obrolankopi

#1 – Eddo Dadyka

In Creative on November 21, 2008 at 8:18 am

Eddo Dadyka

Teman Ngobrol #1:
Eddo Dadyka Putra Pratama/ 29 th/ Art Director (Aksara Communication)
Jakarta


*****

“Tidak cukup dengan sekedar tampil beda…tapi harus tampil outstanding!”


So, can we start now?
Yup, let we start. Ehem, nama saya Eddo Dadyka. Orang biasa memanggil saya dengan Eddo. Saya kelahiran tahun 1979. Eh, udah mulai kan?

Kamu tunggu saya tanya.
Belum ditanya ya?

Hahaha
Iya iya. Siap!

Apa yang mendorong kamu untuk terjun di dunia periklanan?
Mmm… Sepertinya ketertarikan ini sejak saya SMA. Saat itu sederhananya Aku tertarik pada bidang pekerjaan yang tidak menuntut formalitas dalam berpakaian.

Jadi bisa dibilang kalau kamu termasuk orang yang anti-konservatif?
Mmm… tidak juga sih sebenarnya. Aku cukup konservatif juga jika dilihat dari keseharian. Karena menurut aku pribadi, aku tipikal orang rumahan. Kalau nggak ada keperluan yasudah di rumah saja. Tp kalau dilihat dari sisi lain, aku tipikal yang ingin tahu. Contoh sederhana… kalau jalan ke kantor itu, aku coba tidak lewat jalan yang sama setiap hari. Bahkan kalau pulang kantor aku juga nggak lewat jalan yang sama dengan berangkat.

Bukannya itu justru bertolak belakang dengan konservatif ya? Karena kamu selalu mencoba hal-hal baru.
Nah itu dia makanya, aku bingung. Di satu sisi aku konservatif, tapi disisi lain aku nggak. Yah.. mencoba seimbang aja kali ya. Ada hal yang lebih baik dijalankan dengan cara konservatif ada pula yang tidak.

Haha.. Kamu sepertinya bukan cukup konservatif, tapi cukup linglung.
Bukan linglung mungkin, tetapi lebih pada menyesuaikan diri dengan keadaan.

Kembali ke masalah pekerjaan, apa hal paling menarik bekerja di dunia periklanan?
Jika melihat karyaku muncul di berbagai media. Terus aku bilang ke orang terdekatku, “Ini aku yang buat lho!” Itu yang membuatku bangga.

Jadi lebih pada pengakuan kreatifitas diri?
Mmm… tidak ada keinginan untuk diakui kreatif, tapi mungkin lebih pada motifku dulu. Selain ingin bekerja tanpa pakaian formal, aku juga ingin membuat sesuatu yang dilihat orang. Aktualisasi diri dari apa yang kita miliki. Hahaha.. Bijak ya aku?

Cukup bijak untuk orang yang ‘narsis’. Hehehe.. Lalu, sampai sekarang apakah kamu sudah puas dengan apa yg kamu capai?
Belum, mungkin juga tidak akan pernah puas.

Apa obsesi kamu yang belum tercapai?
Untuk pekerjaan? Banyak.

Diantaranya?
Aku ingin bikin karya yang dilihat banyak orang di tempat-tempat umum dalam bentuk ambience media.

Oh ok. Itu masih dalam tataran keinginan atau sudah dalam proses pengerjaan?
Ada ditengah-tengah. Sudah ada beberapa konsep tetapi blom matang. Masih butuh penyempurnaan lagi.

Terlepas dari obsesi-obesesi yang ada, apakah bekerja di dunia kreatif –khususnya periklanan– prospeknya menjanjikan?
Prospek seperti apa nih? Materi?

Ya, pastinya merujuk kesana. Mulai dari jenjang karier, dan sebagainya. Stigma usang yang ada di masyarakat kan menganggap bahwa dunia kreatif itu kaya ide tapi miskin materi. Meskipun sekarang pemerintah kita sedang meningkatkan sektor industri kreatif.
Menurut aku, kalau dilihat secara materi, memang sangat menjanjikan. Tapi ada syaratnya, kita benar-benar mencintai pekerjaan ini sehingga mampu mengisi setiap karya yang kita buat dengan jiwa kita. Sehingga nanti akan terbentuk karakter di setiap karya yang kita buat. Ini yang menjadikannya mahal. Layaknya seniman aku rasa. Pelukis, penyair, penulis, dan pematung, selalu menempatkan jiwa di setiap karya mereka. Dan itu yang membedakan satu dengan yang lainnya. Intinya untuk meraih itu semua memang tidak mudah. Tidak cukup dengan sekedar tampil beda…tapi harus tampil outstanding!

Jadi menurut kamu, disitu bedanya? Karakter pencipta yang tertanam dalam setiap karyanya? Karena kalau berbicara tentang niat dan kecintaan total pada pekerjaan, saya rasa tidak hanya di dunia kreatif.
Betul… Untuk di dunia kreatif khusunya bidang advertising yang aku lakoni ini justru lebih ambigu lagi. Karakter pencipta dalam setiap karya di dunia advertising ini harus berbagi dengan karakter produk, karakter klien, dan karakter perusahan advertising itu sendiri.

Dalam dunia dagang kita mengenal istilah “pembeli adalah raja”. Apakah kamu merasakan hal itu juga daalm pekerjaanmu, “klien adalah raja”?
Ini menarik… mengutip perkataan Bonk (copywriter ku di kantor) klien bukan sekedar raja, tetapi lebih dari raja.

Wow.. lebih tak berdaya lagi dong posisi kalian?
Sebenarnya aku kurang sepakat juga dengan hal ini. Analoginya mungkin sedikit kasar. Maksudnya begini… ketika klien adalah raja, kami di agency harus menyediakan segala yang diinginkan mereka. Tetapi jika hanya sebatas itu, kami memang kacungnya. Tetapi proses hubungannya tidak seperti itu. Kami harus mampu menyediakan sesuatu sebelum mereka memintanya. Inovasi. Jadi sebenarnya bukan klien adalah raja atau lebih dari raja. Proses hubungan kami adalah partner, layaknya suami istri, dengan produk sebagai anaknya. Bekerja sama. Jadi intinya sih sama, hanya analoginya yang berbeda.

Jika bermain dalam persentase, berapa besar antara keinginan klien dan andil kalian dlm berkreatifitas?
Mmm.. nggak semudah itu juga hitung dalam perentase. Karena pada prakteknya hal itu tidak mudah. Tuntutan klien sebagai pemegang modal memang tidak bisa diremehkan. Di sini (Indonesia -red) mungkin belum bisa. Kalau tidak salah, Agency CPB (Crispin and Potter Bogusky) di Amerika pernah memecat kliennya karena sudah tidak sejalan lagi. Aku lupa deh CPB Amerika atau bukan ya? Hehehe.. Jadi andil antara keinginan klien dan kreatifitas kami untuk saat ini sebenarnya cukup berimbang. Karena mungkin ide-ide yang kami berikan cukup masuk dengan keinginan mereka. Tetapi sebenarnya bukan hanya masalah ide, tetapi cara penyampaiann dan pola hubungan kami dengan klien. Sejauh ini aku masih percaya pada anekdot yang mengatakan bahwa bukan idenya yang ditolak, tetapi orangnya yang ditolak.

Pernah mendapatkan klien yang memposisikan kalian sebagai ‘kacung’ ? Apa yang kalian lakukan saat itu?
Kacung? Mmm… pernah juga bahkan cenderung sering. Biasanya mereka akan sadar sendiri pada akhirnya. Mungkin bukan kacung secara verbal. Tetapi kebebalan mereka terhadap apa yang kami sampaikan. Kadang-kadang mereka sudah percaya dengan pola yang mereka jalani meski pola itu sudah tua. ketika kami datang dan memberi masukan dengan pola baru mereka tdk percaya. mgk standar lah, karena pola ini belum teruji sehingga mereka ragu-ragu. Tetapi pada akhirnya mereka pun menyadari dan mengikuti pola kami. Dan sayangnya memang, kesadaran seperti ini datangnya terlambat.

Klien apa yg sering bebal terhadap ide-ide baru? Jangan bilang kalau instansi-instansi pemerintah! Hahaha
Yaaahh.. instansi pemerintah memang salah satunya!

Atau justru pernah dapat klien caleg?
Yah, caleg juga. Untuk kasus caleg, sepertinya mereka belum sadar bentuk komunikasi yang tepat untuk saat ini jika di masa lalu mereka adalah politikus-politikus bermasalah.

Ah ya, kalau itu sudah menjadi rahasia umum bukan?
Dan satu lagi untuk kasus caleg. Mereka terkadang sangat suka dengan pola komunikasi standar. Maksudnya dengan pola komunikasi satu arah lewat media massa, TVC atau print-ad. Mereka tidak sadar bahwa mereka harus mampu berdialog langsung dengan masyarakat harus ada pola-pola tersendiri untuk mengangkat citra mereka, dan TVC atau print-ad tidak membantu. Harus ada activation tersendiri.

Terlepas dari sikap profesionalisme yang harus selalu ada, kamu sendiri bagaimana menilai fenomena caleg yang sepertinya berebutan ‘jualan diri’ di media?
Hahaha… Pemimpin itu ditunjuk bukan minta ditunjuk! Dan melihat pola kampanye mereka, aku melihatnya kok jadul ya?

Mereka kan seperti penjual obat, yang penting teriak kencang. Masalah berkualitas atau tidak, itu urusan belakangan.
Itu yang menjadi masalah, pola kampanyenya jadul! Mereka teriak tentang program kerja mereka dengan istilah janji kandidat dan isi program mereka pun hanya pada permukaan saja. Contoh, jika saya terpilih maka hal pertama yang saya lakukan adalah menanggulangi kemacetan jakarta. Janji ini sudah dari jaman batu! Coba lihat sekarang… we’re still stuck in the middle of the road!

Kalau untuk itu, satu hal yang pasti adalah stop penjualan kendaraan dan batasi penggunaan kendaraan pribadi yg sudah ada. Which is.. almost impossible?
Apapun langkahnya kalau pemimpin itu tidak memiliki integritas yang tinggi hasilnya adalah nol. Dan untuk masalah kepemimpinan, Indonesia sepertinya butuh pemimpin yang otoriter.

Berarti saya asumsikan, kamu akan tergabung dalam Partai Golput untuk Pemilu 2009 nanti.
15 tahun lagi aku mau mencalonkan diri jadi presiden.

Wah, kenapa harus tunggu selama itu
Asumsi umur Obama. Hahaha

Oh, si “anak menteng”? Yeah rite.. Ok, kita ganti topik. Politik adalah topik yang membosankan untuk sekarang. Bagaimana dengan kehidupan pribadi? Apa kamu senang dengan kehidupan yang kamu jalani sampai saat ini?
Saya selalu senang dengan kehidupan pribadi saya. Apapun yang terjadi dalam kehidupan pribadiku. Setiap ups and downs nya, aku selalu senang. Karena apapun yang terjadi, aku tetap bisa pulang ke rumah.

Hal menarik apa yang terjadi belakangan ini? Karena sepertinya saya bosan dengar keluhan orang-orang sekitar yang menganggap hidupnya semakin tidak menarik.
Hal yang menarik belakangan ini adalah aku memiliki 3 keluarga. Aku memiliki keluarga inti di Blok M. Aku memiliki keluarga dekat di Cilandak. Dan aku memiliki keluarga masa depan di Kelapa Gading.

Ok, mungkin yg ketiga tidak perlu pembahasan mendalam demi menjaga objektifitas.
Iya. Hehehe… Tapi memang ketiga hal itu yang menarik untuk aku 2 tahun belakangan ini. Mereka dengan segala warna warninya membuat aku selalu dinamis.

Speaking about ups and downs, what’s your today’s ups and down?
Hari ini yang membuatku semangat adalah aku belajar digital imaging lebih dalam lagi dan aku sudah menyelesaikan satu kemarin.

Down?
Masalah mengorganisir diri. Lagi berantakan banget nih hari ini.

Pekerja kreatif seperti kamu apa masih punya waktu luang? Mengingat pekerja kreatif identik dengan tidak punya office hour.
Waktu luang? Itu dia… Aku tipikal orang yang harus diingatkan sepertinya.

Diingatkan?
Karena aku kalau udah suka sama sesuatu yang aku jalani, bisa lupa waktu. Kalau kata ilmu kedokteran, mungkin aku Autis. Hahaha.. Hidup di dalam ‘dunia’ nya sendiri.

Semoga itu bukan pembenaran (pembelaan?)
Tapi aku juga tidak ingin berlama-lama dalam pola autis ini. Dan aku tidak berharap banyak dengan orang lain yang mengingatkan. Karena aku harus jalan sendiri.

Kamu punya hobi?
Hobi? Ada dong. Saat ini hobi ku bukan sesuatu yang berbau materi, tetapi lebih pada hobi memperhatikan. Sudah lama sih hobi ini. Yah, seperti yang kamu juga rasakan kalau kita lagi jalan bareng. Kita sering memperhatikan orang-orang di sekitar kita. Ini bagian dari hobiku. Aku berpikir untuk mengembangkannya. Sehingga suatu saat nanti aku akan memulai obrolan dengan orang yang aku observasi di jalan.

Untuk dijadikan ide gambar?
Bukan ide gambar, tetapi kebiasaan orang-orang. Memperhatikan kebiasaan orang-orang di sekitar kita itu menarik lho! Meski blom detail, tapi aku menikmati hal ini. Ada saja hal baru yang aku dapat. Seperti waktu itu kita melihat pengamen yang diberi uang oleh pengguna kendaraan dengan cara melempar, dan si pengamen mengembalikan uang itu lalu pergi.

Oh ya.. Si penegndara itu kaya harta tapi miskin moral!
Betul..

Apakah kamu termasuk kedalam kelompok ‘penyinyir’?
Nyinyir? Nyinyir itu gimana maksudnya ya?

Ya, memperhatikan lalu mengomentari. Mungkin kartun benny & mice bisa dibilang kartun yang menyinyir.
Hahaha… bisa dikatakan iya sih. Aku memang spontan mengomentari jika hal itu menarik. Hanya saja aku belum sampai tahap Benny dan Mice yang mampu mengorganisir itu semua untuk dijadikan ide. Karena kegiatan mengobservasi hanya menjadi kegiatan sambil lalu saat ini.

Mengamati dan mengomentari memang tiada duanya! Hehe
Benny mice adalah orang-orang kreatif yang sudah mengamalkan surat Al-Baqarah.

Al-Baqarah?
“Bacalah… bacalah… bacalah”. Hahaha

Nice one! Saya pikir kamu termasuk tipe pengkaji Al-Qur’an.🙂
Nggak juga sih… tetapi memang banyak sekali inspirasi disitu dan sangat dalam. Al-Baqarah salah satunya. “Bacalah dengan nama Tuhanmu”. Wah… Calm but deep!

Bagaimana kamu memandang diri kamu sendiri dalam hal religi? Apa ada tanda hitam di kening kamu? Hehehe
Aku bukan tipikal religius yang shalat 5 waktu. Tapi aku juga bukan tipikal pembangkang yang tidak puasa selama satu bulan penuh. Layaknya orang kebanyakan mungkin ya. Mengadu, bersimpuh, dan sujud jika ada maunya.

Berapa hari bolong puasa kemarin?
Kemarin Alhamdulillah puasa aku lengkap 1 bulan. Insya allah lulus semua.

Dapat baju baru dong untuk lebaran?
Dapet dari Eddu. Hahhaha

Lho kok justru terbalik, adik yg kasih kakaknya? Bagaimana ini..
Aku memberi dengan cara lain soalnya.

Bisa ceritakan sedikit tentang hubungan kamu dan adik-adik kamu? Biasanya kakak laki-laki sedikit gengsi untuk perhatian kepada adik-adiknya.
Mmm… Mungkin aku saat ini lebih dekat ke Eddu ya. Karena bidang pekerjaannya kebetulan sama. Beberapa kali kami sempat brainstorm bareng ttg suatu pekerjaannya dia. Yah sejauh ini aku lebih ingin membantu apa yang dia ingin lakukan. Kalau ke Edda aku lebih cuek, tetapi bukan berarti nggak peduli. Sekedar tahu kalau saat ini sudah pindah kerja lagi. Aku tetap menyemangatinya untuk mendapatkan beasiswa belajar ke jepang. Ini salah satu motivasinya ketika dia pindah kerja. Karena menurutnya, kantor yang sekarang memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk belajar ke Jepang. Oh ya, untuk Edda aku mencoba akrab dengan pacarnya. Membuka obrolan dulu waktu pertama kali ketemu dan menyambutnya.

Dengan harapan Edda akan berlaku yang sama dengan pacar kamu?
Hahaha nggak.. ini lebih kepada pengalaman pribadiku sebenarnya. Karena dulu aku paling takut kalau ke rumah cewek yang aku kenal. Keluarganya yang cowok nggak menyambutku dengan akrab. Yah dicuekin sama cowok di keluarga cewek kita kan nggak enak juga. Kesannya nggak disukain gitu.

Ternyata pernah menjadi pacar yang tidak ‘direstui’ keluarga perempuan ya? Hehe.. Apa kamu percaya bahwa hukum karma itu benar-benar terjadi?
Iya. Hanya istilah mungkin ya. Karena jika kita menanam maka kita akan memetik hasilnya. Dan aku menamakan semua nya itu hukum karma. Kalau orang fisika menamakannya hukum sebab akibat, aksi reaksi. Ini adalah hukum alam paling tua. Dan pasti ada. Buat aku penamaan hukum karma itu tidak hanya untuk hal-hal yg negatif, tetapi juga semua hal positif.

Cukup realistis. Dan apa kamu percaya takhayul? Atau sekedar penggemar ramalam zodiak dan semacamnya?
Mmm… takhayul. Kalau untuk sekedar ingin tau ramalan hari ini pada ketik Reg [spasi] primbon bukan percaya tahayul kan? Hahaha… Motivasiku adalah ingin tau, dan orang lain mungkin menganggap ku kurang kerjaan! Aku suka dengan tanggapan seperti itu. Karena ketika aku berbuat yang tidak biasa, berarti aku sudah mampu memberi warna lain. I like being different but i’m not really out standing though.

Yeah.. tapi kesannya Tuhan tidak berperan ketika kita menggantungkan nasib lewat sms. “Anda tidak cocok bekerja di air”. Iklan paling konyol yang pernah saya dengar!
Hahaha.. iya nanti tenggelam. Kan kamu nggak bisa berenang!

Waahh.. Semoga kamu tidak menerima klien seperti itu nantinya.
Aku justru ingin terima yang seperti itu karena tantangannya menarik.

Wah.. kamu bercanda!
Benar!

Dimana menariknya?
Menarik! Pertama saat ini kita sudah melihat lebih banyak kontranya iklan produk seperti ini, seperti yang kamu blg konyol itu. Justru karena konyolnya itu kenapa iklannya juga nggak dibuat dengan gaya lebih bodor? Ancur dan mengocok perut.

Ya, bahkan ada iklan provider seluler yg memparodikannya
Hahaha.. Iya. Kalau untuk produk-produk begini, untuk membuat yang baru lebih gampang, karena kita sudah tahu iklan sebelumnya bergaya apa. Tapi untuk yang satu ini, sisi kontroversialnya itu yang justru semakin membuatnya menarik!

Ok ok, saya doakan kamu menangani iklan selanjutnya nanti. Ya anggap saja serial komedi berdurasi satu menit!
Hahaha

Sebelum kita mengakhiri obrolan, what’s your favorite quote?
Yang itu tadi… “Being different is not enough, try to be out standing” ! Untuk sekarang quote ini yang aku suka.

Nice one. mengingatkan saya sama perkembangan film jadinya.
Apa tuh?

Tidak peduli seberapa pun menarik perhatiannya film remaja Hollywood dengan genre komedi seksual, tetap Godfather lah yang jadi legenda. Eh, sudah pas belum ya analoginya?
Hahaha… Ya. That’s why we need character building!

******

Info lebih lanjut seputar Eddo Dadyka:
Facebook
Viewbook
Multiply

  1. obrolan yang hidup dan sangat memberi inspirasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: