obrolankopi

Yasin: Berteman Cat dan Berkawan Kanvas.

In Art, Creative, film on March 14, 2011 at 1:11 pm

 

Teman Ngobrol #7:

Yasin/ 50-an th/ Pelukis spanduk film bioskop

Jakarta

 

*****

Awalnya saya janji bertemu dengan Pak Tirta, juragan spanduk film bioskop, di studionya di daerah Gondangdia, Jakarta Pusat. Namun setiba saya di lokasi, ia tiba-tiba membatalkan janji tanpa sebab yang jelas. Di rumah yang sangat sederhana tersebut, hanya ada seorang pelukis, dan seorang lainnya yang sedang asyik menonton televisi. Daripada pulang dengan tangan hampa, saya putar memutuskan untuk mengobrol saja dengan sang pelukis, yakni Pak Yasin.

Awalnya ia menolak untuk saya wawancara, “Buang-buang waktu saya saja!” Ia sudah malas diliput, karena menurutnya percuma. “Diliput sana-sini tapi kehidupan saya nggak berkembang,” begitu katanya dengan ketus. Ia bahkan sempat sedikit “marah” karena merasa kerjanya terganggu. Saat itu ia memang sedang menyelesaikan spanduk film Burried, film menegangkan  yang dibintangi oleh Ryan Reynolds. Karena mati gaya, saya hanya memperhatikan tangan rentanya memulas cat pada kain. Perlahan demi perlahan.

Di sela-sela ia bekerja, saya melontarkan pertanyaan tanpa terkesan sedang mewawancara. Syukurnya, ia sudi menjawab. Begitu seterusnya setiap beberapa menit sekali, hingga akhirnya obrolan kami berjalan dengan lancar selama hampir satu jam penuh. Sambil terus menyelesaikan spanduk filmnya  agar tampak sempurna, dengan logat Betawi kental, pria paruh baya ini membagi pengalaman, keluhan, serta harapannya pada profesi yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya.

 

Bapak sudah berapa lama bikin spanduk film kayak begini?

Dari tahun 90-an, jadi sekitar 20 tahunan lah.

 

Di Jakarta sendiri ada berapa banyak kelompok pelukis sih, Pak?

Dulu ada puluhan studio, soalnya orderan masih ramai! Digital print juga belum banyak. Kasarnya, dulu kami masuh bisa hampir setiap Minggu beli emas.

 

Dari setiap satu judul film, harus bikin berapa poster?

Tergantung ukuran. Kalau saya biasa bikin poster yang berukuran 2×4 m dan 4×4 m. Masing-masing satu. Ada lagi yang lebih besar, yang kayak dipajang di Metropol atau Megaria.

 

Untuk mengerjakan satu judul film, perlu berapa orang pelukis?

Ada tiga orang. Tukang gambar dua orang, termasuk saya, lalu sama yang bikin letter. Ordernya juga sedikit jadi buat apa banyak-banyak orang?

 

Memang orderan datang setiap berapa lama sekali?

Setiap minggu sudah pasti ada satu. Cuma kadang-kadang telat. Jadinya nggak pasti sebulan itu ada berapa. Soalnya kan peredarannya bergilir. Apalagi kalau masuk film Mandarin.

 

Dari bioskop apa saja?

Lebih banyak Cineplex 21, soalnya kalau Blitz lebih terbatas.

 

Waktu mulai gambar, pakai spidol dulu atau bagaimana?

Saya langsung gambar pakai kuas.

 

Wah, nggak susah tuh, Pak? Kalau salah kan repot.

Biasanya contoh poster yang dikasih, saya gambar skema kotak-kotak dulu.  Ukurannya 5-10cm. Jadi saya punya “pegangan” perbandingan ukuran.

 

Kalau kain yang dipakai jenis apa?

Kain belacu.

 

Belinya di mana?

Tanah Abang. Rata-rata yang buat poster film, pada beli di sana semua.

 

Pakai cat apa pak, keliahatannya cepat kering?

Oh.. ini pakai cat air. Dulu sih pakai cat minyak, tapi lama banget keringnya! Akhirnya diganti cat tembok.

 

Kalau kena hujan nggak luntur?

Nggak kok, nggak rontok. Aman.

 

Rata-rata habis berapa kaleng cat untuk satu judul film?

Waduh kite belum pernah ngukur jumlah cat! Saya mah kerja saja tahunya. Coba tanya Pak Tirta.

 

Satu poster bisa selesai dalam berapa hari?

Tergantung mbak, nggak tentu. Kadang-kadang sehari bisa jadi dua poster, tapi bisa juga sehari cuma jadi satu poster.

 

Oh.. tergantung susah atau nggak-nya ya?

Bukan. Kalau bagi saya sih nggak ada yang susah, sama saja. Tergantung banyak atau nggak-nya gambar. Misalnya poster film ini (Pak Yasin sedang mengerjakan poster film Burried -red), gambarnya sedikit. Saya bisa selesai dalam waktu setengah hari.

 

Dulu bisa ngerjain spanduk film, bagaimana ceritanya?

Ikut-ikut teman saja. Ngak belajar di mana-mana. Awalnya saya nggak langsung gambar, tapi bertahap. Pertama bikin background,ngeletter (membuat teks -red), lalu baru bikin gambar.

 

Oh ada bagian-bagiannya?

Ya ada. Tukang background sama kayak yang bikin letter. Kalau saya gambar doang. Tapi yah.. sekarang orang lebih banyak pakai digital.

 

Tapi kan digital print mahal pak.

Siapa bilang digital mahal? Murah! Bedanya nggak jauh. Cuma sekitar Rp 100.000,-.

 

Masa? Memang berapa harganya?

Pak Tirta yang tahu. Dulu memang bedanya bisa sampai Rp 400.000,- antara poster manual dan digital. Kalau sekarang bedanya nggak jauh. Ya orang-orang pada lari ke digital! Lebih cepat, tinggal ditemplokin doang. Udah pasti persis hasil akhirnya. Apalagi kalau bintangnya top.

 

Pernah dikomplain gara-gara nggak mirip?

Ya pernah, karena nggak mirip terus spanduknya dipulangin lagi untuk diubah jadi lebih mirip. Kan habis kita kirim, langsung dicek dulu sama mereka. Kalau nggak mirip dipulangin. Pernah juga salah huruf. Dipulangin, dan disuruh betulin lagi.

 

Yang mengecek orang Cineplex 21, pak?

Oh iye.. Mereka yang punya order. Mereka yang punya wewenang. Apalagi kalau (film) yang mainnya bintang-bintang top, mereka bener-bener memperhatikan.

 

Sebelum digital masuk, tahun berapa masa-masa kejayaan spanduk film?

Hmm.. sekitar tahun ’80 s/d  ’90-an.

 

Terus mulai merosot sekitar tahun berapa?

Yaa.. semenjak film nasional juga turun. Lalu film mandarin juga ikut turun. Kalau film barat tergolong stabil. Nah, sekarang film nasional mulai bangkit lagi.

 

Antara harga poster film nasional dan barat, mana yang lebih mahal?

Kalau poster film barat, monoton. Harganya ya segitu-segitu saja. Kalau poster film lokal masih bisa nego. Apalagi sekarang banyak perusahaan film yang baru. Kita masih bisa minta naik harganya.

 

Bapak masih terima tawaran di luar melukis spanduk film? Misalnya lukis foto atau yang lain.

Ya bisa saja. Saya kadang-kadang terima orderan lukis foto, tapi nggak sering.

 

Pernah dapat tawaran gambar tembok jalan? Biasanya kan suka digambari pesan-pesan Polantas.

Kalau itu beda lagi. Pelukis-pelukis itu lebih lumayan pendapatannya. Hari Minggu besok tanggal 19 (Desember -red) saya diajak melukis gambar-gambar pahlawan di Lapangan Sumantri Brojonegoro. Yang ikut banyak, ada orang-orang spanduk film dan pelukis jalanan. Mungkin koordinatornya anak-anak pahlawan.

 

Nantinya, apa ada yang akan meneruskan profesi Pak Yasin dan teman-teman?

Nggak ada, mbak. Generasi sekarang sudah pada nggak mau!

 

Nggak mau bagaimana pak? Atau memang karena nggak ada yang ngajarin?

Bukan begitu, mereka (pelukis senior -red) juga nggak mau nerjunin anaknya jadi pelukis spanduk film. Kalau dulu ya banyak, karena masih bisa diandalkan untuk cari duit. Kalau sekarang sudah nggak bisa lagi.

 

Bisa habis dong pak!

Ya bagaimana lagi. Memang sudah nggak bisa diandalkan. Pihak 21 sendiri kemungkinan nanti akan beralih ke digital. Dulu dibandingkan tukang bangunan, pendapatan kami masih jauh lebih besar! Kalau sekarang, masih lebih gede penghasilan mereka!

 

Apakah peraturan baru soal bea impor film ikut mempengaruhi bapak dan teman-teman pelukis spanduk film lainnya?

Ada, mbak! Kita sekarang sudah nggak mengerjakan film-film kiriman MPA (Motion Picture Association -red) lagi. Kebanyakan yang kita kerjakan sekarang film-film independen. Ada juga film-film Mandarin. Kayak film terbarunya Chow Yun Fat nih.

 

Pengaruhnya terhadap pendapatan bapak?

Lumayan lah. Berkurang setengahnya ada kali.

 

Lalu, apa rencana bapak selanjutnya?

Saya mah tungguin saja nih sampai kapan habisnya. Sekarang saya juga nyambi usaha sablon untuk karung. Saya sudah telanjur terjun di bidang ini.  Meskipun hasilnya kecil, alhamdulillah masih saja ada kerjaannya setiap minggu.

 

*****

 

 

 

*Catatan penulis

Tulisan ini merupakan versi lengkap dari hasil wawancara dengan Pak Yasin yang saya lakukan pada bulan Desember 2010. Pertanyaan mengenai regulasi baru bea impor film, saya tanyakan kemudian setelah isu itu merebak. Sebelumnya, versi singkat pernah dimuat di majalah Esquire Indonesia edisi Maret 2011 dalam sebuah essay fotografi bertema profesi yang hampir tergerus zaman akibat kemajuan teknologi, bersama dua orang lainnya, yakni Pak Sumirin (pemilik wartel) dan Pak Suprihatin (pengantar surat).

Pak Yasin sudah mengizinkan saya untuk memberikan no telepon beliau jika ada orang membutuhkan jasanya untuk membuat lukisan. Silakan hubungi saya di d.elsara[at]yahoo[dot]com, dan dengan senang hati saya akan memberikannya.

  1. Salam.
    Barangkali saya bisa dapat nomor kontak pak Yasin, atau ada nomor pelukis poster yang lain?
    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: