<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Obrolan Kopi</title>
	<atom:link href="http://obrolankopi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://obrolankopi.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 03:42:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='obrolankopi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Obrolan Kopi</title>
		<link>http://obrolankopi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://obrolankopi.wordpress.com/osd.xml" title="Obrolan Kopi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://obrolankopi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hari-hari Mbecak Pak Harry</title>
		<link>http://obrolankopi.wordpress.com/2011/03/30/hari-hari-mbecak-pak-harry/</link>
		<comments>http://obrolankopi.wordpress.com/2011/03/30/hari-hari-mbecak-pak-harry/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 09:24:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>obrolankopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Harry van Yogya]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolankopi.wordpress.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; Teman Ngobrol #8: Harry van Yogya / 43 th/ Tukang Becak Yogyakarta &#160; ***** Awal tahun lalu saya mendengar berita tentang seorang tukang becak di Yogyakarta yang menawarkan jasanya lewat Facebook. Harry van Yogya. Begitu nama yang tertulis di profil Facebook miliknya. Selain berpromosi jasa becak, ia juga membantu para turis—baik lokal maupun luar—yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=184&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_2009.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-188" title="pak harry" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_2009.jpg?w=604" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Teman Ngobrol #8</strong><strong>:</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Harry van Yogya / 43 th/ Tukang Becak</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong><strong>Yogyakarta</strong></p>
<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>*****</strong></p>
<p>Awal tahun lalu saya mendengar berita tentang seorang tukang becak di Yogyakarta yang menawarkan jasanya lewat Facebook. Harry van Yogya. Begitu nama yang tertulis di profil Facebook miliknya. Selain berpromosi jasa becak, ia juga membantu para turis—baik lokal maupun luar—yang ingin berlibur ke Yogya. Mulai dari reservasi penginapan, hingga mengunjungi destinasi-destinasi wisata favorit di sana. Dalam waktu singkat, ia menjadi buah bibir para turis, baik lokal maupun luar. Tak hanya itu, banyak pula media yang berebut ingin mengulas profil dirinya.</p>
<p><span id="more-184"></span></p>
<p>Berangkat dari rasa penasaran tersebut, saya berdua rekan menyambangi Yogyakarta pada Februari 2010. Seminggu sebelum keberangkatan, saya menghubungi Pak Harry via Facebook. Saya bercerita tentang tujuan saya menemuinya, selain itu, meminta bantuannya untuk reservasi penginapan selama saya di Yogya. Ia merespon dengan baik. Beberapa hari setelahnya ia mengabari di mana saya akan menginap nanti, bahkan uang mukanya juga sudah ia bayarkan terlebih dahulu. Singkat kata, kami bertemu di penginapan saya yang terletak di Jalan Prawirotaman 2. Setelah sempat berbincang-bincang sebentar, kami memutuskan untuk melanjutkan obrolan di kafe Via Via yang berada di gang sebelah, yakni Jalan Prawirotaman. Di tempat itulah ia bercerita panjang lebar. Tak hanya soal hari-harinya sebagai tukang becak, persahabatannya dengan turis Belanda, hingga bagaimana ia kehilangan istri yang sangat ia cintai saat gempa bumi melanda bumi Yogyakarta pada Mei 2006.</p>
<p>Berikut penuturannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tentang <em>mbecak</em> dan media sosial</strong></p>
<p>Saya ini angkatan ’88, lulusan SMA De Britto, Yogyakarta. Seangkatan sama Pius Yustrilanang. Sempat <em>nerusin </em>kuliah di Sanata Dharma, jurusan Matematika. Tapi ya cuma dua semester.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya tukang becak dan biasa mangkal di depan Hotel Airlangga, Jalan Prawirotaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bulan-bulan awal <em>narik</em> becak, pernah <em>ngguling </em>waktu angkut penumpang bule karena saya nggak bisa menghindari truk waktu itu. Untungnya dia nggak marah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tukang becak di sini (Yogya –red) rata-rata bisa bahasa Inggris. Tapi kalau <em>digrendengin </em>(diomelin) bule ya nggak ngerti juga! Hahaha.. Makanya ada bule yang lebih suka cegat becak di jalan. Mereka cari yang nggak ngerti bahasa Inggris.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain bahasa Indonesia dan Jawa, saya bisa bahasa Inggris dan Belanda. Meskipun cuma komunikasi standar, tapi saya bisa. Saya suka cari terjemahan bahasa di Google translate.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Becak di Yogya itu beda-beda. Lain orang, lain harga yang dikasih. Harusnya para tukang becak bisa konsekuen. Misalnya, kalau turis belanja banyak, dibayar lebih rendah ya nggak apa-apa. Kan hitung-hitung bantu perekonomian lokal. Kalau mereka nggak belanja, baru minta harga normal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perbedaan turis lokal sama asing menurut saya, turis lokal suka ngaret, rencana berubah-ubah, dan jarang kasih tip. Kalau turis asing lebih tepat waktu dan biasanya rencana yang dimiliki sudah pasti. Selain itu lebih sering kasih tip.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya punya (akun) Facebook, Friendster, Twitter, dan Kaskus, tapi yang aktif cuma Facebook.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya terinspirasi oleh Obama, yang menang pemilu yang aktif berkampaye di Facebook. Saya malas dengan Friendster dan Twitter karena orang-orangnya <em>nggak</em> jelas. Nama saya di Facebook “Harry van Yogya”, kalau di Kaskus “Harry Saru”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lucunya, banyak orang yang baru kenal di internet minta dicarikan hotel dan berani langsung transfer uang! <em>Lha</em> kalau saya jahat bagaimana? Makanya saya harus menjaga kepercayaan orang-orang. Sekali khilaf, selesai sudah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Banyak yang kirim <em>message</em> di Facebook, tapi saya balas yang benar-benar <em>urgent</em>. Kalau cuma kenalan atau basa-basi, nggak bisa saya saya tanggapi semua. Kalau di Kaskus saya aktif di forum yang membahas tentang <em>chatting</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya royal dengan pulsa HP dan rokok. Kasarnya, nggak makan ya nggak apa-apa deh!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tentang keluarga dan cita-cita</strong></p>
<p>Gempa 27 Mei 2006 lalu memisahkan saya dengan istri. Saya sempat <em>shock</em> dan menyalahkan diri sendiri. Tapi karena Agnes, anak perempuan saya yang waktu itu berumur 5 bulan, selamat, saya punya semangat hidup lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya ayah beranak tiga: Lucky (13 tahun), Kevin (12 tahun), dan Agnes (4 tahun). Kalau saya lagi <em>mbecak</em>, mereka dijaga kakeknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Banyak yang tanya kenapa saya nggak jadi <em>tour</em> <em>guide</em> aja. Alasannya banyak: kendala bahasa, terlalu banyak yang dikerjakan, harus menguasai banyak hal, dan faktor <em>single</em> <em>parent</em>. Saya nggak bisa tinggalin anak-anak terus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dulu pernah coba ternak bebek, tapi ikut hancur karena gempa. Terus dikasih modal sama orang Belanda 20 juta untuk usaha bebek lagi. Tapi kondisi waktu itu nggak mendukung. Setelah gempa, cari pakan bebek susah sekali. Kalaupun ada, harganya mahal. Padahal kan bebek harus rutin diaksih makan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumah yang saya tinggali sekarang, merupakan hasil bantuan dari teman, warga negara Belanda yang tinggal di Inggris. Setiap bulan saya dikirimi 5 juta. Tapi sampai sekarang pembangunannya belum beres juga. Meskipun total sudah sekitar 60 juta yang dikirim, tapi karena diangsur tiap bulan, jadinya ya lama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tentang hobi dan cita-cita</strong></p>
<p>Saya suka menulis tentang kehidupan. Isinya ya apa saja, biasanya tentang pengalaman pribadi saya. Bisa juga tentang cerita teman-teman tukang becak. Ya apapun lah yang ada di sekitar. Saya tahu diri, masa tukang becak <em>ngomongin</em> politik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya tertarik sama hal-hal unik. Dulu pernah foto bule yang tidur di boks ATM karena hotel-hotel sudah penuh. Saya kirim ke majalah, dan sempat dimuat! Tapi sayang sekarang fotonya sudah hilang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi terkenal begini karena dulu awalnya saya <em>nulis </em>di blog Kompas. Momennya pas, lagi <em>booming</em> efek negatif Facebook. Setelah itu, banyak media yang mulai meliput saya. Kalau dari TV, kecuali Indosiar, TPI, dan Global tv. Media lokal dan sendiri belum ada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dulu teman-teman De Britto sempat berencana ingin bikin buku tentang saya. Tapi waktu momennya nggak pas. Siapa saya? Untuk apa saya diekspos? Kalau sekarang, orang-orang banyak yang kenal dengan saya. Tapi <em>nggak</em> tau deh, <em>nggak</em> ada obrolan lagi tentang buku itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gara-gara “terkenal”, saya malah jarang narik becak lagi. Banyak orang minta bantuan (wisata -red) melalui Facebook. Dari situlah saya dapat tambahan penghasilan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Kepingin</em> juga cari kerjaan lain, misalnya ternak lele atau ayam kampung. Yang penting bisa <em>survive</em>. Pernah juga ditawari bikin penginapan dengan suasana desa. Jadi ceritanya paket wisata<em> all in one</em>, ada fasilitas tur ke desa-desa dan tempat rekreasi juga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya malas kerja jadi bawahan yang disuruh-suruh terus. Menurut saya, tukang becak adalah pekerjaan yang paling merdeka. Saya bisa bebas kerja dan istirahat kapan pun saya mau. Gak ada jam khusus kapan harus <em>narik</em> (becak) dan pulang.</p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_1976.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-194" title="DSC_1976" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_1976.jpg?w=150&#038;h=99" alt="" width="150" height="99" /></a> <a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_19811.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-193" title="DSC_1981" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_19811.jpg?w=150&#038;h=99" alt="" width="150" height="99" /></a> <a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_1983.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-191" title="DSC_1983" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_1983.jpg?w=150&#038;h=99" alt="" width="150" height="99" /></a> <a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_1985.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-192" title="DSC_1985" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_1985.jpg?w=150&#038;h=99" alt="" width="150" height="99" /></a></p>
<p><em><span style="color:#000000;">(</span></em><span style="color:#000000;">Foto: </span><span style="color:#000000;"><a href="http://facebook.com/dadyka">Eddo Dadyka</a></span><span style="color:#000000;">)</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">&#8230;</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;"><br />
</span></p>
<p>Pak Harry dapat dihubungi di:</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=848694905">Facebook</a></p>
<p><span style="color:#ffffff;">&#8230;</span></p>
<p><em>*Catatan penulis</em></p>
<p><em>Hasil obrolan ini sebelumnya pernah dipublikasikan di situs <a href="http://dulalip.blogspot.com/2010/11/hari-hari-mbecak-pak-harry.html">Dulalip</a> dengan judul yang sama. Obrolan Kopi kali ini menampilkan tulisan yang telah melalui proses penyuntingan ulang.</em><em> </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Kini Pak Harry masih bekerja sebagai tukang becak sambil aktif membantu para turis yang ingin berwisata ke Yogyakarta. Jika tak ada aral melintang, bukunya yang berjudul &#8220;The Becak Way&#8221; akan terbit pada pertengahan April tahun ini. Walikota Yogyakarta, H. Herry Zudianto, dan pakar telematika, Onno W. Purbo, didaulat untuk memberikan kata pengantar dalam buku ini.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>Ia sempat menuliskan status tentang mengurus laporan pajak di akun Facebook-nya yang sempat memancing banyak komentar. Meski hanya berprofesi sebagai tukang becak, ia sadar kewajibannya sebagai warga negara yang baik adalah membayar pajak. Baca juga tulisannya yang berjudul <a href="http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/03/31/sadar-pajak/#comments">&#8220;Sadar Pajak&#8221;</a> di blog Kompasiana.<br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolankopi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolankopi.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolankopi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolankopi.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/obrolankopi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/obrolankopi.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/obrolankopi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/obrolankopi.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolankopi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolankopi.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolankopi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolankopi.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolankopi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolankopi.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=184&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolankopi.wordpress.com/2011/03/30/hari-hari-mbecak-pak-harry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bcd13f4cf3e80dd4d796813d35546ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">obrolankopi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_2009.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pak harry</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_1976.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_1976</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_19811.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_1981</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_1983.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_1983</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/dsc_1985.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_1985</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yasin: Berteman Cat dan Berkawan Kanvas.</title>
		<link>http://obrolankopi.wordpress.com/2011/03/14/yasin-berteman-cat-dan-berkawan-kanvas/</link>
		<comments>http://obrolankopi.wordpress.com/2011/03/14/yasin-berteman-cat-dan-berkawan-kanvas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 13:11:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>obrolankopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Creative]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Art]]></category>
		<category><![CDATA[Cineplex 21]]></category>
		<category><![CDATA[bea impor film]]></category>
		<category><![CDATA[Yasin]]></category>
		<category><![CDATA[pelukis spanduk film]]></category>
		<category><![CDATA[Gondangdia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolankopi.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Teman Ngobrol #7: Yasin/ 50-an th/ Pelukis spanduk film bioskop Jakarta &#160; ***** Awalnya saya janji bertemu dengan Pak Tirta, juragan spanduk film bioskop, di studionya di daerah Gondangdia, Jakarta Pusat. Namun setiba saya di lokasi, ia tiba-tiba membatalkan janji tanpa sebab yang jelas. Di rumah yang sangat sederhana tersebut, hanya ada seorang pelukis, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=172&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/photo-3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-176" title="Pak Yasin" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/photo-3.jpg?w=604" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Teman Ngobrol #7</strong></span><strong>:</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Yasin/ 50-an th/ Pelukis spanduk film bioskop</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong><strong>Jakarta</strong></p>
<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>*****</strong></p>
<p>Awalnya saya janji bertemu dengan Pak Tirta, juragan spanduk film bioskop, di studionya di daerah Gondangdia, Jakarta Pusat. Namun setiba saya di lokasi, ia tiba-tiba membatalkan janji tanpa sebab yang jelas. Di rumah yang sangat sederhana tersebut, hanya ada seorang pelukis, dan seorang lainnya yang sedang asyik menonton televisi. Daripada pulang dengan tangan hampa, saya putar memutuskan untuk mengobrol saja dengan sang pelukis, yakni Pak Yasin.</p>
<p>Awalnya ia menolak untuk saya wawancara, <em>&#8220;Buang-buang waktu saya saja!&#8221;</em> Ia sudah malas diliput, karena menurutnya percuma. <em>&#8220;Diliput sana-sini tapi kehidupan saya nggak berkembang,&#8221; </em>begitu katanya dengan ketus. Ia bahkan sempat sedikit &#8220;marah&#8221; karena merasa kerjanya terganggu. Saat itu ia memang sedang menyelesaikan spanduk film <em>Burried, </em>film menegangkan  yang dibintangi oleh Ryan Reynolds. Karena mati gaya, saya hanya memperhatikan tangan rentanya memulas cat pada kain. Perlahan demi perlahan.<span id="more-172"></span></p>
<p>Di sela-sela ia bekerja, saya melontarkan pertanyaan tanpa terkesan sedang mewawancara. Syukurnya, ia sudi menjawab. Begitu seterusnya setiap beberapa menit sekali, hingga akhirnya obrolan kami berjalan dengan lancar selama hampir satu jam penuh. Sambil terus menyelesaikan spanduk filmnya  agar tampak sempurna, dengan logat Betawi kental, pria paruh baya ini membagi pengalaman, keluhan, serta harapannya pada profesi yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bapak sudah berapa lama bikin spanduk film kayak begini?</strong></p>
<p>Dari tahun 90-an, jadi sekitar 20 tahunan lah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Di Jakarta sendiri ada berapa banyak kelompok pelukis <em>sih</em>, Pak?</strong></p>
<p>Dulu ada puluhan studio, soalnya orderan masih ramai! <em>Digital print</em> juga belum banyak. Kasarnya, dulu kami masuh bisa hampir setiap Minggu beli emas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dari setiap satu judul film, harus bikin berapa poster?</strong></p>
<p>Tergantung ukuran. Kalau saya biasa bikin poster yang berukuran 2&#215;4 m dan 4&#215;4 m. Masing-masing satu. Ada lagi yang lebih besar, yang kayak dipajang di Metropol atau Megaria.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Untuk mengerjakan satu judul film, perlu berapa orang pelukis?</strong></p>
<p>Ada tiga orang. Tukang gambar dua orang, termasuk saya, lalu sama yang bikin <em>letter</em>. Ordernya juga sedikit jadi buat apa banyak-banyak orang?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Memang orderan datang setiap berapa lama sekali?</strong></p>
<p>Setiap minggu sudah pasti ada satu. Cuma kadang-kadang telat. Jadinya nggak pasti sebulan itu ada berapa. Soalnya kan peredarannya bergilir. Apalagi kalau masuk film Mandarin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dari bioskop apa saja</strong>?</p>
<p>Lebih banyak Cineplex 21, soalnya kalau Blitz lebih terbatas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Waktu mulai gambar, pakai spidol dulu atau bagaimana?</strong></p>
<p>Saya langsung gambar pakai kuas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Wah, nggak susah tuh, Pak? Kalau salah kan repot.</strong></p>
<p>Biasanya contoh poster yang dikasih, saya gambar skema kotak-kotak dulu.  Ukurannya 5-10cm. Jadi saya punya &#8220;pegangan&#8221; perbandingan ukuran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kalau kain yang dipakai jenis apa?</strong></p>
<p>Kain belacu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Belinya di mana?</strong></p>
<p>Tanah Abang. Rata-rata yang buat poster film, pada beli di sana semua.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pakai cat apa pak, keliahatannya cepat kering?</strong></p>
<p>Oh.. ini pakai cat air. Dulu sih pakai cat minyak, tapi lama banget keringnya! Akhirnya diganti cat tembok.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kalau kena hujan nggak luntur?</strong></p>
<p>Nggak kok, nggak rontok. Aman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Rata-rata habis berapa kaleng cat untuk satu judul film?</strong></p>
<p>Waduh <em>kite </em>belum pernah <em>ngukur</em> jumlah cat! Saya <em>mah</em> kerja saja tahunya. Coba tanya Pak Tirta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Satu poster bisa selesai dalam berapa hari?</strong></p>
<p>Tergantung mbak, nggak tentu. Kadang-kadang sehari bisa jadi dua poster, tapi bisa juga sehari cuma jadi satu poster.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Oh.. tergantung susah atau nggak-nya ya?</strong></p>
<p>Bukan. Kalau bagi saya sih nggak ada yang susah, sama saja. Tergantung banyak atau nggak-nya gambar. Misalnya poster film ini (Pak Yasin sedang mengerjakan poster film Burried -red), gambarnya sedikit. Saya bisa selesai dalam waktu setengah hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Dulu bisa <em>ngerjain</em> spanduk film, bagaimana ceritanya?</strong></p>
<p>Ikut-ikut teman saja. Ngak belajar di mana-mana. Awalnya saya <em>nggak</em> langsung gambar, tapi bertahap. Pertama bikin <em>background</em>,<em>nge</em>-<em>letter </em>(membuat teks -red), lalu baru bikin gambar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Oh ada bagian-bagiannya?</strong></p>
<p>Ya ada. Tukang <em>background</em> sama kayak yang bikin <em>letter</em>. Kalau saya gambar <em>doang</em>. Tapi yah.. sekarang orang lebih banyak pakai <em>digital</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tapi kan <em>digital print </em>mahal pak.</strong></p>
<p>Siapa bilang <em>digital</em> mahal? Murah! Bedanya nggak jauh. Cuma sekitar Rp 100.000,-.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Masa? Memang berapa harganya?</strong></p>
<p>Pak Tirta yang tahu. Dulu memang bedanya bisa sampai Rp 400.000,- antara poster manual dan <em>digital</em>. Kalau sekarang bedanya nggak jauh. Ya orang-orang pada lari ke <em>digital</em>! Lebih cepat, tinggal <em>ditemplokin</em> doang. Udah pasti persis hasil akhirnya. Apalagi kalau bintangnya top.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pernah dikomplain gara-gara nggak mirip?</strong></p>
<p>Ya pernah, karena nggak mirip terus spanduknya dipulangin lagi untuk diubah jadi lebih mirip. Kan habis kita kirim, langsung dicek dulu sama mereka. Kalau nggak mirip dipulangin. Pernah juga salah huruf. Dipulangin, dan disuruh betulin lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Yang mengecek orang Cineplex 21, pak?</strong></p>
<p>Oh<em> iye</em>.. Mereka yang punya <em>order</em>. Mereka yang punya wewenang. Apalagi kalau (film) yang mainnya bintang-bintang top, mereka <em>bener-bener </em>mem<em>p</em>erhatikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sebelum <em>digital</em> masuk, tahun berapa masa-masa kejayaan spanduk film?</strong></p>
<p>Hmm.. sekitar tahun &#8217;80 s/d  &#8217;90-an.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Terus mulai merosot sekitar tahun berapa?</strong></p>
<p>Yaa.. semenjak film nasional juga turun. Lalu film mandarin juga ikut turun. Kalau film barat tergolong stabil. Nah, sekarang film nasional mulai bangkit lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Antara harga poster film nasional dan barat, mana yang lebih mahal?</strong></p>
<p>Kalau poster film barat, monoton. Harganya ya <em>segitu-segitu</em> saja. Kalau poster film lokal masih bisa nego. Apalagi sekarang banyak perusahaan film yang baru. Kita masih bisa minta naik harganya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bapak masih terima tawaran di luar melukis spanduk film? Misalnya lukis foto atau yang lain.</strong></p>
<p>Ya bisa saja. Saya kadang-kadang terima orderan lukis foto, tapi nggak sering.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pernah dapat tawaran gambar tembok jalan? Biasanya kan suka digambari pesan-pesan Polantas.</strong></p>
<p>Kalau itu beda lagi. Pelukis-pelukis itu lebih lumayan pendapatannya. Hari Minggu besok tanggal 19 (Desember -red) saya diajak melukis gambar-gambar pahlawan di Lapangan Sumantri Brojonegoro. Yang ikut banyak, ada orang-orang spanduk film dan pelukis jalanan. Mungkin koordinatornya anak-anak pahlawan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Nantinya, apa ada yang akan meneruskan profesi Pak Yasin dan teman-teman?</strong></p>
<p>Nggak ada, mbak. Generasi sekarang sudah pada nggak mau!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Nggak mau bagaimana pak? Atau memang karena nggak ada yang <em>ngajarin</em>?</strong></p>
<p>Bukan begitu, mereka (pelukis senior -red) juga nggak mau <em>nerjunin</em> anaknya jadi pelukis spanduk film. Kalau dulu ya banyak, karena masih bisa diandalkan untuk cari duit. Kalau sekarang sudah nggak bisa lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bisa habis dong pak!</strong></p>
<p>Ya bagaimana lagi. Memang sudah nggak bisa diandalkan. Pihak 21 sendiri kemungkinan nanti akan beralih ke <em>digital</em>. Dulu dibandingkan tukang bangunan, pendapatan kami masih jauh lebih besar! Kalau sekarang, masih lebih <em>gede</em> penghasilan mereka!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apakah peraturan baru soal bea impor film ikut mempengaruhi bapak dan teman-teman pelukis spanduk film lainnya?</strong></p>
<p>Ada, mbak! Kita sekarang sudah nggak mengerjakan film-film kiriman MPA (Motion Picture Association -red) lagi. Kebanyakan yang kita kerjakan sekarang film-film independen. Ada juga film-film Mandarin. Kayak film terbarunya Chow Yun Fat nih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pengaruhnya terhadap pendapatan bapak?</strong></p>
<p>Lumayan lah. Berkurang setengahnya ada kali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Lalu, apa rencana bapak selanjutnya?</strong></p>
<p>Saya <em>mah</em> tungguin saja nih sampai kapan habisnya. Sekarang saya juga <em>nyambi</em> usaha sablon untuk karung. Saya sudah telanjur terjun di bidang ini.  Meskipun hasilnya kecil, <em>alhamdulillah</em> masih saja ada kerjaannya setiap minggu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:left;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/photo-4.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-178" title="Berteman cat, berkawan kanvas" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/photo-4.jpg?w=112&#038;h=150" alt="" width="112" height="150" /></a> <a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/photo-2.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-177 alignnone" title="Diberi grid dulu" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/photo-2.jpg?w=112&#038;h=150" alt="" width="112" height="150" /></a> <a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/photo.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-179" title="Masa depan yang 'terkubur'" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/photo.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p style="text-align:left;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;"><em>*Catatan penulis</em></p>
<p>Tulisan ini merupakan versi lengkap dari hasil wawancara dengan Pak Yasin yang saya lakukan pada bulan Desember 2010. Pertanyaan mengenai regulasi baru bea impor film, saya tanyakan kemudian setelah isu itu merebak. Sebelumnya, versi singkat pernah dimuat di majalah Esquire Indonesia edisi Maret 2011 dalam sebuah essay fotografi bertema profesi yang hampir tergerus zaman akibat kemajuan teknologi, bersama dua orang lainnya, yakni Pak Sumirin (pemilik wartel) dan Pak Suprihatin (pengantar surat).</p>
<p>Pak Yasin sudah mengizinkan saya untuk memberikan no telepon beliau jika ada orang membutuhkan jasanya untuk membuat lukisan. Silakan hubungi saya di d.elsara[at]yahoo[dot]com, dan dengan senang hati saya akan memberikannya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolankopi.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolankopi.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolankopi.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolankopi.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/obrolankopi.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/obrolankopi.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/obrolankopi.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/obrolankopi.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolankopi.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolankopi.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolankopi.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolankopi.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolankopi.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolankopi.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=172&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolankopi.wordpress.com/2011/03/14/yasin-berteman-cat-dan-berkawan-kanvas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bcd13f4cf3e80dd4d796813d35546ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">obrolankopi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/photo-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pak Yasin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/photo-4.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">Berteman cat, berkawan kanvas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/photo-2.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">Diberi grid dulu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/03/photo.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Masa depan yang &#039;terkubur&#039;</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mama (Nggak Terlalu) Rock &#8216;n Roll: Lilin Purnamasari.</title>
		<link>http://obrolankopi.wordpress.com/2011/02/10/mama-nggak-terlalu-rock-n-roll-lilin-purnamasari/</link>
		<comments>http://obrolankopi.wordpress.com/2011/02/10/mama-nggak-terlalu-rock-n-roll-lilin-purnamasari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Feb 2011 11:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>obrolankopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Music]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolankopi.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Teman Ngobrol #6: Lilin Purnamasari/ 26 th/ Vokalis Unbroken Virgin, Mantan Manajer Caliber For The Heroes Jakarta &#160; ***** Perempuan berambut panjang ini teman sekelas saya sewaktu kuliah dulu. Saya mengambil jurusan jurnalistik, dia tertarik periklanan. Namanya memang agak janggal, Lilin, apalagi jika digabung dengan nama belakangnya, Purnamasari. Semacam pengulangan menurut saya, jadinya &#8220;terang benderang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=160&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/02/lilin.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-161" title="lilin" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/02/lilin.jpg?w=604" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Teman Ngobrol #6:</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Lilin Purnamasari/ 26 th/ Vokalis Unbroken Virgin, Mantan Manajer Caliber For The Heroes</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Jakarta</strong></p>
<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>*****</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Perempuan berambut panjang ini teman sekelas saya sewaktu kuliah dulu. Saya mengambil jurusan jurnalistik, dia tertarik periklanan. Namanya memang agak janggal, Lilin, apalagi jika digabung dengan nama belakangnya, Purnamasari. Semacam pengulangan menurut saya, jadinya &#8220;terang benderang sekali&#8221; (lilin dan purnama).</p>
<p>Hari ini, perempuan tomboy yang identik dengan sweater garis-garis shocking pink-cokelat sedang berulang tahun. Beberapa waktu lalu saya memintanya untuk meluangkan waktu untuk sekadar mengobrol santai soal pengalamannya sebagai manajer band Caliber for The Heroes dan vokalis band Unbroken Virgin. Enyahkan segera stereotipe klasik seks dan narkoba.<em> </em> Meski sebentar, Lilin berhasil menyandang status sebagai Mama (Nggak terlalu) Rock &#8216;N Roll (ya, tandingan lagu papa-papa rock &#8216;n roll tersebut) bagi anak-anak asuhannya. Penasaran kenapa saya menjulukinya demikian? Simak perbincangan saya dengannya.</p>
<p>Oh ya, hampir lupa. Selamat ulang tahun, kawan! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-160"></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Yuk kita mulai.</strong></p>
<p>*ceritanya deg-degan*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hahaha.. ngobrol-ngobrol santai aja kok. </strong></p>
<p>Hehe.. Ok.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Katanya lo pernah jadi manajer band. Nama band-nya apa?</strong></p>
<p>Awalnya, gue memanajeri band Struggle Than Before. Setelah gue &#8220;cabut&#8221;, mereka ganti nama jadi Brave Heart. Nggak lama setelah itu gue jadi manajeri band Caliber For The Heroes dan Unbroken Virgin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sampai sekarang masih?</strong></p>
<p>Kalau sekarang sih udah nggak sama sekali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kenapa, bosan?</strong></p>
<p>Bukan, karena di Unbroken Virgin, posisi gue sekarang malah jadi vokalis. Urusan manajerial gue limpahkan ke orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ngomong-ngomong, aliran band lo itu apa sih?</strong></p>
<p>Dua-duanya metal, tapi kalo Caliber udah agak melenceng dari metal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Cerita dong gimana awalnya lo bisa dekat dengan komunitas band-band tersebut.</strong></p>
<p>Awalnya gue cuma suka dengar musiknya aja. Kemudian gue juga berteman dengan orang-orang suka jenis musik yang sama. Terus saling tukar info, ternyata kita juga punya banyak teman yang sama di lingkungan tersebut, sampai akhirnya ada band teman gue yang suka manggung di <em>gigs</em> kecil. Dari situ jadi tambah banyak kenalan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Berarti memang sedari awal lo suka sama musiknya ya?</strong></p>
<p>Iya, tapi pada dasarnya gue suka dengerin semua jenis musik. Tapi yang gue rasa mewakili diri gue ya, musik keras. Meskipun bukan metal sebenarnya, tapi lebih ke hardcore.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bicara soal musik keras, gue bingung dengan mereka yang bilang baru bisa tidur kalau sambil menyetel musik metal misalnya. Kan idealnya kita butuh suasana yang tenang dan kondusif untuk bisa tidur lelap.</strong></p>
<p>Hahahhahahaaa&#8230; Di waktu-waktu tertentu, musik keras itu memang pas untuk didengar dan dinikmati. Bahkan ketika mau tidur. Mungkin terdengar aneh dan gak logis, tapi faktanya memang ada yang seperti itu, ya contohnya gue sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hmm.. ya itu kembali ke selera masing-masing. Kalau band metal kesukaan lo apa aja? </strong></p>
<p>Gue lagi suka Cradle of Filth, Arch Enemy, dan Behemoth.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ok, kembali ke soal manajer band. Pada awalnya, kenapa lo tertarik untuk jadi manajer?</strong></p>
<p>Gue gak tertarik sebenarnya. Hahaha.. Saat itu gue ditawarin, gue lupa persisnya bagaimana. Tapi, dari tiga band, salah satunya sempat gue tolak untuk memanajeri. Hehe</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Susah nggak ngurus anak band?</strong></p>
<p>Susah, soalnya satu band isinya ada lima orang, lima kepala, dengan pemiiran dan ego yang berbeda-beda. Untungnya personel band gue nggak &#8220;macam-macam&#8221; dalam arti yang negatif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Maksudnya?</strong></p>
<p>Ya, mereka melabelkan diri mereka metal cuma sebatas di musik. Secara pribadi atau personal nggak.<strong> </strong>Caliber For The Heroes misalnya, waktu itu mereka masih sekolah dan berasal dari keluarga yang tingkat kedisiplinannya tinggi. Gue nggak cuma berperan sebagai manajer di situ, tapi juga sebagai teman, atau bahkan ibu saat mereka tur ke luar kota.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Maksud &#8220;metal secara personal atau pribadi&#8221; yang lo sebut tadi apa ya?</strong></p>
<p>Secara umum aja sih, lebih ke <em>atittude</em>-nya, cara mereka berpakaian yang menunjukan kalo mereka itu anak metal. Urakan. Kalau anak-anak Caliber, sehari-harinya<strong> </strong>mereka berpakaian kasual aja. Orang yan melihatnya juga nngak akan duga kalau mereka personel band metal. Cuma di atas panggung aja mereka bergaya metal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ok, berarti lo coba bilang bahwa band ini adalah band yang hanya metal saat di panggung? Saat tur bagaimana? Kalau di film-film yang gue tonton sih, tur jalan darat itu seru banget! Hahaha.. gue keseringan nonton <em>Almost Famous</em> nih.</strong></p>
<p>Hahaha&#8230; ya kami dulu sering tur. Seru banget! Setiap tur pakai dua mobil kijang. Lebih seru saat perjalanan. <strong> </strong>Setiap anak punya kebiasaan sendiri-sendiri. Kadang ada yang suka manja, kadang ada yang suka bercanda. Yang pasti, selalu ada hal lucu yang bikin seisi mobil ketawa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hmm.. jauh dari <em>Almost Famous</em></strong><strong> yang gue bayangkan tadi.</strong></p>
<p>Karena mereka masih pada sekolah, jadi gue punya peraturan sendiri yang cukup ekstrim. Peraturan itu wajib dituruti, kalau nggak, gue ancam batal tur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kepala sekolah galak.</strong></p>
<p>Hahaha..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Memang apa aja peraturan yang lo berlakukan saat tur?</strong></p>
<p>Banyak. Misalnya nggak boleh ngomong sembarangan ketika sudah sampai di kota tujuan, nggak boleh minum minuman keras sama sekali, harus terima <em>bawelan</em> gue soal kapan harus minum vitamin atau suplemen untuk jaga stamina masing-masing, dan harus tetap jaga sopan santun selama tur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>WOW! HAHAHAHAHA..</strong></p>
<p>Gue seperti itu karena gue kenal orangtua mereka masing-masing. Para orangtua juga sudah menitipkan anaknya ke gue. Hahaha&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Lo benar-benar menjadi &#8220;ibu&#8221; bagi mereka.</strong></p>
<p>Setelah mereka semuanya kuliah, peraturan soal alkohol gue cabut. Gue rasa mereka sudah dewasa. Itupun dengan takaran yang wajar. Jangan sampai kebanyakan minum lah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Itu tur band metal apa pesantren?</strong></p>
<p>Hahaha&#8230; yaaaaa&#8230; gitu deh..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sikap mereka bagimana, terima-terima aja?</strong></p>
<p>Mereka terima-terima aja, toh nggak sulit juga sebenarnya. Sebagian dari mereka memang nggak pernah menyentuh minuman keras, ada juga yang nggak minum merokok sama sekali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Agak unik ya dibandingkan band metal pada umumnya.</strong></p>
<p>Seperti yang tadi gue bilang, <em>attitude</em> itu sangat penting untuk <em>image</em> band. Perjanjian awal pun sudah jelas, gue bilang ke mereka &#8220;gue mau jual musik dan <em>skill</em> lo, bukan kontroversi lo&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Pretty bold.</em> Tapi terkadang, &#8220;kemasan&#8221; membantu meningkatkan penjualan. Bukan berarti gue bilang kemasan yang &#8220;buruk&#8221; yang dpt membantu penjualan. Tapi pernah nggak ada orang yang meledek  band kalian karena <em>attitude </em></strong><strong>yang kelewat kalem itu?</strong></p>
<p>Sebenarnya sah-sah aja mereka mau berperilaku seperti apapun, termasuk yang sangat kotroversial sekalipun. Tapi saat itu band mereka masih terbilang baru, orang lain belum banyak yang mengenal mereka. Nah gue pribadi gue ingin orang-orang tahu band mereka berdasarkan <em>skill</em>. <strong> </strong>Fenomena yang banyak gue lihat, band-band lebih mementingkan <em>fashion</em> dan <em>bad atittude</em>. Urusan <em>skill</em> nomor sekian. Kalau udah ada pengakuan band-nya bagus berdasarkan <em>skill</em> kan lebih membanggakan ketimbang band yang dikenal karena <em>attitude</em>-nya yang jelek.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sepengamatan lo sebagai seorang manajer, dan sampai sekarang, bagaimana masa depan mereka sebagai sebuah band?</strong></p>
<p>Caliber  terbentuk tahun 2004, dan sampai sekarang, menurut gue <strong> </strong>masa depan mereka sangat cerah apabila dibantu dengan promosi yang menunjang. Soalnya jaman sekarang, mau sebagus apapun band itu, kalau promosinya kurang bagus dan nggak inovatif, ya bakal susah mencapai targetnya. Soal <em>skill</em>, menurut gue mereka hampir setara dengan band Trivium.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hal tersulit apa yang pernah lo hadapi selama menjadi manajer?</strong></p>
<p>Promosi itu tadi. Kenapa sulit, karna kurang SDM. Setiap mau bikin <em>merchandise</em>, misalnya stiker, kaos, dan lain-lain, mereka pakai uang sendiri. Ada juga uang hasil <em>manggung</em> yang ditabung untuk bikin <em>merchandise.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><strong>Kalau boleh tau, berapa sih honor band kalian sekali main? Ada bedanya nggak dalam kota dan luar kota?</strong></p>
<p>Iya, beda. Kalau di <em>gigs</em> kecil sih sekitar 300 ribu deh. Kalau di acara besar biasanya justru nggak dibayar. Hahaha.. Tapi itu nggak masalah, karena kita tau siapa aja penontonnya. Itu keuntungan lebih karena kita sedang promosi gratis disitu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bayaran manggung pun terbilang impas ya sama ongkos bensin, makan, dan lain-lain?</strong></p>
<p>Yup. Dulu karena masih baru, kita lebih mikir ke arah promosi, jadi dengan sendirinya kalau <em>audience</em>-nya suka, segalanya bisa menguntungkan. Hahaha&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Terus kenapa akhirnya lo banting setir jadi pesonel band?</strong></p>
<p>Jadi sebenarnya begini, selain jadi manajer band, dulu gue juga punya band, namanya Before Down. Jadwal manggung sebisa mungkin nggak bentrok. Lalu gue memutuskan &#8220;cabut&#8221; dari band itu karena sudah nggak sepaham dengan yang lain. Akhirnya gue fokus jadi manajer. Kenapa akhirnya gue menjadi vokalis band metal di Unbroken Virgin, karena mereka punya masalah internal sama vokalis sebelumnya. Setiap latihan, kalau si vokalis nggak dateng, gue yang menggantikan. Begitu juga saat manggung. Karena gue semua lagu mereka, akhirnya gue yang diminta jadi vokalis tetap.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Katanya, untuk jadi vokalis band metal yang lo perlu lakukan adalah berteriak. Suara bagus tidak diperlukan.</strong></p>
<p>Hahahahahahaaa&#8230; Salah! Setahu gue, setiap vokalis punya teknik masing-masing. Apapun genrenya. Teriak-teriak pun harus punya ciri khas biar orang lain bisa membedakan antara band yang satu dengan band yang lain, walaupun jenis musiknya sama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Lebih susah mana, nyanyi lagu pop atau jadi vokalis band metal?</strong></p>
<p>Kayaknya sama-sama susah. Harus pintar mengatur pernapasan. Selain itu, harus menjaga pola makan kalau mau suaranya bagus. Apalagi buat mereka yang sering bersugesti. Misalnya  kalau makan atau minum minuman tertentu, suaranya akan maksimal ketika di panggung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Contohnya apa?</strong></p>
<p>Kalau gue pribadi, ritual sebelum manggung setiap pagi harus minum air putih hangat terus nyanyi-nyanyi lagu pop, asal aja, biar nggak kaku. Teman gue ada yang harus minum Tolak Angin dulu 10 menit sebelum manggung. Ada juga yang harus minum Sari Asem kemasan kotak. Macam-macam lah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hahaha.. mau manggung atau ronda? Kok minum Tolak Angin segala?</strong></p>
<p>Namanya juga sugesti. Kalau soal makanan, yang jadi pantangan antara lain kerupuk, gorengan, dll.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tapi apa benar ampuh sugesti-sugesti itu?</strong></p>
<p>Hahaha.. ya yang kayak gue bilang tadi, itu sugesti. Kalau nggak begitu, takutnya timbul kekhawatiran macam-macam. Takut suaranya jelek lah, atau yang lain-lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dan yang Sari Asem, harus yang kemasan kotak?</strong></p>
<p>Waktu itu sih iya, spesifiknya kayak begitu. Gue kelabakan nyari minuman itu. Soalnya kan belum tentu ada mini market di dekat sana. Hmm.. sama lah dengan mereka yang bersugesti harus nge<em>drugs</em> dulu biar tingkat kepercayaan dirinya naik. Karena di menit-menit terakhir sebelum manggung, biasanya mereka suka <em>drop. </em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><strong>Pernah nggak dapat minuman yang dicari? Efeknya bagaimana?</strong></p>
<p>Intinya sih percaya diri. Harusnya dengan latihan-latihan sebelumnya, mereka sudah siap untuk manggung. Kalau sebelum manggung nggak mendapatkan minuman atau makanan tertentu, mereka jadi panik dan serba takut, dan efek-efek lain yang dapat mengganggu performa saat manggung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sejauh mana keseriusan lo sebagai vokalis band? Apakah lo akan menjadikan profesi? </strong></p>
<p>Di band ini gue punya target, dan semaksimal mungkin gue berusaha untuk mencapai target itu, yaitu musik gue benar-benar bisa diakui masyarakat luas, didengar, dan diterima. Gue juga kepingin punya album, yang <em>someday</em>, anak gue nanti, dan bahkan cucu gue, lebih mengenal band ibu atau neneknya ketimbang The Beatles.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Wow! Harapan jangka panjang rupanya.</strong></p>
<p>Dan juga, mungkin gue bisa menghasilkan uang dari hobi yang menyenangkan ini. Hahaha..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kalau boleh memilih, lo mau sepanggung dengan siapa?</strong></p>
<p>Hmm.. Godbless. Kalau boleh dua, sama Trashline. Hehehe..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dari seluruh band yang pernah lo tonton, penampilan di atas panggung siapa yang paling nggak bisa lo lupakan?</strong></p>
<p>Band metal yang punya ritual-ritual <em>satanic</em>. Kalau setiap manggung ada yang kesurupan atau minum darah binatang. Gue lupa nama band-nya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>WADUH!</strong></p>
<p>Di Jogja ada tuh. Waktu itu ada acara di GOR setempat. Salah satu personel band lempar kemenyan dulu sebelum manggung. Setelah dibakar, asap dimana-mana. Terus, dia lempar bunga yang biasa untuk ditabur di kuburan. Waktu salah satu vokalisnya naik panggung, dia bawa satu ekor kelinci putih. Vokalis ke dua bawa silet. Sebelum nyanyi, si vokalis kedua menyilet leher kelinci dan si vokalis pertama minum darahnya!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>EEEWWWW..!!!</strong></p>
<p>Belum selesai. Setelah itu paha kelinci disobek pakai gigi dan langsung dilempar ke arah penonton.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>ASTAGA!</strong></p>
<p>Hahaha.. Sayang gue lupa nama band-nya. Penonton yang melihat biasa-biasa aja, padahal banyak anak kecil sekitar 5-6 tahun juga di sana. Mungkin karena memang itu acara musik death metal kali ya, jadi semua sudah biasa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Aaaah.. udahan ah. Gue masih kebayang-bayang kelinci yang disilet..</strong></p>
<p>HAHAHAHA&#8230;. Eh <em>btw</em>, profil lo di blog Obrolan Kopi ini &#8220;Perempuan awal 20 tahunan yang memiliki hasrat terhadap kata-kata, kopi, dan purnama&#8221;. Lo memiliki hasrat terhadap purnama? Berarti lo punya hasrat terhadap gue dong, Sar! *tertawa terpingkal pingkal*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>*#(^$*&amp;#*$&amp;%)(@)!#</strong></p>
<p>Hahahaha&#8230;.</p>
<p style="text-align:center;">******</p>
<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<address>Mau kenal lebih dekat dengan Lilin? Hubungi dia di:</address>
<address><a href="http://www.facebook.com/LynWickyWacky">Facebook</a></address>
<address><a href="http://dabr.co.uk/user/llyn_llyn">Twitter</a></address>
<address><span style="color:#ffffff;">&#8230;</span><br />
</address>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolankopi.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolankopi.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolankopi.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolankopi.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/obrolankopi.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/obrolankopi.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/obrolankopi.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/obrolankopi.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolankopi.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolankopi.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolankopi.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolankopi.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolankopi.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolankopi.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=160&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolankopi.wordpress.com/2011/02/10/mama-nggak-terlalu-rock-n-roll-lilin-purnamasari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bcd13f4cf3e80dd4d796813d35546ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">obrolankopi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2011/02/lilin.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lilin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ngobrolin Film Bareng si &#8220;Tukang Kritik&#8221;, Ekky Imanjaya</title>
		<link>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/12/16/5-ekky-imanjaya/</link>
		<comments>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/12/16/5-ekky-imanjaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 11:02:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>obrolankopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[film critic]]></category>
		<category><![CDATA[writer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolankopi.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Teman Ngobrol #5: Ekky Imanjaya/ 34 th/ Redaktur (rumahfilm.org), Kritikus Film, Penulis Lepas Jakarta ***** Laki-laki yang baru saja menyelesaikan studi S2 untuk kedua kalinya ini sudah malang melintang di dunia tulis menulis sebagai wartawan, penulis buku, dan kritikus film. Karena kecintaannya pada film itu lah, ia rela &#8216;mengasingkan&#8217; diri ke Amsterdam demi mengambil jurusan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=113&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-115" title="ekky" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/12/ekky2.jpg?w=604" alt="ekky"   /></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Teman Ngobrol #5</span>:</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Ekky Imanjaya/ 34 th/ Redaktur (rumahfilm.org), Kritikus Film, Penulis Lepas</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong><strong>Jakarta</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:left;">Laki-laki yang baru saja menyelesaikan studi S2 untuk kedua kalinya ini sudah malang melintang di dunia tulis menulis sebagai wartawan, penulis buku, dan kritikus film. Karena kecintaannya pada film itu lah, ia rela &#8216;mengasingkan&#8217; diri ke Amsterdam demi mengambil jurusan Film Studies di Universiteit van Amsterdam.</p>
<p style="text-align:left;">Lucunya, setiap bertemu orang Indonesia yang baru dikenal, reaksi mereka nyaris sama ketika Ekky menyebutkan jurusan yang diambilnya: <em>&#8220;Wah, mau jadi produser film ya?&#8221;, &#8220;Wah calon sutradara besar, nih&#8221;, &#8220;Mau dong jadi bintang filmnya&#8230;&#8221;</em>. Meskipun awal-awal ia coba menjelaskan bahwa film studies (kajian film) berbeda dengan <em>filmmaking</em> (cara bikin film), <em>toh</em> lama-lama ia iyakan saja. &#8220;Biar cepat ganti topik&#8221;, katanya.</p>
<p style="text-align:center;"><em><span id="more-113"></span><br />
</em></p>
<p style="text-align:left;"><strong>Halo Mas Ekky, lagi sibuk apa nih siang-siang begini?</strong><br />
Lagi di rumah aja, sekalian siapin materi workshop film critic untuk Jiffest.</p>
<p><strong>Gak terlalu sibuk dong  ya berarti. Mas Ekky dulu SMA nya dimana sih?</strong><br />
Aku di SMA 21, Pulo Mas.</p>
<p><strong>Oh ya? Angkatan berapa?  Teman-teman saya banyak juga yang disana.</strong><br />
Angkatan 92. Wah ketahuan tuanya ya? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Emang kamu sendiri sekolahnya dimana?</p>
<p><strong>Saya Labschool, Mas. Angkatan 2004.</strong><br />
Mmm.. Aku salut sama anak-anak Labschool. Band-band nya keren. Dulu jaman SMA, ada anak SMP bawain Sex Pistols. Nama band nya The King. Mereka main keren abis di pensi 21!</p>
<p><strong>Wah, saya ngnggak pernah denger!</strong><br />
Udah lama banget, sekarang pada di mana ya? Dulu salah satu tempat ngumpulnya, Center of Excellent, di TMHC, Tanah Mas Hard Core. Lokasinya dekat lapangan tenis, daerah rumahnya jaya Roxx. Waktu itu aku cuma anak bawang aja sih.</p>
<p><strong>Sampai sekarang masih suka kumpul?</strong><br />
Udah ngnggak sih. Waktu itu mereka bawain lagu-lagua Anthrax, Megadeth, Metallica, Suicidal Tendencies, Red Hot Chili Peppers, Faith No More, sampai Beastie Boys.</p>
<p><strong>Tren musik yang dibawain sama band SMA tiap jamannya beda ya. Kalau jaman saya SMA, lebih ke alternatif dan britpop. Mulai dari Smashing Pumpkins, U2, Radiohead, sampai The Cure dan Blur.</strong><br />
Tentu beda, tapi creative minority macam TMHC ini selalu selangkah di depan dan jadi trendsetter waktu itu. Bayangin, jaman metal mereka bawain Faith No More, RHCP, dan bahkan Beastie Boys yang ada unsur <em>rap</em>. Waktu itu belum muncul <em>Seattle Sound</em>.</p>
<p><strong>Apakah komunitas-komunitas seperti itu mempengaruhi industri musik kita secara keseluruhan? Kalau iya, seberapa besar pengaruhnya?</strong><br />
Iya, dalam artian pengaruh selera dan akhirnya mengarah ke dikotomi &#8220;musik bagus&#8221; dan &#8220;musik jelek&#8221;, semacam itu. Indie lebih bebas berkreasi, lebih ke panggilan jiwa, karena itu umumnya hasilnya bagus, walau tidak mainstream dan bahkan melawan selera pasar. Tapi semua yang bermula dari hati, <em>vocation</em>, hasilnya lebih bagus dari yang &#8220;kejar tayang&#8221; atau &#8220;kejar setoran&#8221;, atau &#8220;kejar rating&#8221; dan sebagainya. Lebih bagus lagi kalau antara yang idealis bisa bertemu dengan selera pasar: udah bagus, eh laku.</p>
<p><strong>Hal itu berlaku juga kan untuk film?</strong><br />
Persis! Saya selalu memakai dikotominya salim said, idealisme vs komersialisme. Tetapi bikin film yang menggabungkan keduanya, seperti Laskar Pelangi, memang sesuatu yang susah. Salim Said cerita di bukunya, dia diambekin sama Bing Slamet (dan hingga wafatnya dicuekin oleh entertainer terbesar kita itu), karena Salim menulis buruk soal film &#8220;Bing Slamet Setan Djalanan&#8221;. Kata Salim: &#8220;film bagus belum tentu laku, film laku belum tentu bagus&#8221;.</p>
<p><strong>Sekarang kalimat itu diucapkan lagi oleh Niniek L. Karim ketika mengumumkan judul-judul film yang masuk nominasi FFI 2008.</strong><br />
Payah juga ya (sebagian) wartawan-wartawan kita sekarang, kayak begituan ditanyain lagi. &#8220;Kenapa Laskar Pelangi ngnggak masuk?&#8221;, &#8220;Kenapa Ayat-ayat Cinta cuma dapat satu nominasi?&#8221;. Kalau sebelumnya dia punya bekal ke lapangan, tentu pertanyaannya nggak akan sebanal itu.</p>
<p><strong>Mungkin pengaruh kultur masyarakat kita juga yang terlalu memberhalakan statistik.</strong><br />
Mungkin. Mereka anggap yang laris manis itu ya sudah pasti bagus. Sementara film flop macam &#8220;May&#8221; dan &#8220;Fiksi&#8221; justru merajai nominasi. Aku nulis di sini: <a href="http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_nominasiffi08.htm">http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_nominasiffi08.htm </a>soal itu.</p>
<p><strong>Memangnya apa sih yang harus dimiliki sebuah film supaya bisa dikategorikan sebagai film &#8220;bagus&#8221;? Setidaknya untuk festival sekelas FFI misalnya?</strong><br />
Kata orang, &#8220;bagus itu relatif, tapi jelek itu absolut&#8221;. Hehehe.. Kriteria film bagus? Mmm.. kalau bicara FFI, ya tergantung jurinya. Juri tahun ini lagi bagus. Nominasinya juga bagus-bagus dan sebagian besar hasilnya saya sepakat. Walau ada beberapa nama yang tak saya duga sebelumnya.</p>
<p><strong>Contohnya?</strong><br />
Rachmania Arunita sebagai nomine sutradara film terbaik untuk &#8220;Lost in Love&#8221;.</p>
<p><strong>Debut perdananya sebagai sutradara ya?</strong><br />
Mouly Surya juga debutan.</p>
<p><strong>Bagaimana filmnya? Kebetulan saya belum nonton, dan memang nggak terlalu tertarik sebenarnya.</strong><br />
Saya juga belum nonton, karena itu belum berani komentar banyak. Nanti mau ke rental. Hehehe.. ya kaget aja, tapi memang harus nonton filmnya supaya tahu.<br />
<strong><br />
Film-film yang masuk nominasi FFI, tidak harus sudah ditayangkan ya? Soalnya film 3 Doa 3 Cinta belum tayang tapi masuk nominasi.</strong><br />
Oh nggak.. Syaratnya adalah:<br />
1. Lolos sensor max 2 tahun<br />
2. 35 mm<br />
3. Mendaftarkan diri ke panitia<br />
4. Sutradara film WNI<br />
Biasa, kan? Academy Award juga begitu.</p>
<p><strong>Oh..  tadinya saya pikir ada batas penayangannya. Jadi film yang belum ditayangkan sampai bulan tertentu, baru bisa diikutsertakan untuk festival tahun depan.</strong><br />
Bukan, lebih pada lolos sensor 2 tahun.</p>
<p><strong>Lalu, kriteria film bagus menurut anda sendiri seperti apa?</strong><br />
Ini kan urusan estetika (indah-buruk), bukan etika (baik-buruk), apalagi ontologi (benar-salah). Jadi tergantung selera masing-masing sebenarnya. Latarbelakang penonton juga mempengaruhi, misalnya pendidikan, lingkungan, seberapa banyak referensi film yang ditonton, dll. Tapi secara umum saya bisa bilang bahwa film bagus adalah film yang memberikan efek/dampak mendalam bagi penontonnya. Misalnya:<br />
1. Setelah seminggu, masih terngiang-ngiang adegan atau dialognya.<br />
2. Setelah menonton jadi ingin mendiskusikannya.<br />
3. Ada sesuatu yang dibawa pulang, memperkaya batin, dan mencerahkan.<br />
4. Menggerakkan untuk berbuat sesuatu, menginspirasi lah.<br />
Karena film itu kan karya seni yang berisi pesan/gagasan pembuatnya untuk disebarkan ke khalayak publik. Yang dilihat ya itu semua. Awalnya memang cerita (dan kebanyakan orang liat dari siapa yang main ya?), tapi kan ada unsur-unsur lain yang memperkuat gagasan itu tersampaikan, sinematografi, akting, editing, dll. Mengutip Arthur Penn &#8220;Sutradara adalah orang yang menulis dengan kamera.&#8221;</p>
<p><strong>Efek/ dampak yang diberikan itu bisa salah satunya atau harus mencakup semuanya? Karena kalau berbicara dampak, berarti kan bisa positif dan negatif. Misalnya poin no 1. Film horor jelas unggul untuk memberikan efek ini. Tapi kan belum tentu film horor tersebut menginspirasi atau menciptakan suatu diskusi.</strong><br />
Ya, terngiang-ngiang adegan dan dialog berkaitan dengan pesannya. Salah satunya cukup, menurutku. Atau, tidak?  Misalnya, sebuah reaksi, &#8220;Oh iya, ya. Kok gue nggak kepikiran?&#8221;, atau &#8220;Ah, masak sih?&#8221;.</p>
<p><strong>Menurut saya pribadi, film yang cuma bikin kita takut ke kamar mandi tengah malam tanpa memberikan insight lain sih tidak termasuk film bagus.</strong><br />
Penonton juga dituntut aktif sebenarnya dalam rangka men-<em>decode</em> pesan itu. Dan pesan yang didapat tidak harus sama dengan maunya sutradara. Misalnya, ada tafsiran bahwa film-film zombie itu adalah kritik sosial terhadap masyarakat Amerika yang bagaikan &#8220;mayat hidup&#8221;. Jadi kalau cuma ketakutan doang, atau nangis bombai doang, itu bukan sesuatu yang positif dong.</p>
<p><strong>Mayat hidup?</strong><br />
Iya, masyarakat Amerika = <em>the real zombie</em>. Karena nggak punya orientasi hidup lagi, kan? Cuma konsumtif, materialis, dll. Nggak ada jiwa, ruh, kemanusiaannya. Tapi itu kan cuma salah satu analisa.</p>
<p><strong>Mmm.. karena negaranya sendiri sudah menjadi negara adidaya ya, sehingga berpengaruh kepada masyarakatnya yang juga tidak punya cita-cita lagi?</strong><br />
Wah kok tanya ke saya? Hehehe.. Macam-macamlah penafsirannya. Ya negaranya, ya semangat pragmatisme rakyatnya sendiri.</p>
<p><strong>Dan saya sendiri pun baru sadar dengan penafsiran mayat hidup tadi.</strong><br />
Intinya, tugas kritikus itu berat juga lho. Salah satunya edukasi penonton, bagaimana agar penonton aktif memaknai/memproduksi makna (<em>decode</em>) sebuah film. Mengutip Efek Rumah Kaca, &#8220;pasar bisa dibentuk&#8221;. Jadi suatu saat, orang akan merasa rugi (uang dan waktu) karena menonton film jelek. Mereka tidak akan nonton film jelek, atau merekomendasikan untuk tidak menonton film jelek. Karena, kata seorang kritikus film Prancis, setiap sen uang yang kita keluarkan untuk beli tiket film jelek, artinya kita ikut mendukung pertumbuhan film jelek. Kritikus film adalah jembatan antara <em>filmmaker</em> dan penonton, dan juga sparring partner <em>filmmaker</em>.</p>
<p><strong>Kalau definisi bagus-jelek itu relatif, bagaimana kritikus film bisa &#8216;meyakinkan&#8217; masyarakat sebagai penonton? Karena pada pelaksanaannya akan selalu berbenturan dengan selera kan?</strong><br />
Itulah fungsi kritikus film. Kita banyak PR. Sebagian besar <em>filmmaker</em> kita belum (atau tidak mau?) membuat film bagus karena takut nggak laku. Selera penonton juga begitu-begitu aja, atau memang nggak ada alternatif untuk ditonton. Atau, kritikus film kita masih kurang menginformasikan film bagus semacam Fksi dan May. Filmmaker kita lebih suka gerakan politis macam MFI daripada gerakan estetis macam I-Sinema. Tapi gue percaya dengan pernyataan Mira Lesmana,&#8221;Nggak ada perbandingan film art dan komersil. Yang ada hanya film bagus dan film jelek&#8221;. Film bagus kan nggak cuma yang art-house cinema, tapi film Korea macam The Host atau Hansel and Gretel juga bagus.</p>
<p><strong>Jadi apa solusi untuk masalah ini?</strong><br />
Makanya perlu gerakan semacam &#8220;Jangan tonton film jelek!&#8221;. Saya lagi BT sama pernyataan Melly (Goeslaw -red) waktu bahas BBB. Kira-kira seperti ini, &#8220;Kenapa harus bikin lagu bagus-bagus? Ini industri, yang penting laku!&#8221; Aduh parah banget, ketahuan apa maunya: UUD (Ujung-Ujungnya Duit -red)!</p>
<p><strong>Hahaha&#8230; Yang penting bagaimana menghasilkan uang dengan cepat. Gawat juga kalu begitu!</strong><br />
Nah, kalau konsumen nggak mau beli produk jelek, maka lambat laun pasar akan berubah jadi lebih baik, di industri film ataupun musik. Di musik lebih kelihatan jelas, ada Sore, The Upstairs, The Brandals, White Shoes and The Couples Company. Mereka punya pasarnya sendiri. Kalau di industri film, para filmmaker harus lebih kompak, bikin gerakan estetika. Pilihannya dua, bikin baru atau hidupkan lagi I-Sinema. Malu ah sama New Malaysian Cinema atau teman-teman di Thailand, Filipina, dan Singapura. Nggak usah bahas Tokyo, Korea atau Iran dulu deh!</p>
<p><strong>I-Sinema?</strong><br />
I-sinema itu gerakan <em>filmmaker</em>, gerakan estetika. Ada 13 <em>filmmaker</em>, mulai dari Riri Riza, Rizal Mantovani, sampai Nayato. Tapi setelah bikin 4 film, yang terbaik adalah Eliana Eliana dan Bendera, mereka nggak jelas.</p>
<p><strong>Bagaimana sih kerja seorang kritikus film, apakah mereka bergerak dan bekerja sendiri-sendiri?</strong><br />
Ya nggak masalah juga sih. Kritikus itu kan berlapis-lapis. Ada wartawan film, ada yang independen, ada juga yang di blog.</p>
<p><strong>Mungkin  karena jumlahnya yag sedikit dan tidak ada komunitas khusus kritikus film, jadinya gerakan anti film jelek tadi kurang bisa dipahami masyarakat.</strong><br />
Ya gerakan itu sih maunya saya, belum tentu yang lain sepakat sih. Hehehe.. PR kita banyak. Dari kritikus film, misalnya yang bekerja sebagai wartawan hiburan, mereka lebih banyak mengejar gosip-gosip artis. Ketika sampai pada resensi film, itu cuma sebatas sinopsis. Terkadang akhir filmnya dikasih tahu (<em>spoiler</em>).</p>
<p><strong>Lalu, apa yang harus diperhatikan ketika akan mengulas sebuah film?</strong><br />
Yang saya dapat selama kuliah di Amsterdam, ada 3 tingkatan teori film, dan menurut saya bisa diterapkan di kritik film. Pertama, teori film awal. Dari ontologis, film dianggap sebagai sulapan atau seni. Dari sisi epistemologi, pengkajian dilihat dari sudut aspek spiritual dan vitalitas kehidupan, dari segi estetis, ia preskriptif. Pertanyaan dasarnya: Seperti apa film yang baik.  Pendekatannya biasanya Impressionistik dan puitis. Jadi bagus-jelek nya masih panduan. ini yang umum dilakukan wartawan film yang baik di sini. Tapi ini level terbawah.</p>
<p><strong>Lalu yang kedua?</strong><br />
Yang kedua, teori film modern yang secara ontologis memandang film sebagai sistem yang terstruktur dan tertutup dan berpandangan film sebagai ilusi dari realitas.  Secara epistemologis, ia menilik relasi ideologis kehidupan. Dari sisi estetika, ia deskriptif.  Pertanyaan basisnya: “bagaimana sebuah film menciptakan makna (tersembunyi). Pendekatan Semiotik, <em>Psychoanalysis</em>, Naratologi, Feminisme, dan (Post)kolonial  acap dilakukan di sini, juga sistem Hollywood Klasik (Elsaesser) dan <em>self-reflexivity</em>.</p>
<p><strong>Wah.. kompleks juga ya?</strong><br />
Memang.. jadi pendekatannya: &#8220;bagimana memaknai film&#8221;. Ini yang dari tadi saya maksudkan. Bagaimana memproduksi makna, bagaimana &#8220;membaca&#8221; film. Dan menurut saya, ini yang kita perlukan sekarang.</p>
<p><strong>Mmm.. bagaimana dengan teori terakhir?</strong><br />
Yang terakhir adalah temuan Kiwari, yaitu teori film baru. Di sini, film adalah prosthesis dari tubuh dan pikiran. Ia membalik teori modern,yaitu mengupas film sebagai realitas dari ilusi.  Ia membahas relasi mikropolitis, juga puisi rasa (<em>senses</em>) dan afek. Di Eropa, ia membahas tentang hubungan film dan ilmu syaraf, misalnya. Pertanyaan awalnya adalah: apa yang bisa dilakukan sebuah film pada saya? Apa yang membuat saya mengalami (<em>experience</em>) film?  Pendekatan ini dilakukan oleh Sobchack dan Cavell (<em>Phenomenology</em> ) serta Deleuze (dwilogi Cinema, dan <em>Schizoanalysis</em>).</p>
<p><strong>Wah.. rumit sekali ya yang ketiga, karena  sudah sampai pada taraf psikologi penonton.</strong><br />
Ya, yang ketiga ini terlalu mewah dan belum waktunya menurut saya. Orang-orang nggak cuma nonton, tapi aktif. Film tidak dianggap sebagai hiburan belaka. tapi sebuah produk budaya. Ini yang menjadi kebijakan rumahfilm.org, yaitu film sebagai produk budaya.  Bagaimana penonton &#8220;mengalami&#8221; film. Di Amsterdam, malah sudah ada kerjasama antara akademisi film dengan para pakar bedah syaraf untuk melihat reaksi otak saat melihat film.</p>
<p><strong>Apakah seorang <em>filmmaker</em> selalu menyelipkan makna tertentu di dalam filmnya? Atau penonton sendiri yang memaknainya? Misalnya seperti metafora zombie tadi.</strong><br />
Bisa dua-duanya, bisa juga salah satunya. Kalau pakai teori <em>encoding/ decoding</em> dan representasi-nya Stuart Hall, ada 3 unsur (mirip-mirip &#8220;The Author is Dead&#8221; nya Barthes sih). Pertama adalah sutradara dengan segala macam visi, misi, pesan, niatan, dll. Kedua adalah filmnya itu sendiri. Dan ketiga, penonton. Bagaimana sebuah isu direpresentasikan dalam film. Apa yang diinginkan dan dibicarakan dalam film ini? Tentu ini berbeda dengan apa yang ingin diinginkan dan dibicarakan si pembuat film.</p>
<p><strong>Kalau menurut Barthes, pembacaan yang dilakukan oleh penonton itu adalah tahapan konotasi.</strong><br />
Ya, bisa jadi ketemu tuh antara sutradara dan penonton. Tapi kalau beda juga nggak masalah.</p>
<p><strong>Kalau berbicara tentang <em>filmmaker</em> Indonesia. Apakah mereka sudah memperhatikan dan memikirkan &#8220;makna&#8221; film buatan mereka? Atau mereka justru tidak mempedulikan itu karena hanya memikirkan sisi komersil?</strong><br />
Ya balik ke teorinya Pak Salim Said. Ada <em>filmmaker</em> yang idealis, yang ingin mengekspresikan pikiran, gagasan, kegelisahan. Ada juga filmmaker yang komersil, yang mengikuti pasar. Mengutip Djamaluddin Malik, bapak industri film kita, &#8220;Kalau penonton ingin India, kita kasih film gaya-gaya india!&#8221;. Nah, generasi sekarang kayaknya berupaya menggabungkan keduanya, ada yang gagal, tapi ada juga yang berhasil meskipuni nggak banyak. Tapi yaa.. bahkan film-film kacrut bisa juga dimaknai oleh penonton, kan? Kenapa ada film macam ML, DO, tentu itu menggambarkan kualitas masyarakat, dalam batas tertentu.</p>
<p><strong>Mungkin itu &#8216;kelebihan&#8217; film-film kacangan,maknanya sudah langsug bisa diketahui, tanpa perlu &#8220;pembacaan&#8221; lebih serius lagi.</strong><br />
Kemarin ikut seminar film dan sensor. Erros Djarot bilang, dia nggak marah &#8220;Lastri&#8221; dilarang FPI. Karena, salah satu jawabannya, bagaimanapun mereka menggambarkan bagian dari keterbelakangan masyarakat kita. Ada lho pengkajian khusus film-film James Bond, misalnya. Atau film-film horror Wes Craven.</p>
<p><strong>Ada ya komunitasnya?</strong><br />
Maksud saya, ada kajiannya di buku, atau jurnal-jurnal film. Hehehe</p>
<p><strong>Ooh.. saya pikir ada komunitas khusus yang rutin menggelar diskusi film.</strong><br />
Saya pernah bikin &#8220;Terang Boelan&#8221; untuk itu. Nanti <a href="http://www.rumahfilm.org">rumahfilm.org</a> akan ada semacam klub BF, klub baca film. Bahkan ada juga kajian khusus film-film <em>exploitation</em> dan cult <em>cinema</em>.</p>
<p><strong>Nah.. <em>cult cinem</em>a. Sebenarnya apa arti &#8220;<em>cult</em>&#8220;? Dan film- film seperti apa yang dikategorikan kedalam <em>cult</em>?</strong><br />
Coba cek di <a href="http://www.cultographies.com">www.cultographies.com</a> atau <a href="http://www.cultmediastudies.ning.com">www.cultmediastudies.ning.com</a>.</p>
<p><strong>Hehe.. iya, sudah saya lihat. Tapi masih bingung dengan definisi pastinya. Apakah Indonesia punya film cult?</strong><br />
Banyak banget! Sebagian malah diedarkan di luar negeri dengan label Mondomacabro (<a href="http://www.mondomacabrodvd.com">www.mondomacabrodvd.com</a>) dan Troma (<a href="http://www.troma.com">www.troma.com</a>). Tapi mereka lebih ke <em>exploitation cinema</em>, dan bagiku udah berstatus <em>cult</em>.</p>
<p><strong>Dulu saya menganggap film cult itu pasti indie, dan film yang memiliki cerita yang tidak gampang dicerna otak karena mungkin terlalu.. <em>poetic</em>?</strong><br />
Ya nggak dong. Kalau yang saya baca, <em>cult</em> itu dibagi dua: <em>classical</em> dan <em>midnight movie</em>. Sederhananya, film <em>cult</em> mempunyai fans yang militan. Dan saya mengkhususkan pada yang kedua. Berbeda dengan <em>mainstream</em>, <em>cult</em> melawan arus dan dianggap <em>bad taste</em>, juga bertetangan dengan norma. Dan biasanya ditonton berulang-ulang, lagi dan lagi.</p>
<p><strong>Mmm.. bisa saya simpulkan bahwa film cult adalah film-film yang tidak laris di pasaran?</strong><br />
Belum tentu tidak laris. &#8220;Lady Terminator&#8221; atau &#8220;Pembalasan Ratu Pantai Selatan&#8221; bagaimana? Lalu, film-film yang diputar di layar tancap? Aku pernah tulis soal ini di Media Indonesia. Saya menganggap tradisi <em>midnight movie</em> adalah layar tancap dan (dulu) <em>drive in </em>Ancol. Jadi kayaknya, semakin sulit suatu film didapatkan, maka semakin <em>cult</em> film itu. Misalnya, betapa senangnya hati saya menemukan film-film Suzanna dan Barry Prima di Pasar Festival.</p>
<p><strong>Apa film-filmnya Warkop DKI juga temasuk &#8216;<em>cult</em>&#8216; ?</strong><br />
Kayaknya sih iya. Tapi masuknya ke klasik, bukan yang <em>midnight movie</em>. Eh, apa nggak ya? Harus diteliti lagi. Hehehe.. Tapi kalau dari militansi penonton sih iya.</p>
<p><strong>Di website <em>cultographies</em> tadi, Titanic juga dikategorikan sebagai film &#8216;<em>cult</em>&#8216; karena ditonton berulang-ulang. Berarti sebuah film laris pun bisa masuk sebagai film &#8216;<em>cult</em>&#8216; ya asalkan menciptakan penonton fanatik dan militan, begitu?</strong><br />
Betul.. &#8220;Ada Apa Dengan Cinta&#8221; lama-lama juga cult tuh. Hehehe.. Bagaimana dengan &#8220;Ayat-ayat Cinta&#8221;? Kalau nonton karena alasan ideologis, memang <em>cult</em>. Tapi kan nggak melabrak nilai.</p>
<p><strong>Ooh.. ok. Itu dari sisi satu jenis film, <em>cult</em>. Kalau dari sisi filmmakernya sendiri, siapa sutradara favorit Anda?</strong><br />
Usmar ismail, Sjumandjaya, siapa lagi ya? Banyak sih.. Ravi Bharwani, keluarga besar Makhmalbaf aku suka semuanya, Majid Majidi, Jafar Panahi, Amenabar, Innaritu, dan Del Toro.</p>
<p><strong>Wah, saya terlalu banyak nonton film Hollywood sepertinya. Dari semua nama yang anda sebutkan, saya cuma &#8216;kenal&#8217; Alejandro Gonzales Innaritu!</strong><br />
Hehehe.. saya juga suka <em>filmmaker</em> Neorealis Italia, khususnya Vittorio de Sica dan Roberto Rossellini. Oh ya, &#8220;Jermal&#8221; adalah salah satu film indonesia terbaik sepanjang masa.</p>
<p><strong>Jermal? Saya belum nonton.</strong><br />
Memang baru diputar Maret 2009.</p>
<p><strong>Ooh.. pantas saja. Kalau sutradara lokal generasi terkini bagaimana?</strong><br />
Riri Riza patut disebut juga, khususnya untuk film &#8220;Eliana Eliana&#8221;. Garin Nugroho saya juga suka. Halah banyak banget! Top 3 Sutradara favorit saya salah satunya Yasmin Ahmad. I love her ideas and all of her works!</p>
<p><strong>Kemballi ke pekerjaan Anda, sebenarnya fokus rumahfilm.org sendiri mencakup apa saja?</strong><br />
Sampai saat ini sih masih jurnal populer tentang film. Fokusnya ke seni kepenulisan film. Tapi kami punya banyak rencana, misalnya akan ada festival film, atau diskusi dan putar film rutin, semacam itu.</p>
<p><strong>Anda sendiri menjabat sebagai apa di rumahfilm.org ?</strong><br />
Saya sebagai redaktur.</p>
<p><strong>Kesibukan lain di luar itu?</strong><br />
Saya juga sebagai penulis lepas di media (selalu saya unggah kok setiap dimuat), fokusnya film, tapi yang lain seperti musik bisa juga. Saya kan baru pulang dari kuliah S2 Film Studies di Amsterdam, jadi masih adaptasi lagi.</p>
<p><strong>Dari dulu sudah tertarik dengan tulis menulis dan film ya?</strong><br />
Saya wartawan sejak 1999, dan pada 2000 masuk Astaga! dan jadi wartawan hiburan/ gaya hidup. Nah setahun kemudian, astaga.com buka kanal astaga! layar, dan sejak itu saya fokus ke film. Eh ngomong-ngomong, kamu sudah pernah baca buku-buku ku belum? Ada tuh beberapa di: <a href="http://www.books.google.com">www.books.google.com</a>.</p>
<p><strong>Mmm.. coba ya sebentar saya cek.</strong><br />
Hehehe.. jadi promosi.</p>
<p><strong>Wah.. ternyata saya punya salah satu buku Anda!</strong><br />
Serius? Yang mana tuh?</p>
<p><strong>Iya, yang judulnya &#8220;Why Not: Remaja Doyan Flsafat?&#8221;  Saya beli waktu kelas 3 SMA dulu. Sewaktu lagi nyusun karya tulis. Kebetulan saya mengangkat soal budaya pop masyarakat Jakarta.</strong><br />
Hehehe.. itu sebagian tulisan kolomku di Tabloid Agenda.</p>
<p><strong>Sekarang lagi nulis untuk media apa aja?</strong><br />
Tulisanku baru aja dimuat di majalah Trax, tentang band dangdut bule. Ini band orang-orang indo/<em>indisch</em> di Amsterdam. Mereka bikin band dangdut (pertama dan satu-satunya) di Belanda, dan merekam Inul beberapa tahun sebelum Inul rekaman dan ngetop. Nama bandnya Dangdut Bule, salah satu albumnya judulnya Belandut.</p>
<p><strong>Belandut?</strong><br />
Belanda Dangdut.</p>
<p><strong>Hahaha..</strong><br />
Aku wawancara orangnya, dia sekarang personel salah satu band indo-rock yang paling oke, &#8220;Tjendol Sunrise&#8221;.</p>
<p><strong>Wah.. band apa lagi tuh?</strong><br />
Mereka anak-anak muda, ngefans sama Tielman Brothers, terus bikin <em>homage</em>. Mereka kolaborasi dengan Andy Tielman di album 21st First Century Rock. Aku tulis kok, dan aku unggah juga di blogku.</p>
<p><strong>Mmm.. lalu apa rencana Anda ke depan?</strong><br />
Aku kan baru balik S2, jadi sekarang masih adaptasi gitu deh. Santai aja dulu dengan nulis lepas di berbagai media, sambil cari beasiswa lagi. Aku juga lagi garap film dokumenter soal Andy Tielman. Ini proyek pribadi.</p>
<p><strong>Wah, sepertinya menarik. Meskipun saya bukan seorang penggemar Tielman Brothers. Kenapa memilih Andy Tielman, ada alasan khusus?</strong><br />
Berangkat dari selera pribadi. Dan kedekatan pribadi tentunya.</p>
<p><strong>Ok Mas, semoga sukses dengan proyek film dokumenternya. Kabar-kabari ya kalau sudah rampung penggarapannya. Dan terimakasih banyak lho untuk ngobrol-ngobrolnya!</strong><br />
Sama-sama. Jangan lupa kabari juga ya kalau sudah diunggah di blogmu.</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">******</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:left;">Info lebih lanjut seputar Ekky Imanjaya:<br />
<a href="http://www.facebook.com/wall.php?id=592032217&amp;banter_id=564897178&amp;show_all#/profile.php?id=635775494&amp;v=info&amp;viewas=564897178">Facebook</a><br />
<a href="http://ekkyij.multiply.com">Multiply</a><br />
<a href="http://www.rumahfilm.org">rumahfilm</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolankopi.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolankopi.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolankopi.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolankopi.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/obrolankopi.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/obrolankopi.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/obrolankopi.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/obrolankopi.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolankopi.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolankopi.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolankopi.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolankopi.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolankopi.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolankopi.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=113&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/12/16/5-ekky-imanjaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bcd13f4cf3e80dd4d796813d35546ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">obrolankopi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/12/ekky2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ekky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>#4 &#8211; Nuril Herlambang</title>
		<link>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/11/27/4-nuril-herlambang/</link>
		<comments>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/11/27/4-nuril-herlambang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 07:31:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>obrolankopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Visual Jockey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolankopi.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Teman Ngobrol #4: Nuril Herlambang/ 22 th/ Visual Jockey (Motioninja) Jakarta ***** &#8220;Lurus-lurus banget juga nggak enak. Sedikit melenceng nggak haram kok!&#8221; Nuril dalam satu kalimat? Nuril.. tinggi, putih, masih kuliah sih di Moestopo angkatan 2004. Bisa dibilang pekerja malam, tapi bukan PSK lho! Lho, memang masih tedaftar di Moestopo? Seharusnya sih masih. Cuma ya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=65&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/11/aaaaaa.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-66" title="nuril" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/11/aaaaaa.jpg?w=604" alt="aaaaaa"   /></a></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Teman Ngobrol #4</span>:</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Nuril Herlambang/ 22 th/ Visual Jockey (Motioninja)</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Jakarta</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong></strong></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:center;"><em>&#8220;Lurus-lurus banget juga nggak enak. Sedikit melenceng nggak haram kok!&#8221;</em></p>
<p style="text-align:center;"><em><span id="more-65"></span><br />
</em></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:left;"><strong>Nuril dalam satu kalimat?</strong><br />
Nuril.. tinggi, putih, masih kuliah sih di Moestopo angkatan 2004. Bisa dibilang pekerja malam, tapi bukan PSK lho!</p>
<p><strong>Lho, memang masih tedaftar di Moestopo?</strong><br />
Seharusnya sih masih. Cuma ya begitu deh.. Banyak juga kok teman seangkatan yang senasib sama gue, misalnya vokalis band terkenal itu contohnya. Hehe.. cari teman banget ya? Eh eh.. Nggak usah ngomongin kuliah dulu kali ya, skip aja masalah yang satu itu.</p>
<p><strong>Ok.. sekarang kita lanjut ke topik lo sebagai &#8220;pekerja malam&#8221;. Sebenarnya lo kerja sebagai apa sih?</strong><br />
Kerjaan gue sekarang sih jadi VJ, tapi bukan VJ MTV itu.</p>
<p><strong>Video Jockey maksudnya? Atau VJ yang lain?</strong><br />
Ada yang lain selain <em>Video Jockey </em>dan<em> Visual Jockey</em>?</p>
<p><strong>Oh ok.. So, you must be a visual jockey. Kerjaan Visual Jockey itu sendiri apa aja?</strong><br />
Sebenernya VJ cuma istilah aja kali ya. Karena kalau kasarnya ya sebagai Operator. Cuma bedanya kalau Operator nggak mabuk, kalau VJ di klub bisa mabuk! Hehehe</p>
<p><strong>Hehe.. Jadi itu nilai &#8220;plus&#8221; nya? Apa VJ cuma kerja untuk acara-acara clubbing aja?</strong><br />
Nggak juga sih. Kerjaannya sama-sama mengoperasikan visual kok. Itu dia maksud gue bedanya Operator dan VJ. Orang-orang masih menganggap kalau VJ kerjanya di klub aja, padahal bisa yang lain juga kok. Misalnya tampil bareng band atau saat konferensi pers, pameran dll. Intinya, dimana ada <em>screen</em>/ plasma/ LED, disitu pasti ada orang yang mengoperasikan layar itu. Nah itu yang disebut sebagai VJ.</p>
<p><strong>Ooh.. ok. Terus bagaimana awalnya lo bisa jadi <em>Visual Jockey</em>? Apa lo memang sudah dari dulu tertarik dengan dunia motion graphic?</strong><br />
Awalnya sih gue cuma jadi penonton dan suka EDM seperti kebanyakan orang yang suka pergi kesana kemari. Sampai gue kenal orang yang namanya Bayu. Akhirnya gue diajarin banyak sama dia tentang visual, software sampai hardware perlengkapan VJ itu sendiri.</p>
<p><strong>EDM?</strong><br />
Electronic Dance Music.</p>
<p><strong>Jadi lo berdua bayu bentuk satu grup visual jockey? Ah.. apa iya disebut grup?</strong><br />
Ya bisa dibilang grup. Awalnya Bayu sudah berdiri duluan dengan bendera Motioninja. Dan gara-gara sering main itu, masuk lah gue jadi bagian Motioninja.</p>
<p><strong>Motioninja juga sering ikut kompetisi ya?</strong><br />
Kita pernah ikut yang namanya Visual Nation sebagai Guest VJ. Sama kompetisi VJ Heineken Thirst Senses taun 2007 kalau nggak salah.</p>
<p><strong>Pengalaman paling menarik waktu kalian tampil dimana?</strong><br />
Pengalaman paling menarik waktu kita main di Visual Nation sebagai Guest VJ dan tampil sebagai Finalis Heineken Thirst Senses. Trus waktu kita main di Stadium Jakarta dan membawa nama Motioninja, karena gue tau nggak sembarangan VJ yang bisa main disana kecuali Resident VJ nya sendiri.</p>
<p><strong>Menurut lo, apa sih enaknya jadi <em>Visual Jockey</em>? Gak cuma karena dapat minuman gratis seperti yang lo bilang tadi kan?</strong><br />
Hahaha.. ya nggak lah! Enak itu relatif sih ya. Dan menurut gue enak karena gue bisa kerja sekaligus mengikuti perkembangan dunia EDM itu sendiri. Ya bisa dibilang hobi yang menghasilkan uang sih.</p>
<p><strong>Wahh bener banget tuh. Nggak ada yang lebih enak dari mengerjakan sesuatu yang kita suka, dan menghasilkan uang!</strong><br />
Yap!</p>
<p><strong>Berarti karena lebih banyak tampil di acara-acara clubbing, otomatis jam kerja lo cuma saat hari Jumat-Minggu?</strong><br />
Ya bisa dibilang begitu deh. Nggak kena macet pagi dan macet sore. Bukan hidup normal ala orang jakarta lah.<br />
<strong><br />
Bener juga ya. Hehehe.. ada joke nih tentang profesi para &#8220;pekerja malam&#8221;. Katanya kalian sepi job dong setiap bulan puasa? Karena tempat-tempat hiburan seperti cub ditutup untuk sementara.</strong><br />
Mmm.. siapa bilang bulan puasa libur? Kita bisa kerjain project yang lain. Misalnya konferensi pers yang gue bilang tadi dan launching produk. Biasanya mereka minta TVC nya ditayangkan di <em>screen</em>. Nah event-event seperti itu kan nggak kenal bulan puasa.</p>
<p><strong>Kalau disuruh pilih, lo lebih pilih tampil untuk acara-acara <em>clubbing</em> ya karena memang bagian dari hobi juga?</strong><br />
Pastinya.. tapi kadang-kadang bosan juga sih ngikutinnya.</p>
<p><strong>Dulu citra nightlife itu negatif karena nggak mungkin lepas dari alkohol dan juga <em>drugs</em>. Kalau sekarang bagaimana? Menurut lo, apakah masyarakat masih berpikiran seperti itu atau sudah lebih open minded ?</strong><br />
Kalau masalah negatif mulai dari alkohol sampai narkoba, mungkin nggak akan ada habisnya kali ya. Tapi gue yakin suatu saat nanti masyarakat juga bisa menilai sendiri mana yang benar dan mana yang salah. Kalau mau grebek ya grebek aja bandarnya, tapi jangan rusak acaranya. Kasian kan orang-orang yang datang dan cuma mau senang-senang.</p>
<p><strong>Pernah kejadian saat lo lagi tampil di sebuah event? Tiba-tiba ada razia atau justru dibubarkan secara paksa oleh ormas.</strong><br />
Alhamdulillah pas gue main sih belum pernah. Tapi dulu, baru datang belum ada 15 menit, musik sudah dipaksa berhenti. Dan ruangan mendadak terang! Hahaha</p>
<p><strong>Digrebek polisi?</strong><br />
Iya.. Disuruh keluar dan diperiksa ini itu. Pakai copot sepatu segala karena kaus kaki ikut diperiksa! Males kan yang seperti itu. Datang mau senang-senang, keluar malah deg-deg-an. Dan untungnya sih gue sama teman-teman nggak kenapa-kenapa.</p>
<p><strong>Ya karena nggak bisa dipungkiri juga sih kalau acara-acara semacam itu dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk &#8216;cari keuntungan&#8217;.</strong><br />
Memang sih.. tapi kasihan pihak EO/ Club itu sendiri. Party-goers nya juga merasa dirugikan.</p>
<p><strong>Kira-kira sampai kapan nih lo berkecimpung di dunia EDM? Dan rencana lo ke depan apa?</strong><br />
Mmm.. kalau sampai kapannya, gue juga belum tahu. Niatnya sih kalau sudah main di Eropa gue udahan. Dan rencana kedepannya.. mungkin harus banyak belajar kali ya tentang motion graphic itu sendiri, biar lebih bagus materi yang gue tampilkan. Terus bisa main di eropa deh. Amien.. Eh, lo amien juga dong!</p>
<p><strong>Hahaha.. Ok, amin! Memang obsesi kalian tampil di acara apa di Eropa? dan apakah Ibiza jadi &#8220;tanah suci&#8221; kalian juga seperti party-goers lainnya?</strong><br />
Nggak, bukan Ibiza. Gue pribadi lebih pilih main di Glastonburry. Entah kapan gue bisa main disana, tapi yang jelas itu impian gue jadi VJ. Kepingin nggak sih lo main bareng band kelas dunia di festival sekelas Glastonburry?? Gue rasa itu impian semua orang!</p>
<p><strong>Come on.. Glastonburry? Jangankan main bareng, bisa nonton band-band yang tampil di festival itu aja, sudah jadi berkah buat gue (dan sebagian orang mungkin!)</strong><br />
Yaa itu juga sih, kalau gue kan ditambah sambil main. Jadi biar CV gue keren gitu!</p>
<p><strong>Menambah deret panjang pengalaman kerja di CV maksudnya? What a cool way!</strong><br />
Ya standar lah, setiap orang pasti kepingin CV nya terlihat keren.</p>
<p><strong>Anyway.. lo bisa jelasin gak enaknya telibat di dunia EDM? Karena gue pribadi tipe orang yang kurang bisa menikmati suasana semacam itu. You know, electronic dance music pumping on the stereo and people are dancing around.</strong><br />
Mungkin sebagian orang datang ke club cuma ingin seru-seruan. Datang menikmati suasana, buang uang, mabuk, terus pulang. Tapi ada juga yang datang karena suka sama musiknya. Crowd di Jakarta semakin pilih-pilih menurut gue. Jadi semua balik lagi ke orangnya. Yang datang untuk cari jodoh juga ada lho! Hahaha</p>
<p><strong>Oh ya? Ada cerita lucu nggak tentang orang-orang yang datang untuk sekedar untuk eksis atau cari jodoh?</strong><br />
Ada.. waktu itu tempat gue main kebetulan jadi satu sama DJ <em>booth</em>. Tiba-tiba ada orang yang kasih HP ke gue dan request lagu. Gue cuma bilang, &#8220;Mas Mas saya VJ, DJ Nya disebelah nih yang pakai headphone!&#8221; Ada juga waktu gue tampil di acara <em>outdoor</em> yang sudah jelas-jelas ada &#8216;peraturannya&#8217; wajib memakai baju santai dan sendal. Ternyata masih ada orang-orang yang datang dengan kemeja dan celana panjang. Bahkan ada cewek yang datang dengan high heels! Aneh sih memang.. tapi mau bagaimana lagi? Namanya juga crowd.</p>
<p><strong>Justru orang-orang yang ingin eksis itu yang (terlalu) memperhatikan penampilan ya?</strong><br />
Nah itu dia! Sebagian masih beranggapan, &#8220;Gue oke nih pakai hak tinggi datang ke rave party.&#8221; Padahal disitu jelas-jelas tertulis dilarang memakai sepatu hak tinggi!</p>
<p><strong>Hehehe.. Cukup untuk pekerjaan. Sekarang kita masuk ke topik kehidupan pribadi.</strong><br />
Nah ini.. Apa nih? Ini sekaligus infotainment juga ya?</p>
<p><strong>Tenang, nggak usah panik begitu dong.</strong><br />
Oke..</p>
<p><strong>Selain jadi VJ, kegiatan lo di waktu senggang apa aja nih? Tentunya selain kuliah yang nggak pernah lo datengin ya.</strong><br />
Hahaha.. chatting, nongkrong, kerjain materi kerjaan, dan sekali-sekali godain adik teman yang cantik boleh lah. Ups..</p>
<p><strong>Naughty boy!</strong><br />
Lurus-lurus banget juga nggak enak. Sedikit melenceng nggak haram kok. Hihihi</p>
<p><strong>Sejauh ini, apa lo sudah puas dengan hidup lo?</strong><br />
Belum nih.. gue belom bisa pakai toga kayak orang kebanyakan. Tapi kata teman gue, nggak ada yang spesial dari wisuda. Jadi gw urungkan niat dulu deh. Tunggu ada yang bilang enak banget, baru digeber lagi kuliahnya!</p>
<p><strong>Ok, gue anggap itu bukan sindiran.</strong><br />
Hahaha</p>
<p><strong>Jadi kesimpulannya, lo terobsesi menjadi seorang sarjana dan tampil di Glastonburry. Berarti di luar itu, lo sudah cukup puas dengan hidup lo?</strong><br />
Kalau dibuat daftarnya, masih banyak obsesi yang belom tercapai. Tapi salah satunya, yah nggak perlu muluk-muluk, gue mau makan sushi bareng teman kuliah gue. Karena gue mau buktiin kalau gue nggak muak makan sushi! Yayy..Yayy..Yayyy !!</p>
<p><strong>Hahahha.. tapi apa lo sebenarnya memang nggak suka sushi? Karena katanya waktu makan sushi di sebuah resto sushi terkenal di sebuah mall, lo muntah di tempat!</strong><br />
Mmm.. jadi begini ceritanya. Waktu itu gue makan sushi bareng teman-teman gue. Pada saat itu gue memang belum pernah makan sushi. Karena baru pertama kali, gue pesen sushi komplit. Isinya ada telur ikan, gurita, belut, dan yang aneh-aneh lainnya. Alhasil.. muntah lah gue di meja saat itu juga! Beberapa waktu setelah itu, ada satu perempuan yang ajak gue makan sushi. Pada awalnya gue nggak mau, tapi dia paksa dengan bilang sushi itu enak. Dan dia pesan sushi yang menurut dia itu enak. Pas gue makan, ternyata rasanya nggak se-jijik yang pernah gue makan sebelumnya. Kenapa sampai skarang gue bisa suka? Karena gue pesan sushi persis seperti yang dipesan perempuan itu! Selain dari itu nanti dulu deh. Sekarang gue udah punya menu jagoan!</p>
<p><strong>Wah.. Memang apa menu jagoannya?</strong><br />
Salmon Sashimi dan Edamame. Sama teh dinginnya itu apa namanya? Gue takut salah sebut, nanti diketawain. Namanya juga anak baru makan sushi.</p>
<p><strong>Ocha maksudnya?</strong><br />
Nah itu, Ocha!</p>
<p><strong>Pada dasarnya lo memang nggak alergi seafood kan?</strong><br />
Nggak, makan aja selagi bisa dimakan. Asal racikannya enak.</p>
<p><strong>Makanan yang enak itu seperti apa menurut lo? Ada syarat khusus nggak? Misalnya, menurut gue makanan akan terasa lebih enak kalau pedas.</strong><br />
Nggak ada syarat khusus. Pakai Pork, MSG, Melamin, Formalin. Campuran itu enak semua kok kalau menurut gue. Asal nggak kebanyakan sih enak-enak aja. Dulu sebelum tau, kita makan ikan pakai formalin tetap enak kan? Waktu kita nggak tau makan tahu atau tempe berformalin, rasanya tetap enak juga kan? Bakso pakai MSG? Enaaakkkkkk.. Babi panggang? Uhmmm.. yummyy.. semua enak-enak aja kok!</p>
<p><strong>You&#8217;re sick man! Hahaha.. bisa masak nggak? Atau lo tipe orang yang cuma bisa makan tapi nggak bisa masak?</strong><br />
Standar.. gue laki-laki yang suka makan tapi nggak bisa masak. Makanya kriteria calon istri gue adalah harus bisa masak! Kasihan kan nanti anak gue kalau ditanya sama gurunya.. &#8220;ini masakan siapa?&#8221; dan anak gue menjawab..&#8221;Masakan pembantu&#8221;.</p>
<p><strong>Selain bisa masak, kriteria istri ideal menurut seorng Nuril Herlambang seperti apa?</strong><br />
Bisa masak itu harus. Pokoknya yang kayak nyokap gue deh! Putih misalnya. Pintar? Bolehlah.. Tinggi? Relatif lah.. Tapi biasanya cewek sekarang nggak tinggi-tinggi banget. Iya nggak sih?</p>
<p><strong>Ah nggak juga. Memangnya lo merasa terintimidasi ya kalau pasangan lo lebih tinggi dari?</strong><br />
Nggak ah.. Siapa juga yang nggak mau pacaran sama cewek tinggi? :p</p>
<p><strong>Menurut lo, kenapa laki-laki suka dengan image perempuan seperti yang ada di iklan? Salah satu teman gue bilang kenapa dia suka perempuan berambut panjang karena biar bisa dibelai. Apa iya cuma itu alasannya?<br />
Ya</strong> nggak lah, terlalu pendek kalo berpikirnya seperti itu. Rambut pendek juga bisa dibelai kok, mungkin terlihat lebih tomboy aja kali ya. Mmm.. Ini betul-betul lebih dari infotainment! Sebentar lagi web ini jadi biro jodoh saya rasa! Hahaha</p>
<p><strong>Namanya juga Obrolan Kopi. Dari hati ke hati pastinya! Hehehe.. Sekarang gw mau tanya, gaya bebuasana favorit lo seperti apa? Dan apa urusan penampilan selalu jadi perhatian utama lo setiap mau tampil atau dalam keseharian?</strong><br />
Nggak lah, gue sih santai banget. Selama nggak ribet. Biasanya cuma pakai jeans sama kaos aja, kadang-kadang ditambah jaket.</p>
<p><strong>Cukup sederhana juga ya ternyata.</strong><br />
Yup.. nggak usah ribetlah.</p>
<p><strong>Dan apakah lo termasuk fanatik dengan sebuah merk?</strong><br />
Brand minded? Nggak sih.. Selama enak dipakai dan nyaman, ya ok-ok aja.</p>
<p><strong>Mmm.. sekarang kita berandai-andai ya. Kalau dikasih satu kesempatan untuk kembali ke masa lalu, apa yang ingin lo ubah?<br />
</strong>Mmm apa ya? Gue nggak mau kebut-kebutan naik motor yang bikin kaki gue sampai kayak begini.</p>
<p><strong>Berapa lama waktu itu masa penyembuhannya? Sekarang sudah normal lagi kan? Atau justru ada sedikit &#8216;kelainan&#8217; yang buat lo berharap nggak kebut-kebutan waktu itu?</strong><br />
3 tahun, dan itu menderita sekali! Nggak enak deh pokoknya! Alhasil sekarang gue jadi nggak bisa lari cepet lagi. Huhuhu</p>
<p><strong>Yah setidaknya kalau dulu lo nggak kebut-kebutan dan kaki lo nggak patah, masih ada kemungkinan kan nantinya lo bakal kebut-kebutan patah kaki di masa depan?</strong><br />
Nggak juga lah.. gue amat sangat menyesali kebiasaan kebut-kebutan di jalan itu.. Aarrrgghh!</p>
<p><strong>Sisi baiknya, kejadian kecelakaan itu mengubah lo menjadi anak &#8216;baik-baik&#8217; selama 3 tahun kemarin.</strong><br />
Hahaha..</p>
<p><strong>Ok, last words buddy. Siapa orang yang lo jadikan role model, dan kenapa?</strong><br />
Ashton Kutcher. Dia orangnya santai, nggak ribet, dan.. pacaran sama Demi Moore! Viva MILF!</p>
<p><strong>MILF?</strong><br />
Mom i Love To ****</p>
<p><strong>Heeyyyyy&#8230;!!</strong><br />
HIDUP TANTE DEMI MOORE!</p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:left;">Info lebih lanjut seputar Nuril Herlambang:</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/home.php?#/profile.php?id=773363221&amp;v=info&amp;viewas=564897178" target="_blank">Facebook</a><br />
<a href="http://profile.myspace.com/index.cfm?fuseaction=user.viewprofile&amp;friendid=147413433" target="_blank">MySpace</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolankopi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolankopi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolankopi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolankopi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/obrolankopi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/obrolankopi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/obrolankopi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/obrolankopi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolankopi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolankopi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolankopi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolankopi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolankopi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolankopi.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=65&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/11/27/4-nuril-herlambang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bcd13f4cf3e80dd4d796813d35546ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">obrolankopi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/11/aaaaaa.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">nuril</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>#3 &#8211; Arga Baskoro</title>
		<link>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/11/25/3-arga-baskoro/</link>
		<comments>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/11/25/3-arga-baskoro/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 09:18:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>obrolankopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Ambassador]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolankopi.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Teman Ngobrol #3: Arga Baskoro/ 20 th/ Duta Remaja Jakarta ***** &#8220;Kalau saya tidak yakin akan diri saya untuk bisa memenangkan kontes tersebut, saya tidak akan ikut kompetisi itu, akan membuang waktu, uang dan tenaga.&#8221; Hey Arga, dengar-dengar kamu baru jadi juara Remaja Ceria 2008. Selamat ya! Thanks ya! Bisa cerita nggak, itu kontes apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=43&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/11/arga.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-46" title="arga" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/11/arga.jpg?w=200&#038;h=300" alt="arga" width="200" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Teman Ngobrol #3</span>:<br />
Arga Baskoro/ 20 th/ Duta Remaja<br />
Jakarta</strong></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong>*****</strong></p>
<p style="text-align:center;"><em>&#8220;Kalau saya tidak yakin akan diri saya untuk bisa memenangkan kontes tersebut, saya tidak akan ikut kompetisi itu, akan membuang waktu, uang dan tenaga.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:center;"><em><span id="more-43"></span><br />
</em></p>
<p><strong>Hey Arga, dengar-dengar kamu baru jadi juara Remaja Ceria 2008. Selamat ya!</strong><br />
Thanks ya!</p>
<p><strong>Bisa cerita nggak, itu kontes apa sih sebenarnya?</strong><br />
Kontes itu sebenarnya pencarian duta remaja yang bisa mencerminkan sisi yang lain dari remaja itu sendiri. Disini kita diharapkan bisa menjadi contoh yang baik untuk remaja. Dimana kita harus bisa memenuhi 5 aspek yang ada, yaitu Cerdas, Energik, Responsif, Inovatif, dan Adaptif. Dan kelima aspek itu terangkum dlm kata CERIA itu sendiri.</p>
<p><strong>Oh ok. Terus kontes ini ditujukan untuk remaja dimana saja? Lokal atau Nasional?</strong><br />
Menjangkau remaja se-Indonesia.</p>
<p><strong>Wow.. berarti kamu mengalahkan finalis lain se-Indonesia dong?</strong><br />
Ya begitulah kira-kira.</p>
<p><strong>Finalis dari mana aja yang jadi saingan kamu di final?</strong><br />
Wakil satu putra dari DKI Jakarta, yang putri dari Bangka Belitung. Wakil 2 putra dari Bangka Belitung, putrinya dari Jawa Barat. Harapan 1 putra dari Banten, putri DkI Jakarta. Harapan 2 putra dari sulawesi barat, putrinya dari Sulawesi Utara. Selain memperebutkan 5 besar, kita juga mempunyai 3 kategori lain, yaitu Bintang simpatik Indonesia, yang dimenangkan oleh Putra DKI 8, putrinya saya lupa. Kemudian ada kategori favorit yang dmenangkan oleh putra Jawa Barat 6 dan putri DI Yogyakarta. Serta kategori persahabatan dimenangkan oleh Putra Kal-Tim dan putri Banten 2.</p>
<p><strong>Wah.. hebat juga ya kamu hapal semuanya! Tapi ngomong-ngomong, umur kamu berapa sih? Memang masih termasuk kategori remaja?</strong><br />
Well i&#8217;m 20 years old.</p>
<p><strong>Ah.. masa sih? Coba ya, kamu kan seangkatan sama saya, 2004. So you must be.. 22 years old!</strong><br />
Hahaha.. saya masuk TK nya kecepetan. Jadi bisa seangkatan sama kamu</p>
<p><strong>Memang batasan umur kontes Remaja Ceria itu berapa?</strong><br />
Kontestan harus berumur minimal 14 dan maksimal 19 thn (ketika mendaftar).</p>
<p><strong>Oooh&#8230; Kamu memang suka mengikuti kontes-kontes seperti itu ya?</strong><br />
Bisa dibilang begitu. Ini tahun kedua saya mengikuti kontes RC itu sendiri. Tahun lalu saya tidak lolos menjadi finalis di Jakarta Timur. Namun tahun ini siapa sangka saya bisa menjadi anugerah di DKI Jakarta dan Anugerah Di Indonesia.</p>
<p><strong>Sebenarnya apa tujuan kamu mengikuti kontes-kontes semacam ini?</strong><br />
Yang jelas, saya ingi cari pengalaman dan teman baru, serta menambah ilmu juga. Tapi yang paling penting adalah saya ingin memenangkan kompetisi itu sendiri.</p>
<p><strong>Kenapa kamu begitu terobsesi untuk bisa memenangkan kompetisi itu? Apa kamu ada niat untuk jadi seleb?</strong><br />
Kalau saya tidak yakin akan diri saya untuk bisa memenangkan kontes tersebut, saya tidak akan ikut kompetisi itu, akan membuang waktu, uang dan tenaga. Just like nike motto, <em>&#8220;If you don&#8217;t want to be no.1, why you start it!&#8221;</em> Dan.. niat jadi artis? Mmm.. mungkin iya. Hanya saja selama masa bakti saya tidak bisa menggunakan ke&#8221;duta&#8221;an saya sebagai batu loncatan. Dan itu bukan tujuan saya mengikuti kontes tersebut.</p>
<p><strong>Berarti bisa dibilang, kontes-kontes semacam itu lah yang kamu gunakan sebagai batu loncatan untuk terjun ke dunia entertainment?</strong><br />
Tidak juga. Tapi kalau memang itu bisa mempermudah langkah saya, kenapa tidak. Saya ingin dinilai sebagai pekerja seni yang memang mempunya bakat bukan dari orang melihat saya sebagai duta atau sebagainya.</p>
<p><strong>Memang cita-cita kamu sebenarnya mau jadi apa?</strong><br />
Duta besar</p>
<p><strong>Wah, saya seperti bertanya sama anak kecil saja ya?</strong><br />
Kan anda bertanya kepada duta remaja!</p>
<p><strong>Benar juga ya!</strong><br />
Hehehe</p>
<p><strong>Dimulai dari Duta Remaja, lalu pelan-pelan merangkak menjadi Duta Besar.</strong><br />
Amien.</p>
<p><strong>Lalu selain mengikuti kontes-kontes semacam itu, kegiatan kamu sehari-harinya apa?</strong><br />
Saya adalah mahasiswa semester akhir di Trisakti, jurusan Akuntansi.</p>
<p><strong>Mmm.. Akuntansi? Kenapa tidak ambil jurusan HI saja sekalian demi menunjang impianmu sebagai Dubes?</strong><br />
Saya melihat adanya peluang lain. Di dunia kerja saya melihat seseorang itu tidak harus bagus di satu bidang. Kalau saya mau tembus menjadi seorang Dubes, saya harus punya sesuatu yang berbeda dengan kandidat yang lain. Banyak lulusan HI namun hanya itu yang mereka punya. Jika saya menjadi Dubes, saya tidak hanya bisa berbicara sebagai seorang yang hanya bisa mempromosikan indonesia saja. Tapi saya bisa mengerjakan hal lain.</p>
<p><strong>Tugas kamu sebagai Duta Remaja apa saja?</strong><br />
Karena saya juga memenangi kompetisi ini di DKI dan Indonesia saya punya tugas ganda. Pertama, untuk DKI saya bertugas untuk mempopulerkan olahraga, dan juga membantu remaja untuk memaksimalkan potensi diri yang mereka punya. Sedangkan untuk Duta Remaja Indonesia, saya harus mempromosikan salah satu program dari SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu) yaitu mobil pintar, motor pintar, rumah pintar, dan juga diharapkan bisa menjadi tutor dalam ketiga program tersebut.</p>
<p><strong>Apa kamu nantinya akan berkunjun ke daerah-daerah juga demi menjalankan program-program itu?</strong><br />
Saya masih belum tahu, tapi kemungkinan itu ada. Kalau pun tidak, para peserta RC indonesia diharapkan bisa membantu tugas tersebut di daerah masing-masing.</p>
<p><strong>Khusus untuk tugas kamu sebagai duta DKI, ya karena kita berdua tinggal di Jakarta, menurut kamu tantangan terbesar yang dihadapi remaja Jakarta saat ini apa sih?</strong><br />
Ada banyak, yang pertama adalah narkoba, yang kedua adalah penyimpangan sex, seperti gay, dll. Itu adalah pengamatan saya. Narkoba memang sudah menjadi musuh besar dari dulu.</p>
<p><strong>Bagaimana soal pendidikan?</strong><br />
Untuk pendidikan, DKI sudah cukup baik.</p>
<p><strong>Mungkin dari kurikulumnya memang lebih baik dibandingkan daerah-daerah lain. Tapi bagaimana dengan kebiasaan tawuran atau kultur gank dan premanisme yang kembali marak kita lihat di sekolah-sekolah?</strong><br />
Dari segi kurikulum sebenarnya kita punya kurikulum yang sama, hanya saja SDM pengajarnya yang berbeda. Kalau menurut saya itu adalah kesalahan guru dari sekolah tersebut. Ketidakmampuannya menjaga anak didik merupakan kesalahan guru itu sendiri.</p>
<p><strong>Jadi menurut kamu, keliaran dan kebringasan anak murid sepenuhya tanggung jawab dan salah guru-guru itu sendiri?</strong><br />
Tidak sepenuhnya</p>
<p><strong>Lalu bagaimana kamu melihat fenomena tersebut?</strong><br />
Dunia selalu berputar, kita seperti kembali ke jaman 1990-an dimana tawuran marak. Namun hal itu bisa berhenti. Ketika para guru merasa telah berhasil menangani hal tersebut, mereka terlena sehingga pengawasan terhadap muridnya berkurang.</p>
<p><strong>Lalu apa usul atau solusi yang bisa kamu berikan sebagai Duta Remaja untuk mengurangi kultur premanisme para pelajar di Jakarta?</strong><br />
Pendekatan guru terhadap muridnya. Murid itu harus selalu diawasi. Jadikan murid itu teman.<br />
<strong><br />
Misalnya dengan cara apa kamu mensosialisasikan &#8216;usul&#8217; kamu tersebut? Karena sepertinya kultur yang ada pada pelajar tersebut sudah turun temurun. Misalnya perploncoan yang dilakukan oleh senior kepada juniornya. Ketika juniornya habis diplonco oleh senior, saat itu juga mereka &#8216;dendam&#8217; akan berlaku sama ketika mereka sudah menjadi senior nanti.</strong><br />
Saya melihat perpeloncoan itu tidak selamanya negatif. Ketika saya SMU, ada yang namanya TO (Trip Observasi) dan LDKS. Disitu kita di plonco habis-habisan, disuruh lari, push up, they yelled at us! Tapi kita sebagai junior tidak ada dendam. Seharusnya tiap sekolah punya kegiatan seperti itu.<br />
<strong><br />
Semua sekolah menerapkan perploncoan yang sehat seperti yang kamu bilang tadi. Mungkin istilah plonco ini sudah lama ditinggalkan ya. Yang sekarang sering dipakai sekarang adalah orientasi sekolah. Tapi ya tetap saja di beberapa sekolah terkenal, aksi senioritas tersebut tetap berlangsung.</strong><br />
Nggak bisa dipungkiri. Di SMU saya dulu, Labschool pun juga pernah terjadi. Pasti ada alasan akan kenapa hal itu bisa terjadi. Mungkin juniornya yang kurang bersahabat. Tapi hal itu tidak terjadi lagi ketika tahun berikutnya. Si junior yang menjadi senior itu menyadari memang dia salah. Dan dia melihat hal itu tidak ada gunanya.</p>
<p><strong>Ok, bagaimana dengan program-program lain yang akan kamu jalankan?  Apakah kamu punya program sendiri sebagai Duta Remaja, selain yang memang sudah ditetapkan?</strong><br />
Sejauh ini saya akan fokus pada kuliah saya dulu.</p>
<p><strong>Mulai kapan kamu akan bertugas kalau begitu?</strong><br />
Saya akan mengerjakan tugas saya saja. Saya sudah bertugas mulai hari ini, hanya saja jadwal tugas saya masih belum dikirim.</p>
<p><strong>Jadi bagaimana waktu pelaksanaan tugas kamu sebenarnya?</strong><br />
Untungnya saya adalah mahasiswa smester akhir jadi tidak terlalu menggangu jadwal kuliah. Dan ya memang waktu tugas saya di luar waktu kuliah. Karena kami adalah duta pendidikan makanya tugas yang diberikan selalu diluar jadwal belajar kami.</p>
<p><strong>Jadi rencana kamu ke depan apa nih, setelah kamu lulus kuliah dan tugas sebagai Duta Remaja juga selesai?</strong><br />
Saya akan meneruskan kuliah S2, dan saya ingin mempunyai rumah pintar.</p>
<p><strong>Penerus <em>first lady</em>-nya Indonesia dong!</strong><br />
Amien</p>
<p><strong>Ceritakan konsep Rumah Pintar yang menjadi impian kamu itu.</strong><br />
Rumah pintar itu akan seperti rumah singgah, dimana anak-anak kurang mampu bisa mendapatkan pendidikan nonformal untuk menyimbangkan pendidikan formal yang telah dia dapat. Karena untuk survive di Jakarta tidak hanya harus pintar, tapi harus mempunyai skill yang berbeda dengan yang lain.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan mereka yang sama sekali belum pernah mendapatkan pendidikan formal?</strong><br />
Pemerintah DKI telah menyediakan SD gratis, dan SMP serta SMU terbuka yang dtujukan untuk mereka yang kurang mampu. Seharusnya permasalahan biaya bukan lah sesuatu yang dpermasalahkan lagi. Tapi yang jadi masalah adalah niat dari orangtua dan anak itu sendiri, apakah mau bersekolah atau tidak.</p>
<p><strong>Kamu yakin? Sampai sekarang pendidikan gratis sepertinya masih sebatas wacana dan janji.</strong><br />
Saya rasa itu tidak benar. Saudara-saudara saya banyak yang bersekolah disekolah gratis tersebut.</p>
<p><strong>Tapi kenapa masih banyak yang mengeluhkan tentang tidak adanya pendidikan gratis? Dan apakah kamu juga menangani masalah anak jalanan?</strong><br />
Apakah permasalahan itu berkaitan dengan pendidikan?</p>
<p><strong>Pastinya! Harusnya seumuran mereka sedang berada di sekolah dan mengenyam pendidikan, bukan berkeliaran di jalan dan dijadikan pekerja oleh para orangtua atau &#8216;boss&#8217; jalanan.</strong><br />
Memang seharusnya tidak seperti itu. Tapi mereka pun tidak lupa bersekolah, mungkin mereka bekerja setelah sekolah. Melihat hal itu saya sangat ingin membuat rumah pintar. Karena saya menginginkan mereka bekerja lebih layak. Saya berharap dengan adanya rumah pintar, mereka akan diajarkan untuk bisa menciptakan sesuatu yang bisa dijual. Namun tidak di pinggir jalan.</p>
<p><strong>Ya saya harap tugas kamu sebagai Duta Remaja nanti tidak melupakan eksistensi anak jalanan yang masih perlu mendapatkan pendidikan dan pelatihan.</strong><br />
Insya Allah, doakan saja.</p>
<p><strong>Mmm..sekarang beralih ke kehidupan pribadi. Apa kegiatan kamu di waktu senggang?</strong><br />
Kegiatan saya di waktu senggang adalah baca buku, jalan-jalan, MSN-an dan YM-an.</p>
<p><strong>Seperti remaja kebanyakan.</strong><br />
Yup.</p>
<p><strong>Lalu bagaimana kamu melihat diri kamu 5 tahun mendatang?</strong><br />
Saya akan menikah, bekerja di luar negri, sukses, hidup mapan, dan bahagia.</p>
<p><strong>Amin..</strong><br />
Ya, amien..</p>
<p><strong>Memangnya sudah punya calon istri sekarang?</strong><br />
Alhamdulillah jomblo. Hahaha.. Tapi ada yang sedang saya dekati. Doakan saja, semoga hasilnya sesukses di kontes.</p>
<p><strong>Ooh.. ok. Memang bagaimana tipe perempuan idaman kamu?</strong><br />
Baik, seiman, dan rambut panjang.</p>
<p><strong>Rambut panjang? Apakah kamu penganut perempuan itu sebaiknya berambut panjang?</strong><br />
Begitulah.</p>
<p><strong>Waahh.. sebagai perempuat berambut pendek saya tidak sependapat nih sama kamu! So you&#8217;d better give me a GOOD reason! Hahaha</strong><br />
Alasannya sederhana. Saya suka rambut perempuan panjang karena bisa dibelai. Cuma itu aja kok alasannya.</p>
<p><strong>Cuma itu?</strong><br />
Iya.</p>
<p><strong>Atau kamu juga menganggap kalau perempuan berambut panjang itu lebih cantik? Ya, seperti di iklan-iklan. Perempuan itu cantik kalau tinggi, langsing, rambut panjang, dan berkulit putih.</strong><br />
Tidak juga. Cantik itu relatif. Wulan guritno berambut pendek, tapi dia cantik.</p>
<p><strong>Jadi definisi cantik menurut seorang Arga Baskoro itu seperti apa?</strong><br />
Cantik itu harus punya <em>attitude</em> yang baik.</p>
<p><strong>Seperti apa <em>attitude</em> yang baik itu?</strong><br />
Punya <em>manner</em> yang baik.</p>
<p><strong>Mmm.. saya masih kurang jelas. Apa ini berarti, seorang perempuan itu harus seperti kultur jawa yang kemayu dan lemah lembut?</strong><br />
Apakah ukuran <em>manner</em> yang baik itu selalu dikaitkan di kultur Jawa? Saya rasa tidak juga.</p>
<p><strong>Hahaha.. Ya memang tidak. Tapi siapa tahu kamu penganut paham itu. Bahwa perempuan sebaiknya bersikap layaknya seperti Putri Keraton.  Sesuai dengan stigma perempuan jawa yang lemah lembut.</strong><br />
Oh kalau itu sih nggak juga kok.<em> Oh,  i&#8217;ve got to go.</em> Mau masak makan malam dulu. Maklum, nggak ada &#8216;bedinde&#8217; nih. Hehehe</p>
<p><strong>Oh ok kalau begitu.  Sekali lagi, selamat ya!</strong><br />
Terimakasih.</p>
<p><strong>Selamat masak!</strong><br />
Ok.. Bye!</p>
<p style="text-align:center;">******</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:left;">Info lebih lanjut seputar Arga Baskoro:<br />
<a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=651100007" target="_blank">Facebook</a><br />
<a href="http://profiles.friendster.com/57201646" target="_blank">Friendster</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolankopi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolankopi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolankopi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolankopi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/obrolankopi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/obrolankopi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/obrolankopi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/obrolankopi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolankopi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolankopi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolankopi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolankopi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolankopi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolankopi.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=43&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/11/25/3-arga-baskoro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bcd13f4cf3e80dd4d796813d35546ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">obrolankopi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/11/arga.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">arga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>#2 &#8211; Irvin Aldianto</title>
		<link>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/11/24/2-irvin-aldianto/</link>
		<comments>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/11/24/2-irvin-aldianto/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 12:50:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>obrolankopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[journalist]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolankopi.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Teman Ngobrol #2: Irvin &#8220;Qtink&#8221; Aldianto/ 22 th/ Journalist (HAI Magazine) Jakarta ***** &#8220;Dengan masuknya saya ke pekerjaan ini, makin banyak musik yang masuk ke kuping saya&#8230;which is good!&#8221; Ok, sekarang perkenalkan diri dulu dong. Saya Irvin Aldianto&#8230;biasa dipanggil Irvin. I&#8217;m just an ordinary kinda guy, who loves music, words, movie, travel, design, and everything [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=30&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/11/qtink.jpg"><img class="size-full wp-image-31 aligncenter" title="qtink" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/11/qtink.jpg?w=604" alt="qtink"   /></a></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Teman Ngobrol #2</span>:<br />
Irvin &#8220;Qtink&#8221; Aldianto/ 22 th/ Journalist (HAI Magazine)<br />
Jakarta</strong></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong>*****</strong></p>
<p>&#8220;Dengan masuknya saya ke pekerjaan ini, makin banyak musik yang masuk ke kuping saya&#8230;which is good!&#8221;</p>
<p><span id="more-30"></span></p>
<p><strong>Ok, sekarang perkenalkan diri dulu dong.</strong><br />
Saya Irvin Aldianto&#8230;biasa dipanggil Irvin. I&#8217;m just an ordinary kinda guy, who loves music, words, movie, travel, design, and everything in between. Masih kuliah (walaupun sewajarnya udah nggak), dan bekerja di salah satu majalah remaja. Masih menumpang hidup di rumah orangtua, dan masih menggunakan berbagai fasilitas yang disediakan.</p>
<p><strong>Hehehe.. Ok. Penjabaran yang cukup menarik. Terutama bagian dimana sewajarnya sudah tidak kuliah lagi. Sekarang ceritain dong tentang kerjaan lo di majalah remaja itu. Pastinya berhubungan sama hobi-hobi kamu dong ya?</strong><br />
Sedikit banyak iya. Walaupun nggak semua hobi saya bisa tersalurkan disitu ya. Paling nggak, <em>my biggest passion, which is music</em>, bisa disalurkan. Di majalah itu, saya mengawaki bidang hiburan. Dimana didalamnya ada musik, film, lifestyle, dan sport. Alhamdulillah, sampai saat ini saya selalu mendapat jatah di musik dan film. Bagaimana dengan <em>sport?</em> Maaf, tapi itu bukan bagian saya, dan &#8220;bukan gw banget&#8221;. Bukannya saya nggak suka olahraga, tapi saya kurang tertarik untuk tahu lebih banyak mengenai olahraga.</p>
<p><strong>Very well described, a good denial too actually!</strong><br />
Hahaha&#8230;</p>
<p><strong>Jadi sekarang kamu tetap kuliah sambil bekerja ya?<br />
</strong>Yap.. Walaupun sampai sekarang masih suka bingung dalam hal membuat prioritas.</p>
<p><strong>Apakah stigma &#8220;kuliah-kerja = lulus telat&#8221; terbukti di kamu?</strong><br />
Gimana maksudnya?</p>
<p><strong>Seperti tadi kamu bilang, kamu masih kuliah. Padahal sewajarnya sudah lulus. Jadi apakah karena bekerja, kuliah kamu jadi terganggu?</strong><br />
Ahh &#8230; itu bukan alasan sebenarnya. Perihal pekerjaan menganggu kuliah itu sebenarnya sebuah <em>excuse</em> saja sih menurut saya. Padahal kalau mau lebih berusaha dalam mengatur waktu, keduanya bisa berjalan dengan baik. Itu juga yang terjadi sama saya. Kuliah saya berantakan, bukan karena pekerjaan. Memang karena saya yang kurang bisa, dan kurang mau mengatur waktu.</p>
<p><strong>Dengar-dengar waktu itu kamu pernah jadi pembicara dalam sebuah acara di kampus kamu, mahasiswa berbakat ya kalau tidak salah?</strong><br />
Bukan mahasiswa berbakat, tapi mahasiswa inspiratif. Lagipula, dimana letak bakat saya sebenarnya, saya juga kurang tahu sampai sekarang! Hahaha<br />
<strong><br />
Dan katanya ada cerita lucu ya waktu itu? Bagaimana tuh ceritanya?</strong><br />
Ya memang ada beberapa cerita, yang sebenarnya meurut saya tidak lucu. Saya tidak tahu bagaimana gaya berpakaian yang layak saat menjadi pembicara seminar. Jadi seperti biasa, saya hanya mengenakan kaos, celana jins, <em>sneakers</em>, dan <em>track jacket</em>. Begitu naik panggung, saya terkejut karena semua pembicara memakai kemeja, celana bahan, dan bahkan jas! Sedangkan pembicara wanitanya menggunakan kemeja, <em>blazer</em>, rok pendek, serta sepatu berhak. <em>&#8220;Yah, sikat aja lah. </em><em>Bodo amat dengan pakaian!&#8221; </em>ujar saya dalam hati waktu itu.<br />
<strong><br />
Memang sangat kontras sih! Hehehe</strong><br />
Ya. kontras memang. Tapi mau bagaimana lagi? Dan karena saya belum pernah menjadi pembicara seminar sebelumnya, waktu itu saya tidak menyiapkan bahan untuk presentasi sama sekali. Sedangkan pembicara lain sudah menyiapkan bahan-bahan lengkap untuk ditampilkan dengan program Power Point. Alhasil saya hanya mengoceh dan mengoceh saja ketika giliran saya tiba. Bingung juga kenapa mereka menganggap saya inspiratif.</p>
<p><strong>Sekarang ceritakan juga dong tentang salah seorang peserta seminar yang ternyata teman sekelas dan juga junior kamu.</strong><br />
Ya.. singkat cerita, saya harus mengulang beberapa mata kuliah yang belum lulus. Ada  juga yang memang belum saya ambil. Saya pun harus rela masuk di kelas junior, tapi saya lupa tepatnya angkatan berapa. Antara 2 sampai 3 tahun dibawah saya. Kemudian saya duduk di deretan paling belakang. Seorang mahasiswi di sebelah saya mencolek  dan bertanya, <em>&#8220;Kak, kakak bukannya yang waktu itu jadi Inspirational</em> <em>Student ya?&#8221;.</em> Saya terkejut! Bagaimana bisa dia masih ingat wajah saya? <em>&#8220;Iya, itu gue&#8221;,</em> jawab saya singkat. Lalu mahasiswi itu kembali bertanya, <em>&#8220;Bener kan kakak yang waktu itu jadi Inspirational </em><em>Student? Kok kakak belum lulus sih?&#8221;</em>. Darrrr! Rasanya seperti ada petir menyambar di sore hari yang disinari matahari yang hangat!!</p>
<p><strong>Hahaha.. pukulan telak itu ya!</strong><br />
Ya jelas! Beruntung terlintas jawaban singkat di kepala.. &#8216;&#8221;Oh iya..emang belum lulus, tapi sebentar lagi kok. Lagian, inspiratif kan bukan berarti harus bagus di bidang akademis,&#8221; jawab saya sambil mengangkat pantat, dan pelan-pelan <em>ngeloyor</em> keluar kelas. Hahaha</p>
<p><strong>Nah, itu baru namanya pembelaan!</strong><br />
Betul! Pembelaan demi sebuah gelar yang abu-abu, dan nama yang mulai terciprat kotoran..<br />
<strong><br />
Good point! Beralih lagi ke soal musik, lagu-lagu apa aja yang ada di playlist belakangan ini?</strong><br />
Wah, kalo ngomongin <em>playlist</em>, susah juga. Dengan masuknya saya ke pekerjaan ini, makin banyak musik yang masuk ke kuping saya&#8230;which is good! Saya menjadi lebih terbuka terhadap segala jenis musik. Tapi yang susah adalah waktu untuk &#8220;mencari&#8221; musik jadi sedikit berkurang. Saat ini ada beberapa album yang sering saya putar. Diantaranya Scarlett Johansson &#8211; Anywhere I Lay My Head, Zeke and the Popo &#8211; Space in the Headlines, Tom Waits &#8211; Rain Dog.</p>
<p><strong>Wow.. nice pick!</strong><br />
Ada beberapa lagi, The Cure &#8211; Wish (yang mana tidak bisa lepas dari <em>playlist</em> saya), Blur &#8211; Parklife, Radiohead &#8211; The Bends.</p>
<p><strong>Well well well.. rupanya ada yang rindu dengan masa-masa brit invasion dulu? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </strong><br />
Naahh.. di situlah awal ketertarikan saya pada musik. Meskipun sedari kecil saya udah dicekoki dengan The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Pink Foyd oleh ayah saya; Van Halen, Bon Jovi, Mr. Big oleh paman saya; tetapi era itu lah (Brit invasion -red) yang membuat saya mencintai musik. Era itu yang membuat musik menjadi bagian hidup saya. Tentunya nggak lupa di mana kebodohan ala remaja terjadi di era itu pula.<br />
<strong><br />
Pastinya kamu pernah merasakan jadi salah satu pengunjung setia acara-acara musik britpop dulu ya.</strong><br />
Tentu!</p>
<p><strong><em>Yeah</em>.. Siapa yang tak kenal Gueni?</strong><br />
Jangan lupakan Poster, dan GM 2000! Mana bisa lupa juga dengan Marimba!</p>
<p><strong>Semoga kamu dulu tidak ikutan memakai kaos ketat dan rambut belah pinggir!<br />
</strong>Hohoho<br />
<strong><br />
Do you really called yourself <em>&#8220;anak indies&#8221; </em>back then?</strong><br />
Absolutely! saya selalu menyebut dan berharap saya jadi anak <em>indies</em>! Hahaha.. Saking pengen total jadi <em>indies</em>, saya sempat menyesal kenapa rambut saya keriting, jadinya kan nggak bisa dibelah pinggir! Hahaha.. Beruntung kemudian saya melihat The Beatles, Gallagher brothers from Oasis, dan the almighty Graham Coxon yang tampil dengan rambut <em>moptop</em>.</p>
<p><strong>You were absolute poser, mate!</strong><br />
Absolutely! Nggak ada orang yang betul-betul nggak pernah jadi poser.</p>
<p><strong>Benar juga sih. Tapi semakin bertambah umur, semakin kita sadar kalau ternyata kita dulu &#8216;menjijikan&#8217;?</strong><br />
Bukan menjijikkan, mungkin mengecewakan. Tapi selalu ada nilai positif dari sebuah kekecewaan, bukan?</p>
<p><strong>Kok mengecewakan?</strong><br />
Mengecewakan, karena secara tidak sadar, kita pernah menjadi sosok seperti anak muda jaman sekarang, yang sesekali pernah kita pandang sebelah mata.</p>
<p><strong>Apa setiap anak muda selalu mengalami fase &#8216;<em>poser</em>&#8216; seperti itu ya? Ketika mereka begitu memuja-muja idolanya, dan mencoba menjadi imitasi idolanya itu.</strong><br />
Menurut saya, iya. Tapi mari lah menganggap fase &#8216;<em>poser</em>&#8216; itu sebagai fase pembelajaran. Selalu ada <em>trial and error</em> kan?</p>
<p><strong>Tapi kalau cuma tataran penampilan saja, itu buang-buang waktu kan?</strong><br />
Nah mungkin fase tersebut jadi bagian dari <em>trial and error</em>. Tidak selamanya buang buang waktu kok. Paling tidak mereka jadi tahu, apakah dengan tampil seperti itu mereka bisa jadi nyaman? Kalau yang tidak merasa nyaman, pasti tidak lama setelah itu, akan kembali berganti kulit. Lain dengan yang merasa nyaman. Bukan tidak mungkin dia akan lebih mempelajarinya, tidak hanya kulitnya saja.</p>
<p><strong>Sebagai seorang jurnalis musik , bagaimana kamu melihat fenomena fans musik sekarang ini?</strong><br />
Fans musik sekarang? Ada fenomena apa memang yang terjadi dengan fans musik sekarang?<br />
<strong><br />
Ya sebut saja Modern Darlings (fans The Upstairs), Nidjiholic (fans Nidji), bahkan fansnya Radja yang entah apa namanya.</strong><br />
Ah, itu tidak jauh beda dengan yang terjadi sebelumnya.</p>
<p><strong>Sepengamatan kamu, sejauh apa para fans-fans itu terinspirasi oleh idola mereka?</strong><br />
Untuk sekarang, gaya si idola terlihat &#8216;cool&#8217;, dan lagu mereka bisa menjadi anthem untuk diri si fans. Masih nggak jauh beda dengan apa yang terjadi sebelumnya kan? Malah, kalau mau dibilang, fans era sebelum ini lebih massive lagi sifat mengidolakannya. Ada beberapa kubu yang sampai mengikuti lifestyle dan ideologi si idola.</p>
<p><strong>Saya pikir kondisi fans sekarang yang lebih khusuk mengimitasi idola. Lihat saja kehebohan Modern Darlings dan Nidjiholic.</strong><br />
Oww.. jangan salah! Di konser Bjork beberapa waktu yang lalu, fansnya lebih khusuk lagi dalam hal mengimitasi. Sampai-sampai, dia memakai kostum angsa, yang pernah digunakan bjork dalam sebuah acara! And guess what, she&#8217;s 20 something years old! Late 20!</p>
<p><strong>Aahh.. sayang saya melewatkan konsernya waktu itu!</strong><br />
Hehehe.. tapi kita harus mengucapkan selamat untuk Jimi dan teman-temannya di The Upstairs, karena berhasil &#8216;meracuni&#8217; remaja ibukota.<br />
<strong><br />
Ya menurut saya itu prestasi besar untuk ukuran band lokal!</strong><br />
Ya.. Semoga mereka bisa me-<em>maintain</em> fanbase mereka dengan bagus, sehingga bisa menciptakan adegan dikibarkannya bendera The Upstairs, di setiap konser, meskipun hari itu the upstairs tidak mengisi acara.<br />
<strong><br />
Saya rasa untuk lima tahun kedepan belum ada yang bisa menggeser Slankers dan Oi! Hahaha</strong><br />
Mereka tidak bisa digeser, hanya bisa disejajarkan.<br />
<strong><br />
Ya, siapa yang bisa menggeser fans yang jumlah lebih dari pemilih saat pemilu</strong><br />
Betul! Meskipun Iwan Fals-nya sendiri sekarang lebih asik menjadi brand ambassador, ketimbang membuat lagu-lagu memorial lagi.</p>
<p><strong>Ahh ya.. produk apa, saya lupa.</strong><br />
Saya juga lupa. Mmm.. Sebuah motor kalau tidak salah.<br />
<strong><br />
Ya mungkin itu sebagai sumber dana segar kilat.</strong><br />
Ya.. siapa juga yang tidak membutuhkan uang di masa sekarang.</p>
<p><strong>Menurut kamu, apakah uang bisa membeli kebahagiaan?</strong><br />
Tergantung bagaimana kita mengeluarkan uang itu. Kalau uang itu dikeluarkan untuk membeli ratusan CD dan vinyl album musik, membeli tiket konser dan festival musik, saya pun bahagia! Hahaha<br />
<strong><br />
<em>Yeah</em>.. Ada anekdot yang bilang bahwa orang yang mengatakan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan adalah mereka yang tidak pernah merasakan mempunyai uang.</strong><br />
Tentu.. Siapa yang tahu bahwa mereka akan bahagia dengan mengeluarkan uang untuk <em>travelling</em> ke Maroko, Eropa, Karibia, kalau mereka belum pernah mencoba.</p>
<p><strong>Waaahhh.. kalau begitu saya juga termasuk kelompok itu. karena saya juga belum pernah!</strong><br />
Ya, kita masuk kelompok itu. Karena pasti kita pernah berpikir, dan mengucapkan pada diri sendiri, &#8220;Uang tidak bisa membeli kebahagiaan,&#8221; yang lebih diposisikan sebagai penyemangat. Padahal, itu hanya pembenaran bukan?</p>
<p><strong>Saya sendiri mengartikan itu sebagai ungkapan bahwa uang tidak berarti apa-apa jika tidak ada orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita untuk menikmatinya.</strong><br />
Betul. Ditambah lagi, uang tidak berarti apa-apa kalau kita tidak tahu pasti kemana uang itu akan kita keluarkan.</p>
<p><strong><em>Indeed!</em> Ironis ya, ada orang yang tidak tahu harus mencari uang dengan cara apa. Sementara di sisi lain, ada orang yang kehabisan ide mau menggunakan uangnya untuk apa.<br />
</strong>Dan lebih ironisnya lagi, kita tidak tahu apakah kita akan masuk ke kelompok &#8220;tidak tahu mencari uang dengan apa&#8221; atau tidak!</p>
<p><strong>OK, saya tidak akan menganggap itu sebagai sebuah sindiran!</strong><br />
Bukan sindiran, untuk saya, itu lebih kepada pengingat untuk diri sendiri.<br />
<strong><br />
Ok ok. Apology accepted! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </strong><br />
Hahaha</p>
<p><strong>Sebelum mengakhiri obrolan, apa cita-cita kamu dalam hal kehidupan pribadi, pekerjaan, dan cinta tentunya?</strong><br />
Ini berkaitan dengan &#8220;<em>mortal happiness</em>&#8220;, isn&#8217;t it? Cita-cita. Mmm.. Cita-cita berarti kita tidak harus melihat realita di sekitar bukan? Hehe</p>
<p><strong>Bebas, cita-cita dan mimpi itu kan gratis!</strong><br />
Untuk kehidupan pribadi, saya ingin mempunyai keluarga kecil bahagia, dengan teman-teman yang juga bahagia di sekeliling saya. Pekerjaan yang tetap berhubungan dengan <em>passion</em> saya. Dan cinta&#8230;<br />
<strong><br />
That&#8217;s the hardest?</strong><br />
Not the hardest, the complicated one.. Let see what God can do with my lovelife.</p>
<p><strong>Hehehe.. menyerah?</strong><br />
Pasrah mungkin lebih mewakili. Karena saya belum bisa memastikan apa yang saya kejar dalam cinta. Konteks cinta disini terhadap pasangan kan?<br />
<strong><br />
Tentunya.</strong><br />
Ya.. cinta adalah seni dalam hidup. Dan seni selalu berevolusi.<br />
<strong><br />
Asal tahu saja, saya nggak</strong><strong> terima sesi curhat setelah ini ya!</strong><br />
Yaaahhh.. curhat dong!</p>
<p><strong>Aahhh&#8230;. bisa semingu penuh!<br />
</strong>Hahaha</p>
<p><strong>Last words buddy. Apa quote favorit kamu? Saya selalu tanya ini kepada semua orang. Sekedar ingin lihat juga apa yang membuat mereka termotivasi.</strong><br />
&#8220;Thank you&#8221;. That&#8217;s my favorite quote, i guess.</p>
<p><strong>Thank you? That&#8217;s not a quote. Apa spesialnya menurut kamu?</strong><br />
Well.. If you need a longer quotations, &#8220;Thank you, and be careful&#8221;</p>
<p><strong>Hahaha..  that&#8217;s weird! But that&#8217;s fine with me. Ok Irvin a.k.a Qtink, &#8220;terimakasih&#8221; atas waktunya dan &#8220;hati-hati dijalan&#8221;!<br />
</strong>Sama-sama. Thanks for the chat too! Kebetulan saya mau ketemu dosen nih. See ya!</p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p>Info lebih lanjut seputar Irvin Aldianto:<br />
<a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1151618564" target="_blank">Facebook</a><br />
<a href="http://www.spellformoney.blogspot.com" target="_blank">Blogger</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolankopi.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolankopi.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolankopi.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolankopi.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/obrolankopi.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/obrolankopi.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/obrolankopi.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/obrolankopi.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolankopi.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolankopi.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolankopi.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolankopi.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolankopi.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolankopi.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=30&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/11/24/2-irvin-aldianto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bcd13f4cf3e80dd4d796813d35546ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">obrolankopi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/11/qtink.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">qtink</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>#1 &#8211; Eddo Dadyka</title>
		<link>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/11/21/eddo-dadyka/</link>
		<comments>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/11/21/eddo-dadyka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 08:18:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>obrolankopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Creative]]></category>
		<category><![CDATA[advertising]]></category>
		<category><![CDATA[art director]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolankopi.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Teman Ngobrol #1: Eddo Dadyka Putra Pratama/ 29 th/ Art Director (Aksara Communication) Jakarta ***** &#8220;Tidak cukup dengan sekedar tampil beda&#8230;tapi harus tampil outstanding!&#8221; So, can we start now? Yup, let we start. Ehem, nama saya Eddo Dadyka. Orang biasa memanggil saya dengan Eddo. Saya kelahiran tahun 1979. Eh, udah mulai kan? Kamu tunggu saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=3&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]&gt;--> <!--[endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--> <!--[endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]&gt;--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/11/buat-blog2.jpg"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--></span></a><a href="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/11/buat-blog2.jpg"><img class="size-full wp-image-4 aligncenter" title="Eddo Dadyka" src="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/11/buat-blog2.jpg?w=604" alt="Eddo Dadyka"   /></a></span><!--[endif]--></strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p style="text-align:center;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Teman Ngobrol #1</span>:<br />
Eddo Dadyka Putra Pratama/ 29 th/ Art Director (Aksara Communication)<br />
Jakarta</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><br />
</span></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:center;"><em>&#8220;Tidak cukup dengan sekedar tampil beda&#8230;tapi harus tampil </em>outstanding<em>!&#8221;</em></p>
<p style="text-align:center;"><em><span id="more-3"></span><br />
</em></p>
<p><strong>So, can we start now?</strong><br />
Yup, let we start. Ehem, nama saya Eddo Dadyka. Orang biasa memanggil saya dengan Eddo. Saya kelahiran tahun 1979. Eh, udah mulai kan?</p>
<p><strong>Kamu tunggu saya tanya.</strong><br />
Belum ditanya ya?</p>
<p><strong>Hahaha</strong><br />
Iya iya. Siap!</p>
<p><strong>Apa yang mendorong kamu untuk terjun di dunia periklanan?</strong><br />
Mmm… Sepertinya ketertarikan ini sejak saya SMA. Saat itu sederhananya Aku tertarik pada bidang pekerjaan yang tidak menuntut formalitas dalam berpakaian.</p>
<p><strong>Jadi bisa dibilang kalau kamu termasuk orang yang anti-konservatif?</strong><br />
Mmm… tidak juga sih sebenarnya. Aku cukup konservatif juga jika dilihat dari keseharian. Karena menurut aku pribadi, aku tipikal orang rumahan. Kalau nggak ada keperluan yasudah di rumah saja. Tp kalau dilihat dari sisi lain, aku tipikal yang ingin tahu. Contoh sederhana… kalau jalan ke kantor itu, aku coba tidak lewat jalan yang sama  setiap hari. Bahkan kalau pulang kantor aku juga nggak lewat jalan yang sama dengan berangkat.</p>
<p><strong>Bukannya itu justru bertolak belakang dengan konservatif ya? Karena kamu selalu mencoba hal-hal baru.</strong><br />
Nah itu dia makanya, aku bingung. Di satu sisi aku konservatif, tapi disisi lain aku nggak. Yah.. mencoba seimbang aja kali ya. Ada hal yang lebih baik dijalankan dengan cara konservatif ada pula yang tidak.</p>
<p><strong>Haha.. Kamu sepertinya bukan cukup konservatif, tapi cukup linglung.</strong><br />
Bukan linglung mungkin, tetapi lebih pada menyesuaikan diri dengan keadaan.</p>
<p><strong>Kembali ke masalah pekerjaan, apa hal paling menarik bekerja di dunia periklanan?</strong><br />
Jika melihat karyaku muncul di berbagai media. Terus aku bilang ke orang terdekatku, &#8220;Ini aku yang buat lho!&#8221; Itu yang membuatku bangga.</p>
<p><strong>Jadi lebih pada pengakuan kreatifitas diri?</strong><br />
Mmm… tidak ada keinginan untuk diakui kreatif, tapi mungkin lebih pada motifku dulu. Selain ingin bekerja tanpa pakaian formal, aku juga ingin membuat sesuatu yang dilihat orang. Aktualisasi diri dari apa yang kita miliki. Hahaha.. Bijak ya aku?</p>
<p><strong>Cukup bijak untuk orang yang ‘narsis’. Hehehe.. Lalu, sampai sekarang apakah kamu sudah puas dengan apa yg kamu capai?</strong><br />
Belum, mungkin juga tidak akan pernah puas.</p>
<p><strong>Apa obsesi kamu yang belum tercapai?</strong><br />
Untuk pekerjaan? Banyak.</p>
<p><strong>Diantaranya?</strong><br />
Aku ingin bikin karya yang dilihat banyak orang di <em>t</em>empat-tempat umum dalam bentuk <em>ambience</em> media.</p>
<p><strong>Oh ok. Itu masih dalam tataran keinginan atau sudah dalam proses pengerjaan?</strong><br />
Ada ditengah-tengah. Sudah ada beberapa konsep tetapi blom matang. Masih butuh penyempurnaan lagi.</p>
<p><strong>Terlepas dari obsesi-obesesi yang ada, apakah bekerja di dunia kreatif –khususnya periklanan– prospeknya menjanjikan?</strong><br />
Prospek seperti apa nih? Materi?</p>
<p><strong>Ya, pastinya merujuk kesana. Mulai dari jenjang karier, dan sebagainya. Stigma usang yang ada di masyarakat kan menganggap bahwa dunia kreatif itu kaya ide tapi miskin materi. Meskipun sekarang pemerintah kita sedang meningkatkan sektor industri kreatif.</strong><br />
Menurut aku, kalau dilihat secara materi, memang sangat menjanjikan. Tapi ada syaratnya, kita benar-benar mencintai pekerjaan ini sehingga mampu mengisi setiap karya yang kita buat dengan jiwa kita. Sehingga nanti akan terbentuk karakter di setiap karya yang kita buat. Ini yang menjadikannya mahal. Layaknya seniman aku rasa. Pelukis, penyair, penulis, dan pematung, selalu menempatkan jiwa di setiap karya mereka. Dan itu yang membedakan satu dengan yang lainnya. Intinya untuk meraih itu semua memang tidak mudah. Tidak cukup dengan sekedar tampil beda&#8230;tapi harus tampil <em>outstanding</em>!</p>
<p><strong>Jadi menurut kamu, disitu bedanya? Karakter pencipta yang tertanam dalam setiap karyanya? Karena kalau berbicara tentang niat dan kecintaan total pada pekerjaan, saya rasa tidak hanya di dunia kreatif.</strong><br />
Betul… Untuk di dunia kreatif khusunya bidang advertising yang aku lakoni ini justru lebih ambigu lagi. Karakter pencipta dalam setiap karya di dunia advertising ini harus berbagi dengan karakter produk, karakter klien, dan karakter perusahan advertising itu sendiri.</p>
<p><strong>Dalam dunia dagang kita mengenal istilah “pembeli adalah raja”. Apakah kamu merasakan hal itu juga daalm pekerjaanmu, “klien adalah raja”?</strong><br />
Ini menarik… mengutip perkataan Bonk (<em>copywriter</em> ku di kantor) klien bukan sekedar raja, tetapi lebih dari raja.</p>
<p><strong>Wow.. lebih tak berdaya lagi dong posisi kalian?</strong><br />
Sebenarnya aku kurang sepakat juga dengan hal ini. Analoginya mungkin sedikit kasar. Maksudnya begini… ketika klien adalah raja, kami di agency harus menyediakan segala yang diinginkan mereka. Tetapi jika hanya sebatas itu, kami memang kacungnya. Tetapi proses hubungannya tidak seperti itu. Kami harus mampu menyediakan sesuatu sebelum mereka memintanya. Inovasi. Jadi sebenarnya bukan klien adalah raja atau lebih dari raja. Proses hubungan kami adalah partner, layaknya suami istri, dengan produk sebagai anaknya. Bekerja sama. Jadi intinya sih sama, hanya analoginya yang berbeda.</p>
<p><strong>Jika bermain dalam persentase, berapa besar antara keinginan klien dan andil kalian dlm berkreatifitas?</strong><br />
Mmm..  nggak semudah itu juga hitung dalam perentase. Karena pada prakteknya hal itu tidak mudah. Tuntutan klien sebagai pemegang modal memang tidak bisa diremehkan. Di sini (Indonesia -red) mungkin belum bisa. Kalau tidak salah, Agency CPB (Crispin and Potter Bogusky) di Amerika pernah memecat kliennya karena sudah tidak sejalan lagi. Aku lupa deh CPB Amerika atau bukan ya? Hehehe.. Jadi andil antara keinginan klien dan kreatifitas kami untuk saat ini sebenarnya cukup berimbang. Karena mungkin ide-ide yang kami berikan cukup masuk dengan keinginan mereka. Tetapi sebenarnya bukan hanya masalah ide,  tetapi cara penyampaiann dan pola hubungan kami dengan klien. Sejauh ini aku masih percaya pada anekdot yang mengatakan bahwa bukan idenya yang ditolak, tetapi orangnya yang ditolak.</p>
<p><strong>Pernah mendapatkan klien yang memposisikan kalian sebagai ‘kacung’ ? Apa yang kalian lakukan saat itu?</strong><br />
Kacung? Mmm… pernah juga bahkan cenderung sering. Biasanya mereka akan sadar sendiri pada akhirnya. Mungkin bukan kacung secara verbal. Tetapi kebebalan mereka terhadap apa yang kami sampaikan. Kadang-kadang mereka sudah percaya dengan pola yang mereka jalani meski pola itu sudah tua. ketika kami datang dan memberi masukan dengan pola baru mereka tdk percaya. mgk standar lah, karena pola ini belum teruji sehingga mereka ragu-ragu. Tetapi pada akhirnya mereka pun menyadari dan mengikuti pola kami. Dan sayangnya memang, kesadaran seperti ini datangnya terlambat.</p>
<p><strong>Klien apa yg sering bebal terhadap ide-ide baru? Jangan bilang kalau instansi-instansi pemerintah! Hahaha</strong><br />
Yaaahh.. instansi pemerintah memang salah satunya!</p>
<p><strong>Atau justru pernah dapat klien caleg?</strong><br />
Yah, caleg juga. Untuk kasus caleg, sepertinya mereka belum sadar bentuk komunikasi yang tepat untuk saat ini jika di masa lalu mereka adalah politikus-politikus bermasalah.</p>
<p><strong>Ah ya, kalau itu sudah menjadi rahasia umum bukan?</strong><br />
Dan satu lagi untuk kasus caleg. Mereka terkadang sangat suka dengan pola komunikasi standar. Maksudnya dengan pola komunikasi satu arah lewat media massa, TVC atau print-ad. Mereka tidak sadar bahwa mereka harus mampu berdialog langsung dengan masyarakat harus ada pola-pola tersendiri untuk mengangkat citra mereka, dan TVC atau print-ad tidak membantu. Harus ada <em>activation</em> tersendiri.</p>
<p><strong>Terlepas dari sikap profesionalisme yang harus selalu ada, kamu sendiri bagaimana menilai fenomena caleg yang sepertinya berebutan ‘jualan diri’ di media?</strong><br />
Hahaha… Pemimpin itu ditunjuk bukan minta ditunjuk! Dan melihat pola kampanye mereka, aku melihatnya kok jadul ya?</p>
<p><strong>Mereka kan seperti penjual obat, yang penting teriak kencang. Masalah berkualitas atau tidak, itu urusan belakangan.</strong><br />
Itu yang menjadi masalah, pola kampanyenya jadul! Mereka teriak tentang program kerja mereka dengan istilah janji kandidat dan isi program mereka pun hanya pada permukaan saja. Contoh, jika saya terpilih maka hal pertama yang saya lakukan adalah menanggulangi kemacetan jakarta. Janji ini sudah dari jaman batu! Coba lihat sekarang… we’re still stuck in the middle of the road!</p>
<p><strong>Kalau untuk itu, satu hal yang pasti adalah stop penjualan kendaraan dan batasi penggunaan kendaraan pribadi yg sudah ada. Which is.. almost impossible?</strong><br />
Apapun langkahnya kalau pemimpin itu tidak memiliki integritas yang tinggi hasilnya adalah nol. Dan untuk masalah kepemimpinan, Indonesia sepertinya butuh pemimpin yang otoriter.</p>
<p><strong>Berarti saya asumsikan, kamu akan tergabung dalam Partai Golput untuk Pemilu 2009 nanti.</strong><br />
15 tahun lagi aku mau mencalonkan diri jadi presiden.</p>
<p><strong>Wah, kenapa harus tunggu selama itu</strong><br />
Asumsi umur Obama. Hahaha</p>
<p><strong>Oh, si “anak menteng”? Yeah rite.. Ok, kita ganti topik. Politik adalah topik yang membosankan untuk sekarang. Bagaimana dengan kehidupan pribadi? Apa kamu senang dengan kehidupan yang kamu jalani sampai saat ini?</strong><br />
Saya selalu senang dengan kehidupan pribadi saya. Apapun yang terjadi dalam kehidupan pribadiku. Setiap <em>ups and down</em>s nya, aku selalu senang. Karena apapun yang terjadi, aku tetap bisa pulang ke rumah.</p>
<p><strong>Hal menarik apa yang terjadi belakangan ini? Karena sepertinya saya bosan dengar keluhan orang-orang sekitar yang menganggap hidupnya semakin tidak menarik.</strong><br />
Hal yang menarik belakangan ini adalah aku memiliki 3 keluarga. Aku memiliki keluarga inti di Blok M. Aku memiliki keluarga dekat di Cilandak. Dan aku memiliki keluarga masa depan di Kelapa Gading.</p>
<p><strong>Ok, mungkin yg ketiga tidak perlu pembahasan mendalam demi menjaga objektifitas.</strong><br />
Iya. Hehehe… Tapi memang ketiga hal itu yang menarik untuk aku 2 tahun belakangan ini. Mereka dengan segala warna warninya membuat aku selalu dinamis.</p>
<p><strong>Speaking about ups and downs, what’s your today’s ups and down?</strong><br />
Hari ini yang membuatku semangat adalah aku belajar digital imaging lebih dalam lagi dan aku sudah menyelesaikan satu kemarin.</p>
<p><strong>Down?</strong><br />
Masalah mengorganisir diri. Lagi berantakan banget nih hari ini.</p>
<p><strong>Pekerja kreatif seperti kamu apa masih punya waktu luang? Mengingat pekerja kreatif identik dengan tidak punya office hour.</strong><br />
Waktu luang? Itu dia… Aku tipikal orang yang harus diingatkan sepertinya.</p>
<p><strong>Diingatkan?</strong><br />
Karena aku kalau udah suka sama sesuatu yang aku jalani, bisa lupa waktu. Kalau kata ilmu kedokteran, mungkin aku Autis. Hahaha.. Hidup di dalam &#8216;dunia&#8217; nya sendiri.</p>
<p><strong>Semoga itu bukan pembenaran (pembelaan?)</strong><br />
Tapi aku juga tidak ingin berlama-lama dalam pola autis ini. Dan aku tidak berharap banyak dengan orang lain yang mengingatkan. Karena aku harus jalan sendiri.</p>
<p><strong>Kamu punya hobi?</strong><br />
Hobi? Ada dong. Saat ini hobi ku bukan sesuatu yang berbau materi, tetapi lebih pada hobi memperhatikan. Sudah lama sih hobi ini. Yah, seperti yang kamu juga rasakan kalau kita lagi jalan bareng. Kita sering memperhatikan orang-orang di sekitar kita. Ini bagian dari hobiku. Aku berpikir untuk mengembangkannya. Sehingga suatu saat nanti aku akan memulai obrolan dengan orang yang aku observasi di jalan.</p>
<p><strong>Untuk dijadikan ide gambar?</strong><br />
Bukan ide gambar, tetapi kebiasaan orang-orang. Memperhatikan kebiasaan orang-orang di sekitar kita itu menarik lho! Meski blom detail, tapi aku menikmati hal ini. Ada saja hal baru yang aku dapat. Seperti waktu itu kita melihat pengamen yang diberi uang oleh pengguna kendaraan dengan cara melempar, dan si pengamen mengembalikan uang itu lalu pergi.</p>
<p><strong>Oh ya.. Si penegndara itu kaya harta tapi miskin moral!</strong><br />
Betul..</p>
<p><strong>Apakah kamu termasuk kedalam kelompok ‘penyinyir’?</strong><br />
Nyinyir? Nyinyir itu gimana maksudnya ya?</p>
<p><strong>Ya, memperhatikan lalu mengomentari. Mungkin kartun benny &amp; mice bisa dibilang kartun yang menyinyir.</strong><br />
Hahaha… bisa dikatakan iya sih. Aku memang spontan mengomentari jika hal itu menarik. Hanya saja aku belum sampai tahap Benny dan Mice yang mampu mengorganisir itu semua untuk dijadikan ide. Karena kegiatan mengobservasi hanya menjadi kegiatan sambil lalu saat ini.</p>
<p><strong>Mengamati dan mengomentari memang tiada duanya! Hehe</strong><br />
Benny mice adalah orang-orang kreatif yang sudah mengamalkan surat Al-Baqarah.</p>
<p><strong>Al-Baqarah?</strong><br />
“Bacalah… bacalah… bacalah”. Hahaha</p>
<p><strong>Nice one! Saya pikir kamu termasuk tipe pengkaji Al-Qur’an. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </strong><br />
Nggak juga sih… tetapi memang banyak sekali inspirasi disitu dan sangat dalam. Al-Baqarah salah satunya. “Bacalah dengan nama Tuhanmu”. Wah… Calm but deep!</p>
<p><strong>Bagaimana kamu memandang diri kamu sendiri dalam hal religi? Apa ada tanda hitam di kening kamu? Hehehe</strong><br />
Aku bukan tipikal religius yang shalat 5 waktu. Tapi aku juga bukan tipikal pembangkang yang tidak puasa selama satu bulan penuh. Layaknya orang kebanyakan mungkin ya. Mengadu, bersimpuh, dan sujud jika ada maunya.</p>
<p><strong>Berapa hari bolong puasa kemarin?</strong><br />
Kemarin Alhamdulillah puasa aku lengkap 1 bulan. Insya allah lulus semua.</p>
<p><strong>Dapat baju baru dong untuk lebaran?</strong><br />
Dapet dari Eddu. Hahhaha</p>
<p><strong>Lho kok justru terbalik, adik yg kasih kakaknya? Bagaimana ini..</strong><br />
Aku memberi dengan cara lain soalnya.</p>
<p><strong>Bisa ceritakan sedikit tentang hubungan kamu dan adik-adik kamu? Biasanya kakak laki-laki sedikit gengsi untuk perhatian kepada adik-adiknya.</strong><br />
Mmm… Mungkin aku saat ini lebih dekat ke Eddu ya. Karena bidang pekerjaannya kebetulan sama. Beberapa kali kami sempat brainstorm bareng ttg suatu pekerjaannya dia. Yah sejauh ini aku lebih ingin membantu apa yang dia ingin lakukan. Kalau ke Edda aku lebih cuek, tetapi bukan berarti nggak peduli. Sekedar tahu kalau saat ini sudah pindah kerja lagi. Aku tetap menyemangatinya untuk mendapatkan beasiswa belajar ke jepang. Ini salah satu motivasinya ketika dia pindah kerja. Karena menurutnya, kantor yang sekarang memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk belajar ke Jepang. Oh ya, untuk Edda aku mencoba akrab dengan pacarnya. Membuka obrolan dulu waktu pertama kali ketemu dan menyambutnya.</p>
<p><strong>Dengan harapan Edda akan berlaku yang sama dengan pacar kamu?</strong><br />
Hahaha nggak.. ini lebih kepada pengalaman pribadiku sebenarnya. Karena dulu aku paling takut kalau ke rumah cewek yang aku kenal. Keluarganya yang cowok nggak menyambutku dengan akrab. Yah dicuekin sama cowok di keluarga cewek kita kan nggak enak juga. Kesannya nggak disukain gitu.</p>
<p><strong>Ternyata pernah menjadi pacar yang tidak ‘direstui’ keluarga perempuan ya? Hehe.. Apa kamu percaya bahwa hukum karma itu benar-benar terjadi?</strong><br />
Iya. Hanya istilah mungkin ya. Karena jika kita menanam maka kita akan memetik hasilnya. Dan aku menamakan semua nya itu hukum karma. Kalau orang fisika menamakannya hukum sebab akibat, aksi reaksi. Ini adalah hukum alam paling tua. Dan pasti ada. Buat aku penamaan hukum karma itu tidak hanya untuk hal-hal yg negatif, tetapi juga semua hal positif.</p>
<p><strong>Cukup realistis. Dan apa kamu percaya takhayul? Atau sekedar penggemar ramalam zodiak dan semacamnya?</strong><br />
Mmm… takhayul. Kalau untuk sekedar ingin tau ramalan hari ini pada ketik Reg [spasi] primbon bukan percaya tahayul kan? Hahaha… Motivasiku adalah ingin tau, dan orang lain mungkin menganggap ku kurang kerjaan! Aku suka dengan tanggapan seperti itu. Karena ketika aku berbuat yang tidak biasa, berarti aku sudah mampu memberi warna lain. I like being different but i’m not really out standing though.</p>
<p><strong><em>Yeah</em>.. tapi kesannya Tuhan tidak berperan ketika kita menggantungkan nasib lewat sms. “Anda tidak cocok bekerja di air”. Iklan paling konyol yang pernah saya dengar!</strong><br />
Hahaha.. iya nanti tenggelam. Kan kamu nggak bisa berenang!</p>
<p><strong>Waahh.. Semoga kamu tidak menerima klien seperti itu nantinya.</strong><br />
Aku justru ingin terima yang seperti itu karena tantangannya menarik.</p>
<p><strong>Wah.. kamu bercanda!</strong><br />
Benar!</p>
<p><strong>Dimana menariknya?</strong><br />
Menarik! Pertama saat ini kita sudah melihat lebih banyak kontranya iklan produk seperti ini, seperti yang kamu blg konyol itu. Justru karena konyolnya itu kenapa iklannya juga nggak dibuat dengan gaya lebih bodor? Ancur dan mengocok perut.</p>
<p><strong>Ya, bahkan ada iklan provider seluler yg memparodikannya</strong><br />
Hahaha.. Iya. Kalau untuk produk-produk begini, untuk membuat yang baru lebih gampang, karena kita sudah tahu iklan sebelumnya bergaya apa. Tapi untuk yang satu ini, sisi kontroversialnya itu yang justru semakin membuatnya menarik!</p>
<p><strong>Ok ok, saya doakan kamu menangani iklan selanjutnya nanti. Ya anggap saja serial komedi berdurasi satu menit!</strong><br />
Hahaha</p>
<p><strong>Sebelum kita mengakhiri obrolan, what’s your favorite quote?</strong><br />
Yang itu tadi… <em>“Being different is not enough, try to be out standing”</em> ! Untuk sekarang quote ini yang aku suka.</p>
<p><strong>Nice one. mengingatkan saya sama perkembangan film jadinya.</strong><br />
Apa tuh?</p>
<p><strong>Tidak peduli seberapa pun<em> </em>menarik perhatiannya<em> </em>film remaja Hollywood dengan genre komedi seksual, tetap Godfather lah yang jadi legenda. Eh, sudah pas belum ya analoginya?</strong><br />
Hahaha… Ya. That’s why we need character building!</p>
<p style="text-align:center;">******</p>
<p>Info lebih lanjut seputar Eddo Dadyka:<br />
<a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=625444960" target="_blank">Facebook</a><br />
<a href="http://dadyka.viewbook.com/" target="_blank">Viewbook</a><br />
<a href="http://kurodakampe.multiply.com" target="_blank">Multiply</a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolankopi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolankopi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolankopi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolankopi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/obrolankopi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/obrolankopi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/obrolankopi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/obrolankopi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolankopi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolankopi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolankopi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolankopi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolankopi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolankopi.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolankopi.wordpress.com&amp;blog=5596081&amp;post=3&amp;subd=obrolankopi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolankopi.wordpress.com/2008/11/21/eddo-dadyka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bcd13f4cf3e80dd4d796813d35546ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">obrolankopi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://obrolankopi.files.wordpress.com/2008/11/buat-blog2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Eddo Dadyka</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
