obrolankopi

#2 – Irvin Aldianto

In Media on November 24, 2008 at 12:50 pm

qtink

Teman Ngobrol #2:
Irvin “Qtink” Aldianto/ 22 th/ Journalist (HAI Magazine)
Jakarta


*****

“Dengan masuknya saya ke pekerjaan ini, makin banyak musik yang masuk ke kuping saya…which is good!”

Ok, sekarang perkenalkan diri dulu dong.
Saya Irvin Aldianto…biasa dipanggil Irvin. I’m just an ordinary kinda guy, who loves music, words, movie, travel, design, and everything in between. Masih kuliah (walaupun sewajarnya udah nggak), dan bekerja di salah satu majalah remaja. Masih menumpang hidup di rumah orangtua, dan masih menggunakan berbagai fasilitas yang disediakan.

Hehehe.. Ok. Penjabaran yang cukup menarik. Terutama bagian dimana sewajarnya sudah tidak kuliah lagi. Sekarang ceritain dong tentang kerjaan lo di majalah remaja itu. Pastinya berhubungan sama hobi-hobi kamu dong ya?
Sedikit banyak iya. Walaupun nggak semua hobi saya bisa tersalurkan disitu ya. Paling nggak, my biggest passion, which is music, bisa disalurkan. Di majalah itu, saya mengawaki bidang hiburan. Dimana didalamnya ada musik, film, lifestyle, dan sport. Alhamdulillah, sampai saat ini saya selalu mendapat jatah di musik dan film. Bagaimana dengan sport? Maaf, tapi itu bukan bagian saya, dan “bukan gw banget”. Bukannya saya nggak suka olahraga, tapi saya kurang tertarik untuk tahu lebih banyak mengenai olahraga.

Very well described, a good denial too actually!
Hahaha…

Jadi sekarang kamu tetap kuliah sambil bekerja ya?
Yap.. Walaupun sampai sekarang masih suka bingung dalam hal membuat prioritas.

Apakah stigma “kuliah-kerja = lulus telat” terbukti di kamu?
Gimana maksudnya?

Seperti tadi kamu bilang, kamu masih kuliah. Padahal sewajarnya sudah lulus. Jadi apakah karena bekerja, kuliah kamu jadi terganggu?
Ahh … itu bukan alasan sebenarnya. Perihal pekerjaan menganggu kuliah itu sebenarnya sebuah excuse saja sih menurut saya. Padahal kalau mau lebih berusaha dalam mengatur waktu, keduanya bisa berjalan dengan baik. Itu juga yang terjadi sama saya. Kuliah saya berantakan, bukan karena pekerjaan. Memang karena saya yang kurang bisa, dan kurang mau mengatur waktu.

Dengar-dengar waktu itu kamu pernah jadi pembicara dalam sebuah acara di kampus kamu, mahasiswa berbakat ya kalau tidak salah?
Bukan mahasiswa berbakat, tapi mahasiswa inspiratif. Lagipula, dimana letak bakat saya sebenarnya, saya juga kurang tahu sampai sekarang! Hahaha

Dan katanya ada cerita lucu ya waktu itu? Bagaimana tuh ceritanya?

Ya memang ada beberapa cerita, yang sebenarnya meurut saya tidak lucu. Saya tidak tahu bagaimana gaya berpakaian yang layak saat menjadi pembicara seminar. Jadi seperti biasa, saya hanya mengenakan kaos, celana jins, sneakers, dan track jacket. Begitu naik panggung, saya terkejut karena semua pembicara memakai kemeja, celana bahan, dan bahkan jas! Sedangkan pembicara wanitanya menggunakan kemeja, blazer, rok pendek, serta sepatu berhak. “Yah, sikat aja lah. Bodo amat dengan pakaian!” ujar saya dalam hati waktu itu.

Memang sangat kontras sih! Hehehe

Ya. kontras memang. Tapi mau bagaimana lagi? Dan karena saya belum pernah menjadi pembicara seminar sebelumnya, waktu itu saya tidak menyiapkan bahan untuk presentasi sama sekali. Sedangkan pembicara lain sudah menyiapkan bahan-bahan lengkap untuk ditampilkan dengan program Power Point. Alhasil saya hanya mengoceh dan mengoceh saja ketika giliran saya tiba. Bingung juga kenapa mereka menganggap saya inspiratif.

Sekarang ceritakan juga dong tentang salah seorang peserta seminar yang ternyata teman sekelas dan juga junior kamu.
Ya.. singkat cerita, saya harus mengulang beberapa mata kuliah yang belum lulus. Ada juga yang memang belum saya ambil. Saya pun harus rela masuk di kelas junior, tapi saya lupa tepatnya angkatan berapa. Antara 2 sampai 3 tahun dibawah saya. Kemudian saya duduk di deretan paling belakang. Seorang mahasiswi di sebelah saya mencolek dan bertanya, “Kak, kakak bukannya yang waktu itu jadi Inspirational Student ya?”. Saya terkejut! Bagaimana bisa dia masih ingat wajah saya? “Iya, itu gue”, jawab saya singkat. Lalu mahasiswi itu kembali bertanya, “Bener kan kakak yang waktu itu jadi Inspirational Student? Kok kakak belum lulus sih?”. Darrrr! Rasanya seperti ada petir menyambar di sore hari yang disinari matahari yang hangat!!

Hahaha.. pukulan telak itu ya!
Ya jelas! Beruntung terlintas jawaban singkat di kepala.. ‘”Oh iya..emang belum lulus, tapi sebentar lagi kok. Lagian, inspiratif kan bukan berarti harus bagus di bidang akademis,” jawab saya sambil mengangkat pantat, dan pelan-pelan ngeloyor keluar kelas. Hahaha

Nah, itu baru namanya pembelaan!
Betul! Pembelaan demi sebuah gelar yang abu-abu, dan nama yang mulai terciprat kotoran..

Good point! Beralih lagi ke soal musik, lagu-lagu apa aja yang ada di playlist belakangan ini?

Wah, kalo ngomongin playlist, susah juga. Dengan masuknya saya ke pekerjaan ini, makin banyak musik yang masuk ke kuping saya…which is good! Saya menjadi lebih terbuka terhadap segala jenis musik. Tapi yang susah adalah waktu untuk “mencari” musik jadi sedikit berkurang. Saat ini ada beberapa album yang sering saya putar. Diantaranya Scarlett Johansson – Anywhere I Lay My Head, Zeke and the Popo – Space in the Headlines, Tom Waits – Rain Dog.

Wow.. nice pick!
Ada beberapa lagi, The Cure – Wish (yang mana tidak bisa lepas dari playlist saya), Blur – Parklife, Radiohead – The Bends.

Well well well.. rupanya ada yang rindu dengan masa-masa brit invasion dulu?🙂
Naahh.. di situlah awal ketertarikan saya pada musik. Meskipun sedari kecil saya udah dicekoki dengan The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Pink Foyd oleh ayah saya; Van Halen, Bon Jovi, Mr. Big oleh paman saya; tetapi era itu lah (Brit invasion -red) yang membuat saya mencintai musik. Era itu yang membuat musik menjadi bagian hidup saya. Tentunya nggak lupa di mana kebodohan ala remaja terjadi di era itu pula.

Pastinya kamu pernah merasakan jadi salah satu pengunjung setia acara-acara musik britpop dulu ya.

Tentu!

Yeah.. Siapa yang tak kenal Gueni?
Jangan lupakan Poster, dan GM 2000! Mana bisa lupa juga dengan Marimba!

Semoga kamu dulu tidak ikutan memakai kaos ketat dan rambut belah pinggir!
Hohoho

Do you really called yourself “anak indies” back then?

Absolutely! saya selalu menyebut dan berharap saya jadi anak indies! Hahaha.. Saking pengen total jadi indies, saya sempat menyesal kenapa rambut saya keriting, jadinya kan nggak bisa dibelah pinggir! Hahaha.. Beruntung kemudian saya melihat The Beatles, Gallagher brothers from Oasis, dan the almighty Graham Coxon yang tampil dengan rambut moptop.

You were absolute poser, mate!
Absolutely! Nggak ada orang yang betul-betul nggak pernah jadi poser.

Benar juga sih. Tapi semakin bertambah umur, semakin kita sadar kalau ternyata kita dulu ‘menjijikan’?
Bukan menjijikkan, mungkin mengecewakan. Tapi selalu ada nilai positif dari sebuah kekecewaan, bukan?

Kok mengecewakan?
Mengecewakan, karena secara tidak sadar, kita pernah menjadi sosok seperti anak muda jaman sekarang, yang sesekali pernah kita pandang sebelah mata.

Apa setiap anak muda selalu mengalami fase ‘poser‘ seperti itu ya? Ketika mereka begitu memuja-muja idolanya, dan mencoba menjadi imitasi idolanya itu.
Menurut saya, iya. Tapi mari lah menganggap fase ‘poser‘ itu sebagai fase pembelajaran. Selalu ada trial and error kan?

Tapi kalau cuma tataran penampilan saja, itu buang-buang waktu kan?
Nah mungkin fase tersebut jadi bagian dari trial and error. Tidak selamanya buang buang waktu kok. Paling tidak mereka jadi tahu, apakah dengan tampil seperti itu mereka bisa jadi nyaman? Kalau yang tidak merasa nyaman, pasti tidak lama setelah itu, akan kembali berganti kulit. Lain dengan yang merasa nyaman. Bukan tidak mungkin dia akan lebih mempelajarinya, tidak hanya kulitnya saja.

Sebagai seorang jurnalis musik , bagaimana kamu melihat fenomena fans musik sekarang ini?
Fans musik sekarang? Ada fenomena apa memang yang terjadi dengan fans musik sekarang?

Ya sebut saja Modern Darlings (fans The Upstairs), Nidjiholic (fans Nidji), bahkan fansnya Radja yang entah apa namanya.

Ah, itu tidak jauh beda dengan yang terjadi sebelumnya.

Sepengamatan kamu, sejauh apa para fans-fans itu terinspirasi oleh idola mereka?
Untuk sekarang, gaya si idola terlihat ‘cool’, dan lagu mereka bisa menjadi anthem untuk diri si fans. Masih nggak jauh beda dengan apa yang terjadi sebelumnya kan? Malah, kalau mau dibilang, fans era sebelum ini lebih massive lagi sifat mengidolakannya. Ada beberapa kubu yang sampai mengikuti lifestyle dan ideologi si idola.

Saya pikir kondisi fans sekarang yang lebih khusuk mengimitasi idola. Lihat saja kehebohan Modern Darlings dan Nidjiholic.
Oww.. jangan salah! Di konser Bjork beberapa waktu yang lalu, fansnya lebih khusuk lagi dalam hal mengimitasi. Sampai-sampai, dia memakai kostum angsa, yang pernah digunakan bjork dalam sebuah acara! And guess what, she’s 20 something years old! Late 20!

Aahh.. sayang saya melewatkan konsernya waktu itu!
Hehehe.. tapi kita harus mengucapkan selamat untuk Jimi dan teman-temannya di The Upstairs, karena berhasil ‘meracuni’ remaja ibukota.

Ya menurut saya itu prestasi besar untuk ukuran band lokal!

Ya.. Semoga mereka bisa me-maintain fanbase mereka dengan bagus, sehingga bisa menciptakan adegan dikibarkannya bendera The Upstairs, di setiap konser, meskipun hari itu the upstairs tidak mengisi acara.

Saya rasa untuk lima tahun kedepan belum ada yang bisa menggeser Slankers dan Oi! Hahaha

Mereka tidak bisa digeser, hanya bisa disejajarkan.

Ya, siapa yang bisa menggeser fans yang jumlah lebih dari pemilih saat pemilu

Betul! Meskipun Iwan Fals-nya sendiri sekarang lebih asik menjadi brand ambassador, ketimbang membuat lagu-lagu memorial lagi.

Ahh ya.. produk apa, saya lupa.
Saya juga lupa. Mmm.. Sebuah motor kalau tidak salah.

Ya mungkin itu sebagai sumber dana segar kilat.

Ya.. siapa juga yang tidak membutuhkan uang di masa sekarang.

Menurut kamu, apakah uang bisa membeli kebahagiaan?
Tergantung bagaimana kita mengeluarkan uang itu. Kalau uang itu dikeluarkan untuk membeli ratusan CD dan vinyl album musik, membeli tiket konser dan festival musik, saya pun bahagia! Hahaha

Yeah.. Ada anekdot yang bilang bahwa orang yang mengatakan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan adalah mereka yang tidak pernah merasakan mempunyai uang.

Tentu.. Siapa yang tahu bahwa mereka akan bahagia dengan mengeluarkan uang untuk travelling ke Maroko, Eropa, Karibia, kalau mereka belum pernah mencoba.

Waaahhh.. kalau begitu saya juga termasuk kelompok itu. karena saya juga belum pernah!
Ya, kita masuk kelompok itu. Karena pasti kita pernah berpikir, dan mengucapkan pada diri sendiri, “Uang tidak bisa membeli kebahagiaan,” yang lebih diposisikan sebagai penyemangat. Padahal, itu hanya pembenaran bukan?

Saya sendiri mengartikan itu sebagai ungkapan bahwa uang tidak berarti apa-apa jika tidak ada orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita untuk menikmatinya.
Betul. Ditambah lagi, uang tidak berarti apa-apa kalau kita tidak tahu pasti kemana uang itu akan kita keluarkan.

Indeed! Ironis ya, ada orang yang tidak tahu harus mencari uang dengan cara apa. Sementara di sisi lain, ada orang yang kehabisan ide mau menggunakan uangnya untuk apa.
Dan lebih ironisnya lagi, kita tidak tahu apakah kita akan masuk ke kelompok “tidak tahu mencari uang dengan apa” atau tidak!

OK, saya tidak akan menganggap itu sebagai sebuah sindiran!
Bukan sindiran, untuk saya, itu lebih kepada pengingat untuk diri sendiri.

Ok ok. Apology accepted!🙂

Hahaha

Sebelum mengakhiri obrolan, apa cita-cita kamu dalam hal kehidupan pribadi, pekerjaan, dan cinta tentunya?
Ini berkaitan dengan “mortal happiness“, isn’t it? Cita-cita. Mmm.. Cita-cita berarti kita tidak harus melihat realita di sekitar bukan? Hehe

Bebas, cita-cita dan mimpi itu kan gratis!
Untuk kehidupan pribadi, saya ingin mempunyai keluarga kecil bahagia, dengan teman-teman yang juga bahagia di sekeliling saya. Pekerjaan yang tetap berhubungan dengan passion saya. Dan cinta…

That’s the hardest?

Not the hardest, the complicated one.. Let see what God can do with my lovelife.

Hehehe.. menyerah?
Pasrah mungkin lebih mewakili. Karena saya belum bisa memastikan apa yang saya kejar dalam cinta. Konteks cinta disini terhadap pasangan kan?

Tentunya.

Ya.. cinta adalah seni dalam hidup. Dan seni selalu berevolusi.

Asal tahu saja, saya nggak
terima sesi curhat setelah ini ya!
Yaaahhh.. curhat dong!

Aahhh…. bisa semingu penuh!
Hahaha

Last words buddy. Apa quote favorit kamu? Saya selalu tanya ini kepada semua orang. Sekedar ingin lihat juga apa yang membuat mereka termotivasi.
“Thank you”. That’s my favorite quote, i guess.

Thank you? That’s not a quote. Apa spesialnya menurut kamu?
Well.. If you need a longer quotations, “Thank you, and be careful”

Hahaha.. that’s weird! But that’s fine with me. Ok Irvin a.k.a Qtink, “terimakasih” atas waktunya dan “hati-hati dijalan”!
Sama-sama. Thanks for the chat too! Kebetulan saya mau ketemu dosen nih. See ya!

*****

Info lebih lanjut seputar Irvin Aldianto:
Facebook
Blogger

  1. Tenang… emang betul semua orang pernah jadi poser… sebenarnya menjadi poser bagus kok asal tau aja mau ngapain. Tapi emang bener juga kita semua di zaman “baheula” terkadang hanya pada permukaan kulit aja tidak mendalaminya. Akhirnya yaahh… begitu aja…

    Asal tau aja ya… tp jangan bilang sapa2 nih… Gw dulu poser sejatinya MacGyver, dan suatu hari jiwa poser gw ini dah pada titik puncak untuk dikeluarkan. Alhasil kamera antik bokap gw otak-atik, sebuah kamera yang sering dipakai sama detektif kalo di film2, kamera kecil segede bungkus rokok. Dan yah gitu deh… pontennya omelan sehari penuh karena kamera itu ibarat film kartun yang pernya dah keluar kemana-mana dan dipastikan tukang reparasi paling pro pun tidak akan mau memperbaikinya…

    Hahahahah…

    “Forsan et haec olim meminisse iuvabit”
    …dan mungkin suatu waktu nanti akan menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk mengingat hal-hal/peristiwa-peristiwa ini…

  2. haha! setuju do!
    eh, jangan bilang dulu rambut lo potonganya model richard dean anderson gitu?

  3. waaaaah saya ngerti dong arti quote nya haha

  4. hahahaa! tadi kan nanya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: