obrolankopi

Mama (Nggak Terlalu) Rock ‘n Roll: Lilin Purnamasari.

In Music on February 10, 2011 at 11:42 am

Teman Ngobrol #6:

Lilin Purnamasari/ 26 th/ Vokalis Unbroken Virgin, Mantan Manajer Caliber For The Heroes

Jakarta

 

*****

Perempuan berambut panjang ini teman sekelas saya sewaktu kuliah dulu. Saya mengambil jurusan jurnalistik, dia tertarik periklanan. Namanya memang agak janggal, Lilin, apalagi jika digabung dengan nama belakangnya, Purnamasari. Semacam pengulangan menurut saya, jadinya “terang benderang sekali” (lilin dan purnama).

Hari ini, perempuan tomboy yang identik dengan sweater garis-garis shocking pink-cokelat sedang berulang tahun. Beberapa waktu lalu saya memintanya untuk meluangkan waktu untuk sekadar mengobrol santai soal pengalamannya sebagai manajer band Caliber for The Heroes dan vokalis band Unbroken Virgin. Enyahkan segera stereotipe klasik seks dan narkoba. Meski sebentar, Lilin berhasil menyandang status sebagai Mama (Nggak terlalu) Rock ‘N Roll (ya, tandingan lagu papa-papa rock ‘n roll tersebut) bagi anak-anak asuhannya. Penasaran kenapa saya menjulukinya demikian? Simak perbincangan saya dengannya.

Oh ya, hampir lupa. Selamat ulang tahun, kawan!🙂

 

Yuk kita mulai.

*ceritanya deg-degan*

 

Hahaha.. ngobrol-ngobrol santai aja kok.

Hehe.. Ok.

 

Katanya lo pernah jadi manajer band. Nama band-nya apa?

Awalnya, gue memanajeri band Struggle Than Before. Setelah gue “cabut”, mereka ganti nama jadi Brave Heart. Nggak lama setelah itu gue jadi manajeri band Caliber For The Heroes dan Unbroken Virgin.

 

Sampai sekarang masih?

Kalau sekarang sih udah nggak sama sekali.

 

Kenapa, bosan?

Bukan, karena di Unbroken Virgin, posisi gue sekarang malah jadi vokalis. Urusan manajerial gue limpahkan ke orang lain.

 

Ngomong-ngomong, aliran band lo itu apa sih?

Dua-duanya metal, tapi kalo Caliber udah agak melenceng dari metal.

 

Cerita dong gimana awalnya lo bisa dekat dengan komunitas band-band tersebut.

Awalnya gue cuma suka dengar musiknya aja. Kemudian gue juga berteman dengan orang-orang suka jenis musik yang sama. Terus saling tukar info, ternyata kita juga punya banyak teman yang sama di lingkungan tersebut, sampai akhirnya ada band teman gue yang suka manggung di gigs kecil. Dari situ jadi tambah banyak kenalan.

 

Berarti memang sedari awal lo suka sama musiknya ya?

Iya, tapi pada dasarnya gue suka dengerin semua jenis musik. Tapi yang gue rasa mewakili diri gue ya, musik keras. Meskipun bukan metal sebenarnya, tapi lebih ke hardcore.

 

Bicara soal musik keras, gue bingung dengan mereka yang bilang baru bisa tidur kalau sambil menyetel musik metal misalnya. Kan idealnya kita butuh suasana yang tenang dan kondusif untuk bisa tidur lelap.

Hahahhahahaaa… Di waktu-waktu tertentu, musik keras itu memang pas untuk didengar dan dinikmati. Bahkan ketika mau tidur. Mungkin terdengar aneh dan gak logis, tapi faktanya memang ada yang seperti itu, ya contohnya gue sendiri.

 

Hmm.. ya itu kembali ke selera masing-masing. Kalau band metal kesukaan lo apa aja?

Gue lagi suka Cradle of Filth, Arch Enemy, dan Behemoth.

 

Ok, kembali ke soal manajer band. Pada awalnya, kenapa lo tertarik untuk jadi manajer?

Gue gak tertarik sebenarnya. Hahaha.. Saat itu gue ditawarin, gue lupa persisnya bagaimana. Tapi, dari tiga band, salah satunya sempat gue tolak untuk memanajeri. Hehe

 

Susah nggak ngurus anak band?

Susah, soalnya satu band isinya ada lima orang, lima kepala, dengan pemiiran dan ego yang berbeda-beda. Untungnya personel band gue nggak “macam-macam” dalam arti yang negatif.

 

Maksudnya?

Ya, mereka melabelkan diri mereka metal cuma sebatas di musik. Secara pribadi atau personal nggak. Caliber For The Heroes misalnya, waktu itu mereka masih sekolah dan berasal dari keluarga yang tingkat kedisiplinannya tinggi. Gue nggak cuma berperan sebagai manajer di situ, tapi juga sebagai teman, atau bahkan ibu saat mereka tur ke luar kota.

 

Maksud “metal secara personal atau pribadi” yang lo sebut tadi apa ya?

Secara umum aja sih, lebih ke atittude-nya, cara mereka berpakaian yang menunjukan kalo mereka itu anak metal. Urakan. Kalau anak-anak Caliber, sehari-harinya mereka berpakaian kasual aja. Orang yan melihatnya juga nngak akan duga kalau mereka personel band metal. Cuma di atas panggung aja mereka bergaya metal.

 

Ok, berarti lo coba bilang bahwa band ini adalah band yang hanya metal saat di panggung? Saat tur bagaimana? Kalau di film-film yang gue tonton sih, tur jalan darat itu seru banget! Hahaha.. gue keseringan nonton Almost Famous nih.

Hahaha… ya kami dulu sering tur. Seru banget! Setiap tur pakai dua mobil kijang. Lebih seru saat perjalanan. Setiap anak punya kebiasaan sendiri-sendiri. Kadang ada yang suka manja, kadang ada yang suka bercanda. Yang pasti, selalu ada hal lucu yang bikin seisi mobil ketawa.

 

Hmm.. jauh dari Almost Famous yang gue bayangkan tadi.

Karena mereka masih pada sekolah, jadi gue punya peraturan sendiri yang cukup ekstrim. Peraturan itu wajib dituruti, kalau nggak, gue ancam batal tur.

 

Kepala sekolah galak.

Hahaha..

 

Memang apa aja peraturan yang lo berlakukan saat tur?

Banyak. Misalnya nggak boleh ngomong sembarangan ketika sudah sampai di kota tujuan, nggak boleh minum minuman keras sama sekali, harus terima bawelan gue soal kapan harus minum vitamin atau suplemen untuk jaga stamina masing-masing, dan harus tetap jaga sopan santun selama tur.

 

WOW! HAHAHAHAHA..

Gue seperti itu karena gue kenal orangtua mereka masing-masing. Para orangtua juga sudah menitipkan anaknya ke gue. Hahaha…

 

Lo benar-benar menjadi “ibu” bagi mereka.

Setelah mereka semuanya kuliah, peraturan soal alkohol gue cabut. Gue rasa mereka sudah dewasa. Itupun dengan takaran yang wajar. Jangan sampai kebanyakan minum lah.

 

Itu tur band metal apa pesantren?

Hahaha… yaaaaa… gitu deh..

 

Sikap mereka bagimana, terima-terima aja?

Mereka terima-terima aja, toh nggak sulit juga sebenarnya. Sebagian dari mereka memang nggak pernah menyentuh minuman keras, ada juga yang nggak minum merokok sama sekali.

 

Agak unik ya dibandingkan band metal pada umumnya.

Seperti yang tadi gue bilang, attitude itu sangat penting untuk image band. Perjanjian awal pun sudah jelas, gue bilang ke mereka “gue mau jual musik dan skill lo, bukan kontroversi lo”.

 

Pretty bold. Tapi terkadang, “kemasan” membantu meningkatkan penjualan. Bukan berarti gue bilang kemasan yang “buruk” yang dpt membantu penjualan. Tapi pernah nggak ada orang yang meledek  band kalian karena attitude yang kelewat kalem itu?

Sebenarnya sah-sah aja mereka mau berperilaku seperti apapun, termasuk yang sangat kotroversial sekalipun. Tapi saat itu band mereka masih terbilang baru, orang lain belum banyak yang mengenal mereka. Nah gue pribadi gue ingin orang-orang tahu band mereka berdasarkan skill. Fenomena yang banyak gue lihat, band-band lebih mementingkan fashion dan bad atittude. Urusan skill nomor sekian. Kalau udah ada pengakuan band-nya bagus berdasarkan skill kan lebih membanggakan ketimbang band yang dikenal karena attitude-nya yang jelek.

 

Sepengamatan lo sebagai seorang manajer, dan sampai sekarang, bagaimana masa depan mereka sebagai sebuah band?

Caliber  terbentuk tahun 2004, dan sampai sekarang, menurut gue masa depan mereka sangat cerah apabila dibantu dengan promosi yang menunjang. Soalnya jaman sekarang, mau sebagus apapun band itu, kalau promosinya kurang bagus dan nggak inovatif, ya bakal susah mencapai targetnya. Soal skill, menurut gue mereka hampir setara dengan band Trivium.

 

Hal tersulit apa yang pernah lo hadapi selama menjadi manajer?

Promosi itu tadi. Kenapa sulit, karna kurang SDM. Setiap mau bikin merchandise, misalnya stiker, kaos, dan lain-lain, mereka pakai uang sendiri. Ada juga uang hasil manggung yang ditabung untuk bikin merchandise.


Kalau boleh tau, berapa sih honor band kalian sekali main? Ada bedanya nggak dalam kota dan luar kota?

Iya, beda. Kalau di gigs kecil sih sekitar 300 ribu deh. Kalau di acara besar biasanya justru nggak dibayar. Hahaha.. Tapi itu nggak masalah, karena kita tau siapa aja penontonnya. Itu keuntungan lebih karena kita sedang promosi gratis disitu.

 

Bayaran manggung pun terbilang impas ya sama ongkos bensin, makan, dan lain-lain?

Yup. Dulu karena masih baru, kita lebih mikir ke arah promosi, jadi dengan sendirinya kalau audience-nya suka, segalanya bisa menguntungkan. Hahaha…

 

Terus kenapa akhirnya lo banting setir jadi pesonel band?

Jadi sebenarnya begini, selain jadi manajer band, dulu gue juga punya band, namanya Before Down. Jadwal manggung sebisa mungkin nggak bentrok. Lalu gue memutuskan “cabut” dari band itu karena sudah nggak sepaham dengan yang lain. Akhirnya gue fokus jadi manajer. Kenapa akhirnya gue menjadi vokalis band metal di Unbroken Virgin, karena mereka punya masalah internal sama vokalis sebelumnya. Setiap latihan, kalau si vokalis nggak dateng, gue yang menggantikan. Begitu juga saat manggung. Karena gue semua lagu mereka, akhirnya gue yang diminta jadi vokalis tetap.

 

Katanya, untuk jadi vokalis band metal yang lo perlu lakukan adalah berteriak. Suara bagus tidak diperlukan.

Hahahahahahaaa… Salah! Setahu gue, setiap vokalis punya teknik masing-masing. Apapun genrenya. Teriak-teriak pun harus punya ciri khas biar orang lain bisa membedakan antara band yang satu dengan band yang lain, walaupun jenis musiknya sama.

 

Lebih susah mana, nyanyi lagu pop atau jadi vokalis band metal?

Kayaknya sama-sama susah. Harus pintar mengatur pernapasan. Selain itu, harus menjaga pola makan kalau mau suaranya bagus. Apalagi buat mereka yang sering bersugesti. Misalnya  kalau makan atau minum minuman tertentu, suaranya akan maksimal ketika di panggung.

 

Contohnya apa?

Kalau gue pribadi, ritual sebelum manggung setiap pagi harus minum air putih hangat terus nyanyi-nyanyi lagu pop, asal aja, biar nggak kaku. Teman gue ada yang harus minum Tolak Angin dulu 10 menit sebelum manggung. Ada juga yang harus minum Sari Asem kemasan kotak. Macam-macam lah.

 

Hahaha.. mau manggung atau ronda? Kok minum Tolak Angin segala?

Namanya juga sugesti. Kalau soal makanan, yang jadi pantangan antara lain kerupuk, gorengan, dll.

 

Tapi apa benar ampuh sugesti-sugesti itu?

Hahaha.. ya yang kayak gue bilang tadi, itu sugesti. Kalau nggak begitu, takutnya timbul kekhawatiran macam-macam. Takut suaranya jelek lah, atau yang lain-lain.

 

Dan yang Sari Asem, harus yang kemasan kotak?

Waktu itu sih iya, spesifiknya kayak begitu. Gue kelabakan nyari minuman itu. Soalnya kan belum tentu ada mini market di dekat sana. Hmm.. sama lah dengan mereka yang bersugesti harus ngedrugs dulu biar tingkat kepercayaan dirinya naik. Karena di menit-menit terakhir sebelum manggung, biasanya mereka suka drop.


Pernah nggak dapat minuman yang dicari? Efeknya bagaimana?

Intinya sih percaya diri. Harusnya dengan latihan-latihan sebelumnya, mereka sudah siap untuk manggung. Kalau sebelum manggung nggak mendapatkan minuman atau makanan tertentu, mereka jadi panik dan serba takut, dan efek-efek lain yang dapat mengganggu performa saat manggung.

 

Sejauh mana keseriusan lo sebagai vokalis band? Apakah lo akan menjadikan profesi?

Di band ini gue punya target, dan semaksimal mungkin gue berusaha untuk mencapai target itu, yaitu musik gue benar-benar bisa diakui masyarakat luas, didengar, dan diterima. Gue juga kepingin punya album, yang someday, anak gue nanti, dan bahkan cucu gue, lebih mengenal band ibu atau neneknya ketimbang The Beatles.

 

Wow! Harapan jangka panjang rupanya.

Dan juga, mungkin gue bisa menghasilkan uang dari hobi yang menyenangkan ini. Hahaha..

 

Kalau boleh memilih, lo mau sepanggung dengan siapa?

Hmm.. Godbless. Kalau boleh dua, sama Trashline. Hehehe..

 

Dari seluruh band yang pernah lo tonton, penampilan di atas panggung siapa yang paling nggak bisa lo lupakan?

Band metal yang punya ritual-ritual satanic. Kalau setiap manggung ada yang kesurupan atau minum darah binatang. Gue lupa nama band-nya.

 

WADUH!

Di Jogja ada tuh. Waktu itu ada acara di GOR setempat. Salah satu personel band lempar kemenyan dulu sebelum manggung. Setelah dibakar, asap dimana-mana. Terus, dia lempar bunga yang biasa untuk ditabur di kuburan. Waktu salah satu vokalisnya naik panggung, dia bawa satu ekor kelinci putih. Vokalis ke dua bawa silet. Sebelum nyanyi, si vokalis kedua menyilet leher kelinci dan si vokalis pertama minum darahnya!

 

EEEWWWW..!!!

Belum selesai. Setelah itu paha kelinci disobek pakai gigi dan langsung dilempar ke arah penonton.

 

ASTAGA!

Hahaha.. Sayang gue lupa nama band-nya. Penonton yang melihat biasa-biasa aja, padahal banyak anak kecil sekitar 5-6 tahun juga di sana. Mungkin karena memang itu acara musik death metal kali ya, jadi semua sudah biasa.

 

Aaaah.. udahan ah. Gue masih kebayang-bayang kelinci yang disilet..

HAHAHAHA…. Eh btw, profil lo di blog Obrolan Kopi ini “Perempuan awal 20 tahunan yang memiliki hasrat terhadap kata-kata, kopi, dan purnama”. Lo memiliki hasrat terhadap purnama? Berarti lo punya hasrat terhadap gue dong, Sar! *tertawa terpingkal pingkal*

 

*#(^$*&#*$&%)(@)!#

Hahahaha….

******

 

Mau kenal lebih dekat dengan Lilin? Hubungi dia di:
Facebook
Twitter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: