesia, yang dimenangkan oleh Putra DKI 8, putrinya saya lupa. Kemudian ada kategori favorit yang dmenangkan oleh putra Jawa Barat 6 dan putri DI Yogyakarta. Serta kategori persahabatan dimenangkan oleh Putra Kal-Tim dan putri Banten 2.

Wah.. hebat juga ya kamu hapal semuanya! Tapi ngomong-ngomong, umur kamu berapa sih? Memang masih termasuk kategori remaja?
Well i’m 20 years old.

Ah.. masa sih? Coba ya, kamu kan seangkatan sama saya, 2004. So you must be.. 22 years old!
Hahaha.. saya masuk TK nya kecepetan. Jadi bisa seangkatan sama kamu

Memang batasan umur kontes Remaja Ceria itu berapa?
Kontestan harus berumur minimal 14 dan maksimal 19 thn (ketika mendaftar).

Oooh… Kamu memang suka mengikuti kontes-kontes seperti itu ya?
Bisa dibilang begitu. Ini tahun kedua saya mengikuti kontes RC itu sendiri. Tahun lalu saya tidak lolos menjadi finalis di Jakarta Timur. Namun tahun ini siapa sangka saya bisa menjadi anugerah di DKI Jakarta dan Anugerah Di Indonesia.

Sebenarnya apa tujuan kamu mengikuti kontes-kontes semacam ini?
Yang jelas, saya ingi cari pengalaman dan teman baru, serta menambah ilmu juga. Tapi yang paling penting adalah saya ingin memenangkan kompetisi itu sendiri.

Kenapa kamu begitu terobsesi untuk bisa memenangkan kompetisi itu? Apa kamu ada niat untuk jadi seleb?
Kalau saya tidak yakin akan diri saya untuk bisa memenangkan kontes tersebut, saya tidak akan ikut kompetisi itu, akan membuang waktu, uang dan tenaga. Just like nike motto, “If you don’t want to be no.1, why you start it!” Dan.. niat jadi artis? Mmm.. mungkin iya. Hanya saja selama masa bakti saya tidak bisa menggunakan ke”duta”an saya sebagai batu loncatan. Dan itu bukan tujuan saya mengikuti kontes tersebut.

Berarti bisa dibilang, kontes-kontes semacam itu lah yang kamu gunakan sebagai batu loncatan untuk terjun ke dunia entertainment?
Tidak juga. Tapi kalau memang itu bisa mempermudah langkah saya, kenapa tidak. Saya ingin dinilai sebagai pekerja seni yang memang mempunya bakat bukan dari orang melihat saya sebagai duta atau sebagainya.

Memang cita-cita kamu sebenarnya mau jadi apa?
Duta besar

Wah, saya seperti bertanya sama anak kecil saja ya?
Kan anda bertanya kepada duta remaja!

Benar juga ya!
Hehehe

Dimulai dari Duta Remaja, lalu pelan-pelan merangkak menjadi Duta Besar.
Amien.

Lalu selain mengikuti kontes-kontes semacam itu, kegiatan kamu sehari-harinya apa?
Saya adalah mahasiswa semester akhir di Trisakti, jurusan Akuntansi.

Mmm.. Akuntansi? Kenapa tidak ambil jurusan HI saja sekalian demi menunjang impianmu sebagai Dubes?
Saya melihat adanya peluang lain. Di dunia kerja saya melihat seseorang itu tidak harus bagus di satu bidang. Kalau saya mau tembus menjadi seorang Dubes, saya harus punya sesuatu yang berbeda dengan kandidat yang lain. Banyak lulusan HI namun hanya itu yang mereka punya. Jika saya menjadi Dubes, saya tidak hanya bisa berbicara sebagai seorang yang hanya bisa mempromosikan indonesia saja. Tapi saya bisa mengerjakan hal lain.

Tugas kamu sebagai Duta Remaja apa saja?
Karena saya juga memenangi kompetisi ini di DKI dan Indonesia saya punya tugas ganda. Pertama, untuk DKI saya bertugas untuk mempopulerkan olahraga, dan juga membantu remaja untuk memaksimalkan potensi diri yang mereka punya. Sedangkan untuk Duta Remaja Indonesia, saya harus mempromosikan salah satu program dari SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu) yaitu mobil pintar, motor pintar, rumah pintar, dan juga diharapkan bisa menjadi tutor dalam ketiga program tersebut.

Apa kamu nantinya akan berkunjun ke daerah-daerah juga demi menjalankan program-program itu?
Saya masih belum tahu, tapi kemungkinan itu ada. Kalau pun tidak, para peserta RC indonesia diharapkan bisa membantu tugas tersebut di daerah masing-masing.

Khusus untuk tugas kamu sebagai duta DKI, ya karena kita berdua tinggal di Jakarta, menurut kamu tantangan terbesar yang dihadapi remaja Jakarta saat ini apa sih?
Ada banyak, yang pertama adalah narkoba, yang kedua adalah penyimpangan sex, seperti gay, dll. Itu adalah pengamatan saya. Narkoba memang sudah menjadi musuh besar dari dulu.

Bagaimana soal pendidikan?
Untuk pendidikan, DKI sudah cukup baik.

Mungkin dari kurikulumnya memang lebih baik dibandingkan daerah-daerah lain. Tapi bagaimana dengan kebiasaan tawuran atau kultur gank dan premanisme yang kembali marak kita lihat di sekolah-sekolah?
Dari segi kurikulum sebenarnya kita punya kurikulum yang sama, hanya saja SDM pengajarnya yang berbeda. Kalau menurut saya itu adalah kesalahan guru dari sekolah tersebut. Ketidakmampuannya menjaga anak didik merupakan kesalahan guru itu sendiri.

Jadi menurut kamu, keliaran dan kebringasan anak murid sepenuhya tanggung jawab dan salah guru-guru itu sendiri?
Tidak sepenuhnya

Lalu bagaimana kamu melihat fenomena tersebut?
Dunia selalu berputar, kita seperti kembali ke jaman 1990-an dimana tawuran marak. Namun hal itu bisa berhenti. Ketika para guru merasa telah berhasil menangani hal tersebut, mereka terlena sehingga pengawasan terhadap muridnya berkurang.

Lalu apa usul atau solusi yang bisa kamu berikan sebagai Duta Remaja untuk mengurangi kultur premanisme para pelajar di Jakarta?
Pendekatan guru terhadap muridnya. Murid itu harus selalu diawasi. Jadikan murid itu teman.

Misalnya dengan cara apa kamu mensosialisasikan ‘usul’ kamu tersebut? Karena sepertinya kultur yang ada pada pelajar tersebut sudah turun temurun. Misalnya perploncoan yang dilakukan oleh senior kepada juniornya. Ketika juniornya habis diplonco oleh senior, saat itu juga mereka ‘dendam’ akan berlaku sama ketika mereka sudah menjadi senior nanti.

Saya melihat perpeloncoan itu tidak selamanya negatif. Ketika saya SMU, ada yang namanya TO (Trip Observasi) dan LDKS. Disitu kita di plonco habis-habisan, disuruh lari, push up, they yelled at us! Tapi kita sebagai junior tidak ada dendam. Seharusnya tiap sekolah punya kegiatan seperti itu.

Semua sekolah menerapkan perploncoan yang sehat seperti yang kamu bilang tadi. Mungkin istilah plonco ini sudah lama ditinggalkan ya. Yang sekarang sering dipakai sekarang adalah orientasi sekolah. Tapi ya tetap saja di beberapa sekolah terkenal, aksi senioritas tersebut tetap berlangsung.

Nggak bisa dipungkiri. Di SMU saya dulu, Labschool pun juga pernah terjadi. Pasti ada alasan akan kenapa hal itu bisa terjadi. Mungkin juniornya yang kurang bersahabat. Tapi hal itu tidak terjadi lagi ketika tahun berikutnya. Si junior yang menjadi senior itu menyadari memang dia salah. Dan dia melihat hal itu tidak ada gunanya.

Ok, bagaimana dengan program-program lain yang akan kamu jalankan? Apakah kamu punya program sendiri sebagai Duta Remaja, selain yang memang sudah ditetapkan?
Sejauh ini saya akan fokus pada kuliah saya dulu.

Mulai kapan kamu akan bertugas kalau begitu?
Saya akan mengerjakan tugas saya saja. Saya sudah bertugas mulai hari ini, hanya saja jadwal tugas saya masih belum dikirim.

Jadi bagaimana waktu pelaksanaan tugas kamu sebenarnya?
Untungnya saya adalah mahasiswa smester akhir jadi tidak terlalu menggangu jadwal kuliah. Dan ya memang waktu tugas saya di luar waktu kuliah. Karena kami adalah duta pendidikan makanya tugas yang diberikan selalu diluar jadwal belajar kami.

Jadi rencana kamu ke depan apa nih, setelah kamu lulus kuliah dan tugas sebagai Duta Remaja juga selesai?
Saya akan meneruskan kuliah S2, dan saya ingin mempunyai rumah pintar.

Penerus first lady-nya Indonesia dong!
Amien

Ceritakan konsep Rumah Pintar yang menjadi impian kamu itu.
Rumah pintar itu akan seperti rumah singgah, dimana anak-anak kurang mampu bisa mendapatkan pendidikan nonformal untuk menyimbangkan pendidikan formal yang telah dia dapat. Karena untuk survive di Jakarta tidak hanya harus pintar, tapi harus mempunyai skill yang berbeda dengan yang lain.

Bagaimana dengan mereka yang sama sekali belum pernah mendapatkan pendidikan formal?
Pemerintah DKI telah menyediakan SD gratis, dan SMP serta SMU terbuka yang dtujukan untuk mereka yang kurang mampu. Seharusnya permasalahan biaya bukan lah sesuatu yang dpermasalahkan lagi. Tapi yang jadi masalah adalah niat dari orangtua dan anak itu sendiri, apakah mau bersekolah atau tidak.

Kamu yakin? Sampai sekarang pendidikan gratis sepertinya masih sebatas wacana dan janji.
Saya rasa itu tidak benar. Saudara-saudara saya banyak yang bersekolah disekolah gratis tersebut.

Tapi kenapa masih banyak yang mengeluhkan tentang tidak adanya pendidikan gratis? Dan apakah kamu juga menangani masalah anak jalanan?
Apakah permasalahan itu berkaitan dengan pendidikan?

Pastinya! Harusnya seumuran mereka sedang berada di sekolah dan mengenyam pendidikan, bukan berkeliaran di jalan dan dijadikan pekerja oleh para orangtua atau ‘boss’ jalanan.
Memang seharusnya tidak seperti itu. Tapi mereka pun tidak lupa bersekolah, mungkin mereka bekerja setelah sekolah. Melihat hal itu saya sangat ingin membuat rumah pintar. Karena saya menginginkan mereka bekerja lebih layak. Saya berharap dengan adanya rumah pintar, mereka akan diajarkan untuk bisa menciptakan sesuatu yang bisa dijual. Namun tidak di pinggir jalan.

Ya saya harap tugas kamu sebagai Duta Remaja nanti tidak melupakan eksistensi anak jalanan yang masih perlu mendapatkan pendidikan dan pelatihan.
Insya Allah, doakan saja.

Mmm..sekarang beralih ke kehidupan pribadi. Apa kegiatan kamu di waktu senggang?
Kegiatan saya di waktu senggang adalah baca buku, jalan-jalan, MSN-an dan YM-an.

Seperti remaja kebanyakan.
Yup.

Lalu bagaimana kamu melihat diri kamu 5 tahun mendatang?
Saya akan menikah, bekerja di luar negri, sukses, hidup mapan, dan bahagia.

Amin..
Ya, amien..

Memangnya sudah punya calon istri sekarang?
Alhamdulillah jomblo. Hahaha.. Tapi ada yang sedang saya dekati. Doakan saja, semoga hasilnya sesukses di kontes.

Ooh.. ok. Memang bagaimana tipe perempuan idaman kamu?
Baik, seiman, dan rambut panjang.

Rambut panjang? Apakah kamu penganut perempuan itu sebaiknya berambut panjang?
Begitulah.

Waahh.. sebagai perempuat berambut pendek saya tidak sependapat nih sama kamu! So you’d better give me a GOOD reason! Hahaha
Alasannya sederhana. Saya suka rambut perempuan panjang karena bisa dibelai. Cuma itu aja kok alasannya.

Cuma itu?
Iya.

Atau kamu juga menganggap kalau perempuan berambut panjang itu lebih cantik? Ya, seperti di iklan-iklan. Perempuan itu cantik kalau tinggi, langsing, rambut panjang, dan berkulit putih.
Tidak juga. Cantik itu relatif. Wulan guritno berambut pendek, tapi dia cantik.

Jadi definisi cantik menurut seorang Arga Baskoro itu seperti apa?
Cantik itu harus punya attitude yang baik.

Seperti apa attitude yang baik itu?
Punya manner yang baik.

Mmm.. saya masih kurang jelas. Apa ini berarti, seorang perempuan itu harus seperti kultur jawa yang kemayu dan lemah lembut?
Apakah ukuran manner yang baik itu selalu dikaitkan di kultur Jawa? Saya rasa tidak juga.

Hahaha.. Ya memang tidak. Tapi siapa tahu kamu penganut paham itu. Bahwa perempuan sebaiknya bersikap layaknya seperti Putri Keraton. Sesuai dengan stigma perempuan jawa yang lemah lembut.
Oh kalau itu sih nggak juga kok. Oh, i’ve got to go. Mau masak makan malam dulu. Maklum, nggak ada ‘bedinde’ nih. Hehehe

Oh ok kalau begitu. Sekali lagi, selamat ya!
Terimakasih.

Selamat masak!
Ok.. Bye!

******

Info lebih lanjut seputar Arga Baskoro:
Facebook
Friendster

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: