obrolankopi

Ngobrolin Film Bareng si “Tukang Kritik”, Ekky Imanjaya

In film, Media on December 16, 2008 at 11:02 am

ekky

Teman Ngobrol #5:

Ekky Imanjaya/ 34 th/ Redaktur (rumahfilm.org), Kritikus Film, Penulis Lepas

Jakarta


*****

Laki-laki yang baru saja menyelesaikan studi S2 untuk kedua kalinya ini sudah malang melintang di dunia tulis menulis sebagai wartawan, penulis buku, dan kritikus film. Karena kecintaannya pada film itu lah, ia rela ‘mengasingkan’ diri ke Amsterdam demi mengambil jurusan Film Studies di Universiteit van Amsterdam.

Lucunya, setiap bertemu orang Indonesia yang baru dikenal, reaksi mereka nyaris sama ketika Ekky menyebutkan jurusan yang diambilnya: “Wah, mau jadi produser film ya?”, “Wah calon sutradara besar, nih”, “Mau dong jadi bintang filmnya…”. Meskipun awal-awal ia coba menjelaskan bahwa film studies (kajian film) berbeda dengan filmmaking (cara bikin film), toh lama-lama ia iyakan saja. “Biar cepat ganti topik”, katanya.


Halo Mas Ekky, lagi sibuk apa nih siang-siang begini?
Lagi di rumah aja, sekalian siapin materi workshop film critic untuk Jiffest.

Gak terlalu sibuk dong ya berarti. Mas Ekky dulu SMA nya dimana sih?
Aku di SMA 21, Pulo Mas.

Oh ya? Angkatan berapa? Teman-teman saya banyak juga yang disana.
Angkatan 92. Wah ketahuan tuanya ya?🙂 Emang kamu sendiri sekolahnya dimana?

Saya Labschool, Mas. Angkatan 2004.
Mmm.. Aku salut sama anak-anak Labschool. Band-band nya keren. Dulu jaman SMA, ada anak SMP bawain Sex Pistols. Nama band nya The King. Mereka main keren abis di pensi 21!

Wah, saya ngnggak pernah denger!
Udah lama banget, sekarang pada di mana ya? Dulu salah satu tempat ngumpulnya, Center of Excellent, di TMHC, Tanah Mas Hard Core. Lokasinya dekat lapangan tenis, daerah rumahnya jaya Roxx. Waktu itu aku cuma anak bawang aja sih.

Sampai sekarang masih suka kumpul?
Udah ngnggak sih. Waktu itu mereka bawain lagu-lagua Anthrax, Megadeth, Metallica, Suicidal Tendencies, Red Hot Chili Peppers, Faith No More, sampai Beastie Boys.

Tren musik yang dibawain sama band SMA tiap jamannya beda ya. Kalau jaman saya SMA, lebih ke alternatif dan britpop. Mulai dari Smashing Pumpkins, U2, Radiohead, sampai The Cure dan Blur.
Tentu beda, tapi creative minority macam TMHC ini selalu selangkah di depan dan jadi trendsetter waktu itu. Bayangin, jaman metal mereka bawain Faith No More, RHCP, dan bahkan Beastie Boys yang ada unsur rap. Waktu itu belum muncul Seattle Sound.

Apakah komunitas-komunitas seperti itu mempengaruhi industri musik kita secara keseluruhan? Kalau iya, seberapa besar pengaruhnya?
Iya, dalam artian pengaruh selera dan akhirnya mengarah ke dikotomi “musik bagus” dan “musik jelek”, semacam itu. Indie lebih bebas berkreasi, lebih ke panggilan jiwa, karena itu umumnya hasilnya bagus, walau tidak mainstream dan bahkan melawan selera pasar. Tapi semua yang bermula dari hati, vocation, hasilnya lebih bagus dari yang “kejar tayang” atau “kejar setoran”, atau “kejar rating” dan sebagainya. Lebih bagus lagi kalau antara yang idealis bisa bertemu dengan selera pasar: udah bagus, eh laku.

Hal itu berlaku juga kan untuk film?
Persis! Saya selalu memakai dikotominya salim said, idealisme vs komersialisme. Tetapi bikin film yang menggabungkan keduanya, seperti Laskar Pelangi, memang sesuatu yang susah. Salim Said cerita di bukunya, dia diambekin sama Bing Slamet (dan hingga wafatnya dicuekin oleh entertainer terbesar kita itu), karena Salim menulis buruk soal film “Bing Slamet Setan Djalanan”. Kata Salim: “film bagus belum tentu laku, film laku belum tentu bagus”.

Sekarang kalimat itu diucapkan lagi oleh Niniek L. Karim ketika mengumumkan judul-judul film yang masuk nominasi FFI 2008.
Payah juga ya (sebagian) wartawan-wartawan kita sekarang, kayak begituan ditanyain lagi. “Kenapa Laskar Pelangi ngnggak masuk?”, “Kenapa Ayat-ayat Cinta cuma dapat satu nominasi?”. Kalau sebelumnya dia punya bekal ke lapangan, tentu pertanyaannya nggak akan sebanal itu.

Mungkin pengaruh kultur masyarakat kita juga yang terlalu memberhalakan statistik.
Mungkin. Mereka anggap yang laris manis itu ya sudah pasti bagus. Sementara film flop macam “May” dan “Fiksi” justru merajai nominasi. Aku nulis di sini: http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_nominasiffi08.htm soal itu.

Memangnya apa sih yang harus dimiliki sebuah film supaya bisa dikategorikan sebagai film “bagus”? Setidaknya untuk festival sekelas FFI misalnya?
Kata orang, “bagus itu relatif, tapi jelek itu absolut”. Hehehe.. Kriteria film bagus? Mmm.. kalau bicara FFI, ya tergantung jurinya. Juri tahun ini lagi bagus. Nominasinya juga bagus-bagus dan sebagian besar hasilnya saya sepakat. Walau ada beberapa nama yang tak saya duga sebelumnya.

Contohnya?
Rachmania Arunita sebagai nomine sutradara film terbaik untuk “Lost in Love”.

Debut perdananya sebagai sutradara ya?
Mouly Surya juga debutan.

Bagaimana filmnya? Kebetulan saya belum nonton, dan memang nggak terlalu tertarik sebenarnya.
Saya juga belum nonton, karena itu belum berani komentar banyak. Nanti mau ke rental. Hehehe.. ya kaget aja, tapi memang harus nonton filmnya supaya tahu.

Film-film yang masuk nominasi FFI, tidak harus sudah ditayangkan ya? Soalnya film 3 Doa 3 Cinta belum tayang tapi masuk nominasi.

Oh nggak.. Syaratnya adalah:
1. Lolos sensor max 2 tahun
2. 35 mm
3. Mendaftarkan diri ke panitia
4. Sutradara film WNI
Biasa, kan? Academy Award juga begitu.

Oh.. tadinya saya pikir ada batas penayangannya. Jadi film yang belum ditayangkan sampai bulan tertentu, baru bisa diikutsertakan untuk festival tahun depan.
Bukan, lebih pada lolos sensor 2 tahun.

Lalu, kriteria film bagus menurut anda sendiri seperti apa?
Ini kan urusan estetika (indah-buruk), bukan etika (baik-buruk), apalagi ontologi (benar-salah). Jadi tergantung selera masing-masing sebenarnya. Latarbelakang penonton juga mempengaruhi, misalnya pendidikan, lingkungan, seberapa banyak referensi film yang ditonton, dll. Tapi secara umum saya bisa bilang bahwa film bagus adalah film yang memberikan efek/dampak mendalam bagi penontonnya. Misalnya:
1. Setelah seminggu, masih terngiang-ngiang adegan atau dialognya.
2. Setelah menonton jadi ingin mendiskusikannya.
3. Ada sesuatu yang dibawa pulang, memperkaya batin, dan mencerahkan.
4. Menggerakkan untuk berbuat sesuatu, menginspirasi lah.
Karena film itu kan karya seni yang berisi pesan/gagasan pembuatnya untuk disebarkan ke khalayak publik. Yang dilihat ya itu semua. Awalnya memang cerita (dan kebanyakan orang liat dari siapa yang main ya?), tapi kan ada unsur-unsur lain yang memperkuat gagasan itu tersampaikan, sinematografi, akting, editing, dll. Mengutip Arthur Penn “Sutradara adalah orang yang menulis dengan kamera.”

Efek/ dampak yang diberikan itu bisa salah satunya atau harus mencakup semuanya? Karena kalau berbicara dampak, berarti kan bisa positif dan negatif. Misalnya poin no 1. Film horor jelas unggul untuk memberikan efek ini. Tapi kan belum tentu film horor tersebut menginspirasi atau menciptakan suatu diskusi.
Ya, terngiang-ngiang adegan dan dialog berkaitan dengan pesannya. Salah satunya cukup, menurutku. Atau, tidak? Misalnya, sebuah reaksi, “Oh iya, ya. Kok gue nggak kepikiran?”, atau “Ah, masak sih?”.

Menurut saya pribadi, film yang cuma bikin kita takut ke kamar mandi tengah malam tanpa memberikan insight lain sih tidak termasuk film bagus.
Penonton juga dituntut aktif sebenarnya dalam rangka men-decode pesan itu. Dan pesan yang didapat tidak harus sama dengan maunya sutradara. Misalnya, ada tafsiran bahwa film-film zombie itu adalah kritik sosial terhadap masyarakat Amerika yang bagaikan “mayat hidup”. Jadi kalau cuma ketakutan doang, atau nangis bombai doang, itu bukan sesuatu yang positif dong.

Mayat hidup?
Iya, masyarakat Amerika = the real zombie. Karena nggak punya orientasi hidup lagi, kan? Cuma konsumtif, materialis, dll. Nggak ada jiwa, ruh, kemanusiaannya. Tapi itu kan cuma salah satu analisa.

Mmm.. karena negaranya sendiri sudah menjadi negara adidaya ya, sehingga berpengaruh kepada masyarakatnya yang juga tidak punya cita-cita lagi?
Wah kok tanya ke saya? Hehehe.. Macam-macamlah penafsirannya. Ya negaranya, ya semangat pragmatisme rakyatnya sendiri.

Dan saya sendiri pun baru sadar dengan penafsiran mayat hidup tadi.
Intinya, tugas kritikus itu berat juga lho. Salah satunya edukasi penonton, bagaimana agar penonton aktif memaknai/memproduksi makna (decode) sebuah film. Mengutip Efek Rumah Kaca, “pasar bisa dibentuk”. Jadi suatu saat, orang akan merasa rugi (uang dan waktu) karena menonton film jelek. Mereka tidak akan nonton film jelek, atau merekomendasikan untuk tidak menonton film jelek. Karena, kata seorang kritikus film Prancis, setiap sen uang yang kita keluarkan untuk beli tiket film jelek, artinya kita ikut mendukung pertumbuhan film jelek. Kritikus film adalah jembatan antara filmmaker dan penonton, dan juga sparring partner filmmaker.

Kalau definisi bagus-jelek itu relatif, bagaimana kritikus film bisa ‘meyakinkan’ masyarakat sebagai penonton? Karena pada pelaksanaannya akan selalu berbenturan dengan selera kan?
Itulah fungsi kritikus film. Kita banyak PR. Sebagian besar filmmaker kita belum (atau tidak mau?) membuat film bagus karena takut nggak laku. Selera penonton juga begitu-begitu aja, atau memang nggak ada alternatif untuk ditonton. Atau, kritikus film kita masih kurang menginformasikan film bagus semacam Fksi dan May. Filmmaker kita lebih suka gerakan politis macam MFI daripada gerakan estetis macam I-Sinema. Tapi gue percaya dengan pernyataan Mira Lesmana,”Nggak ada perbandingan film art dan komersil. Yang ada hanya film bagus dan film jelek”. Film bagus kan nggak cuma yang art-house cinema, tapi film Korea macam The Host atau Hansel and Gretel juga bagus.

Jadi apa solusi untuk masalah ini?
Makanya perlu gerakan semacam “Jangan tonton film jelek!”. Saya lagi BT sama pernyataan Melly (Goeslaw -red) waktu bahas BBB. Kira-kira seperti ini, “Kenapa harus bikin lagu bagus-bagus? Ini industri, yang penting laku!” Aduh parah banget, ketahuan apa maunya: UUD (Ujung-Ujungnya Duit -red)!

Hahaha… Yang penting bagaimana menghasilkan uang dengan cepat. Gawat juga kalu begitu!
Nah, kalau konsumen nggak mau beli produk jelek, maka lambat laun pasar akan berubah jadi lebih baik, di industri film ataupun musik. Di musik lebih kelihatan jelas, ada Sore, The Upstairs, The Brandals, White Shoes and The Couples Company. Mereka punya pasarnya sendiri. Kalau di industri film, para filmmaker harus lebih kompak, bikin gerakan estetika. Pilihannya dua, bikin baru atau hidupkan lagi I-Sinema. Malu ah sama New Malaysian Cinema atau teman-teman di Thailand, Filipina, dan Singapura. Nggak usah bahas Tokyo, Korea atau Iran dulu deh!

I-Sinema?
I-sinema itu gerakan filmmaker, gerakan estetika. Ada 13 filmmaker, mulai dari Riri Riza, Rizal Mantovani, sampai Nayato. Tapi setelah bikin 4 film, yang terbaik adalah Eliana Eliana dan Bendera, mereka nggak jelas.

Bagaimana sih kerja seorang kritikus film, apakah mereka bergerak dan bekerja sendiri-sendiri?
Ya nggak masalah juga sih. Kritikus itu kan berlapis-lapis. Ada wartawan film, ada yang independen, ada juga yang di blog.

Mungkin karena jumlahnya yag sedikit dan tidak ada komunitas khusus kritikus film, jadinya gerakan anti film jelek tadi kurang bisa dipahami masyarakat.
Ya gerakan itu sih maunya saya, belum tentu yang lain sepakat sih. Hehehe.. PR kita banyak. Dari kritikus film, misalnya yang bekerja sebagai wartawan hiburan, mereka lebih banyak mengejar gosip-gosip artis. Ketika sampai pada resensi film, itu cuma sebatas sinopsis. Terkadang akhir filmnya dikasih tahu (spoiler).

Lalu, apa yang harus diperhatikan ketika akan mengulas sebuah film?
Yang saya dapat selama kuliah di Amsterdam, ada 3 tingkatan teori film, dan menurut saya bisa diterapkan di kritik film. Pertama, teori film awal. Dari ontologis, film dianggap sebagai sulapan atau seni. Dari sisi epistemologi, pengkajian dilihat dari sudut aspek spiritual dan vitalitas kehidupan, dari segi estetis, ia preskriptif. Pertanyaan dasarnya: Seperti apa film yang baik. Pendekatannya biasanya Impressionistik dan puitis. Jadi bagus-jelek nya masih panduan. ini yang umum dilakukan wartawan film yang baik di sini. Tapi ini level terbawah.

Lalu yang kedua?
Yang kedua, teori film modern yang secara ontologis memandang film sebagai sistem yang terstruktur dan tertutup dan berpandangan film sebagai ilusi dari realitas. Secara epistemologis, ia menilik relasi ideologis kehidupan. Dari sisi estetika, ia deskriptif. Pertanyaan basisnya: “bagaimana sebuah film menciptakan makna (tersembunyi). Pendekatan Semiotik, Psychoanalysis, Naratologi, Feminisme, dan (Post)kolonial acap dilakukan di sini, juga sistem Hollywood Klasik (Elsaesser) dan self-reflexivity.

Wah.. kompleks juga ya?
Memang.. jadi pendekatannya: “bagimana memaknai film”. Ini yang dari tadi saya maksudkan. Bagaimana memproduksi makna, bagaimana “membaca” film. Dan menurut saya, ini yang kita perlukan sekarang.

Mmm.. bagaimana dengan teori terakhir?
Yang terakhir adalah temuan Kiwari, yaitu teori film baru. Di sini, film adalah prosthesis dari tubuh dan pikiran. Ia membalik teori modern,yaitu mengupas film sebagai realitas dari ilusi. Ia membahas relasi mikropolitis, juga puisi rasa (senses) dan afek. Di Eropa, ia membahas tentang hubungan film dan ilmu syaraf, misalnya. Pertanyaan awalnya adalah: apa yang bisa dilakukan sebuah film pada saya? Apa yang membuat saya mengalami (experience) film? Pendekatan ini dilakukan oleh Sobchack dan Cavell (Phenomenology ) serta Deleuze (dwilogi Cinema, dan Schizoanalysis).

Wah.. rumit sekali ya yang ketiga, karena sudah sampai pada taraf psikologi penonton.
Ya, yang ketiga ini terlalu mewah dan belum waktunya menurut saya. Orang-orang nggak cuma nonton, tapi aktif. Film tidak dianggap sebagai hiburan belaka. tapi sebuah produk budaya. Ini yang menjadi kebijakan rumahfilm.org, yaitu film sebagai produk budaya. Bagaimana penonton “mengalami” film. Di Amsterdam, malah sudah ada kerjasama antara akademisi film dengan para pakar bedah syaraf untuk melihat reaksi otak saat melihat film.

Apakah seorang filmmaker selalu menyelipkan makna tertentu di dalam filmnya? Atau penonton sendiri yang memaknainya? Misalnya seperti metafora zombie tadi.
Bisa dua-duanya, bisa juga salah satunya. Kalau pakai teori encoding/ decoding dan representasi-nya Stuart Hall, ada 3 unsur (mirip-mirip “The Author is Dead” nya Barthes sih). Pertama adalah sutradara dengan segala macam visi, misi, pesan, niatan, dll. Kedua adalah filmnya itu sendiri. Dan ketiga, penonton. Bagaimana sebuah isu direpresentasikan dalam film. Apa yang diinginkan dan dibicarakan dalam film ini? Tentu ini berbeda dengan apa yang ingin diinginkan dan dibicarakan si pembuat film.

Kalau menurut Barthes, pembacaan yang dilakukan oleh penonton itu adalah tahapan konotasi.
Ya, bisa jadi ketemu tuh antara sutradara dan penonton. Tapi kalau beda juga nggak masalah.

Kalau berbicara tentang filmmaker Indonesia. Apakah mereka sudah memperhatikan dan memikirkan “makna” film buatan mereka? Atau mereka justru tidak mempedulikan itu karena hanya memikirkan sisi komersil?
Ya balik ke teorinya Pak Salim Said. Ada filmmaker yang idealis, yang ingin mengekspresikan pikiran, gagasan, kegelisahan. Ada juga filmmaker yang komersil, yang mengikuti pasar. Mengutip Djamaluddin Malik, bapak industri film kita, “Kalau penonton ingin India, kita kasih film gaya-gaya india!”. Nah, generasi sekarang kayaknya berupaya menggabungkan keduanya, ada yang gagal, tapi ada juga yang berhasil meskipuni nggak banyak. Tapi yaa.. bahkan film-film kacrut bisa juga dimaknai oleh penonton, kan? Kenapa ada film macam ML, DO, tentu itu menggambarkan kualitas masyarakat, dalam batas tertentu.

Mungkin itu ‘kelebihan’ film-film kacangan,maknanya sudah langsug bisa diketahui, tanpa perlu “pembacaan” lebih serius lagi.
Kemarin ikut seminar film dan sensor. Erros Djarot bilang, dia nggak marah “Lastri” dilarang FPI. Karena, salah satu jawabannya, bagaimanapun mereka menggambarkan bagian dari keterbelakangan masyarakat kita. Ada lho pengkajian khusus film-film James Bond, misalnya. Atau film-film horror Wes Craven.

Ada ya komunitasnya?
Maksud saya, ada kajiannya di buku, atau jurnal-jurnal film. Hehehe

Ooh.. saya pikir ada komunitas khusus yang rutin menggelar diskusi film.
Saya pernah bikin “Terang Boelan” untuk itu. Nanti rumahfilm.org akan ada semacam klub BF, klub baca film. Bahkan ada juga kajian khusus film-film exploitation dan cult cinema.

Nah.. cult cinema. Sebenarnya apa arti “cult“? Dan film- film seperti apa yang dikategorikan kedalam cult?
Coba cek di www.cultographies.com atau www.cultmediastudies.ning.com.

Hehe.. iya, sudah saya lihat. Tapi masih bingung dengan definisi pastinya. Apakah Indonesia punya film cult?
Banyak banget! Sebagian malah diedarkan di luar negeri dengan label Mondomacabro (www.mondomacabrodvd.com) dan Troma (www.troma.com). Tapi mereka lebih ke exploitation cinema, dan bagiku udah berstatus cult.

Dulu saya menganggap film cult itu pasti indie, dan film yang memiliki cerita yang tidak gampang dicerna otak karena mungkin terlalu.. poetic?
Ya nggak dong. Kalau yang saya baca, cult itu dibagi dua: classical dan midnight movie. Sederhananya, film cult mempunyai fans yang militan. Dan saya mengkhususkan pada yang kedua. Berbeda dengan mainstream, cult melawan arus dan dianggap bad taste, juga bertetangan dengan norma. Dan biasanya ditonton berulang-ulang, lagi dan lagi.

Mmm.. bisa saya simpulkan bahwa film cult adalah film-film yang tidak laris di pasaran?
Belum tentu tidak laris. “Lady Terminator” atau “Pembalasan Ratu Pantai Selatan” bagaimana? Lalu, film-film yang diputar di layar tancap? Aku pernah tulis soal ini di Media Indonesia. Saya menganggap tradisi midnight movie adalah layar tancap dan (dulu) drive in Ancol. Jadi kayaknya, semakin sulit suatu film didapatkan, maka semakin cult film itu. Misalnya, betapa senangnya hati saya menemukan film-film Suzanna dan Barry Prima di Pasar Festival.

Apa film-filmnya Warkop DKI juga temasuk ‘cult‘ ?
Kayaknya sih iya. Tapi masuknya ke klasik, bukan yang midnight movie. Eh, apa nggak ya? Harus diteliti lagi. Hehehe.. Tapi kalau dari militansi penonton sih iya.

Di website cultographies tadi, Titanic juga dikategorikan sebagai film ‘cult‘ karena ditonton berulang-ulang. Berarti sebuah film laris pun bisa masuk sebagai film ‘cult‘ ya asalkan menciptakan penonton fanatik dan militan, begitu?
Betul.. “Ada Apa Dengan Cinta” lama-lama juga cult tuh. Hehehe.. Bagaimana dengan “Ayat-ayat Cinta”? Kalau nonton karena alasan ideologis, memang cult. Tapi kan nggak melabrak nilai.

Ooh.. ok. Itu dari sisi satu jenis film, cult. Kalau dari sisi filmmakernya sendiri, siapa sutradara favorit Anda?
Usmar ismail, Sjumandjaya, siapa lagi ya? Banyak sih.. Ravi Bharwani, keluarga besar Makhmalbaf aku suka semuanya, Majid Majidi, Jafar Panahi, Amenabar, Innaritu, dan Del Toro.

Wah, saya terlalu banyak nonton film Hollywood sepertinya. Dari semua nama yang anda sebutkan, saya cuma ‘kenal’ Alejandro Gonzales Innaritu!
Hehehe.. saya juga suka filmmaker Neorealis Italia, khususnya Vittorio de Sica dan Roberto Rossellini. Oh ya, “Jermal” adalah salah satu film indonesia terbaik sepanjang masa.

Jermal? Saya belum nonton.
Memang baru diputar Maret 2009.

Ooh.. pantas saja. Kalau sutradara lokal generasi terkini bagaimana?
Riri Riza patut disebut juga, khususnya untuk film “Eliana Eliana”. Garin Nugroho saya juga suka. Halah banyak banget! Top 3 Sutradara favorit saya salah satunya Yasmin Ahmad. I love her ideas and all of her works!

Kemballi ke pekerjaan Anda, sebenarnya fokus rumahfilm.org sendiri mencakup apa saja?
Sampai saat ini sih masih jurnal populer tentang film. Fokusnya ke seni kepenulisan film. Tapi kami punya banyak rencana, misalnya akan ada festival film, atau diskusi dan putar film rutin, semacam itu.

Anda sendiri menjabat sebagai apa di rumahfilm.org ?
Saya sebagai redaktur.

Kesibukan lain di luar itu?
Saya juga sebagai penulis lepas di media (selalu saya unggah kok setiap dimuat), fokusnya film, tapi yang lain seperti musik bisa juga. Saya kan baru pulang dari kuliah S2 Film Studies di Amsterdam, jadi masih adaptasi lagi.

Dari dulu sudah tertarik dengan tulis menulis dan film ya?
Saya wartawan sejak 1999, dan pada 2000 masuk Astaga! dan jadi wartawan hiburan/ gaya hidup. Nah setahun kemudian, astaga.com buka kanal astaga! layar, dan sejak itu saya fokus ke film. Eh ngomong-ngomong, kamu sudah pernah baca buku-buku ku belum? Ada tuh beberapa di: www.books.google.com.

Mmm.. coba ya sebentar saya cek.
Hehehe.. jadi promosi.

Wah.. ternyata saya punya salah satu buku Anda!
Serius? Yang mana tuh?

Iya, yang judulnya “Why Not: Remaja Doyan Flsafat?” Saya beli waktu kelas 3 SMA dulu. Sewaktu lagi nyusun karya tulis. Kebetulan saya mengangkat soal budaya pop masyarakat Jakarta.
Hehehe.. itu sebagian tulisan kolomku di Tabloid Agenda.

Sekarang lagi nulis untuk media apa aja?
Tulisanku baru aja dimuat di majalah Trax, tentang band dangdut bule. Ini band orang-orang indo/indisch di Amsterdam. Mereka bikin band dangdut (pertama dan satu-satunya) di Belanda, dan merekam Inul beberapa tahun sebelum Inul rekaman dan ngetop. Nama bandnya Dangdut Bule, salah satu albumnya judulnya Belandut.

Belandut?
Belanda Dangdut.

Hahaha..
Aku wawancara orangnya, dia sekarang personel salah satu band indo-rock yang paling oke, “Tjendol Sunrise”.

Wah.. band apa lagi tuh?
Mereka anak-anak muda, ngefans sama Tielman Brothers, terus bikin homage. Mereka kolaborasi dengan Andy Tielman di album 21st First Century Rock. Aku tulis kok, dan aku unggah juga di blogku.

Mmm.. lalu apa rencana Anda ke depan?
Aku kan baru balik S2, jadi sekarang masih adaptasi gitu deh. Santai aja dulu dengan nulis lepas di berbagai media, sambil cari beasiswa lagi. Aku juga lagi garap film dokumenter soal Andy Tielman. Ini proyek pribadi.

Wah, sepertinya menarik. Meskipun saya bukan seorang penggemar Tielman Brothers. Kenapa memilih Andy Tielman, ada alasan khusus?
Berangkat dari selera pribadi. Dan kedekatan pribadi tentunya.

Ok Mas, semoga sukses dengan proyek film dokumenternya. Kabar-kabari ya kalau sudah rampung penggarapannya. Dan terimakasih banyak lho untuk ngobrol-ngobrolnya!
Sama-sama. Jangan lupa kabari juga ya kalau sudah diunggah di blogmu.

******

Info lebih lanjut seputar Ekky Imanjaya:
Facebook
Multiply
rumahfilm

  1. Salam dari negeri Belanda, Mas Ekky dan teman2 Indonesia!!

    Check out Tjendol Sunrise:

    http://www.myspace.com/tjensunrise

    And http://www.Youtube.com: just type “Tjendol Sunrise”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: